![]() |
H. DA. Sholahudin |
Oleh : H. DA. Sholahudin
Khidmat di Nahdlatul Ulama itu hakekatnya khidmat kepada jamaah, warga nahdliyin, namun nampaknya ini belum banyak dilakukan oleh struktural NU; kecuali untuk kebutuhan kontestasi politik semata.
Padahal, jika potensi warga nahdliyin di berbagai bidang ini digerakkan; yakin, NU bisa mandiri secara jam'iyah dan jamaah. Persoalannya, kita tak pernah serius menapaki jalan ini.
Banyak pengurus NU lebih asyik ngunduh dana APBD, APBN atau Jasmas anggota Dewan.
Kekuatan NU bukan pada modal finansial atau kekuasaan politik semata, melainkan pada jumlah jamaah yang sangat besar. Tanpa jamaah, program kerja organisasi tidak akan memiliki dampak nyata.
Jumlah jamaah NU bukan sekadar angka, melainkan kumpulan individu dengan beragam keahlian—mulai dari petani, pedagang, hingga profesional dan akademisi. Mengelola potensi ini berarti menggerakkan roda ekonomi, sosial, dan pendidikan secara mandiri.
Dengan jamaah yang solid, tentunya NU dapat membangun kemandirian melalui gerakan ZISWAF. Potensi ekonomi jamaah mampu membiayai rumah sakit, sekolah, dan fasilitas umat tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pihak luar, termasuk pemerintah.
Yang berpikir seperti ini di elite NU tidaklah banyak. Yang paling banyak justru pikiran bagaimana merebut kekuasaan di struktur NU diberbagai tingkatan mulai PCNU hingga PBNU, bagaimana peroleh jabatan komisaris atau eksekutif melalui NU, bagaimana meraup dana proyek APBD atau APBN milyaran bahkan trilyunan, atau kongsi ekonomi dengan negara walau itu melukai sebagian besar jamaah.(aha).
