Featured

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 04 November 2019

Mungkinkan Pilkades tanpa Money Politik, Pemuda Jombang ini punya jurus jitunya.

Mas Ivan, pakai sweater

www.bherenk.com Jombang,
Ivan, pemuda berperawakan ramping namun nyentrik ini terlahir dari keluarga sederhana namun sangat religius,  usianya masih tergolong sangat muda dibanding empat competitor yang maju pada Pilkdes tahun ini di desanya.

Jebolan pesantren ini aktif mengikuti kegiatan organisasi di tingkat kampung, kecamatan bahkan kabupaten. 

Meskipun masih
belia mas Ivan panggilan akrab dari Faisal Ivan Basthomy ini banyak pengalaman, visioner, supel dengan semua warga, dia pandai bergaul, dengan orang tua sangat sopan, dengan anak anak muda dia bisa ngemong ucap pak Saiful tokoh di kampungnya yaitu desa Ploso Kec. Ploso Kab. Jombang.

Segudang pengalaman yang dia miliki itulah yang membuat banyak tokoh masyarakat berharap dia mau mencalonkan diri sebagai kepala desa. Masyarakat berharap desanya makmur dan sejahtera.  Dorongan dan keinginan masyarakat itu tidak langsung ia terima, ada syarat yang dia ajukan. Bahwa dia mau maju sebagai calon kepala desa namun harus dengan tanpa memberi uang kepada pemilih atau istilahnya tanpa Money Politik, urai pak Saiful.

Dengan program kerja yang mas Ivan sampaikan banyak warga yang berkeyakinan bahwa dialah orang yang tepat untuk memimpin desanya saat ini. Pemerataan pembanguan di tiap RW, membuka lapangan pekerjaan, fokus sektor pertanian, gratis Pajak Bumi dan bangunan program kerja yang sangat mengena dengan warga masyarakat.

Dengan niat membangun dan mengabdi pada masyarakat desa,  akhirnya Ivan maju dan mendaftarkan diri sebagai calon kepala desa yang coblosannyq  akan dilaksanakan pada tanggal 04 Nopember 2019 serentak se kabupaten Jombang. Dukungan serta support masyarakat baik materiil maupun spirituil terus mengalir,  berdatangan dari lima dusun yang ada di desanya.

Hingga H-1 warga masih berduyun duyun mendatangi kediaman Ivan hingga larut malam sambil bawa makanan, snack, buah buahan bahkan kadang bawa nasi, kopi, gula, minuman gelas itu banyak sekali, hal seperti ini setiap hari hampir dua bulan ini, kami tidak menyangka sekali support dan kepedulian masyarakat sangat besar.

Salah satu warga yang ditanya mengapa mau memilih mas Ivan padahal tidak memberi/menjanjikan uang atau barang sama sekali, saya hanya ingin desa ini lebih makmur dan sejahtera yang dipimpin oleh orang yang amanah dan adil, jawab salah satu warga.

Baru kali ini saya menemukan jawaban dari wajah-wajah tulus dari sekian kontestasi pemilu, pilkada, pilbub, pileg, pilpres bahkan pilkades yang ada di tempat atau desa lain kata AH. Hamdah pemerhati sosial kemasyarakatan dari Arrahmah Center Jombang.

Hal ini adalah salah satu ikhtiar putra desa dalam berjuang membangun desanya. Karena jika tidak diawali dengan niatan yang baik mustahil pembangunan desa akan bisa berjalan dengan yang diharapkan masyarakat, apalagi dalam pelaksanaan Pilkades itu biayanya besar sekali tiap desa, sebanyak 286 desa se Jombang akan pilihan kepala desa serentak, sebanyak  791 calon kades akan beradu nasib, sebanyak 226 kades petahana maju lagi termasuk di desanya mas Ivan.

Kalau jadi kepala desa namun dengan modal besar maka niscaya nantinya hanya mikir bagaimana mengembalikan modal itu, tentunya bisa didapat hanya dengan menyunat atau korupsi pada dana-dana yang ada di desa, yang ujung ujungnya warga masyarakat yang rugi, jelas Hamid.

Syukurlah  Minimal mas Ivan sudah mampu merubah mindset masyarakat yang biasanya kemaruk uang, kalau ada uang ya saya pilih, kalau uang nya lebih banyak itu pilihan saya dll, itu biasanya jawaban dari masyarakat.

Namun warga Ploso saat ini mau mengesampingkan hal itu karena ingin ada perubahan. Kalau tidak saat kapan lagi kita mulai untuk tidak menggunakan uang sebagai alat penggoda iman agar memilih calon, hal inilah yang menyebabkan korupsi tidak bisa dibasmi di Indonesia maka semoga hal ini bisa dicontoh kedepannya bagi calon-calon kepala desa, calon legilslatif, calon bupati, calon gubernur, calon presiden agar mau menghindari money politik.

Semoga ikhtiar dari mas Ivan tercatat sebagai amal yang sholeh, jika ditakdirkan jadi kepala desa alhamdulillah nggak jadi pun ya tetap alhamdulillah, tidak ada beban.

Minggu, 08 September 2019

KENAPA WAHABI DAN HTI MEMUSUHI NU

Dewasa ini yang menjadi tantangan bagi warga NU adalah maraknya aliran-aliran baru yang menyimpang dari ajaran ahlussunnah wal jama’ah.

Aliran-aliran tersebut seperti, Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA), Syi’ah, Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Salafi Wahabi, dan Hizbut Tahrir (HTI).

 Dari beberapa kelompak dan aliran ini, ajaran amaliahnya jauh berbeda dengan apa yang selama ini menjadi tradisi di kalangan warga nahdliyin. Bahkan mereka memvonis akidah amaliah warga NU seperti, tahlilan, yasinan, shalawatan, adalah perbuatan bid’ah, dan diharamkan melakukannya.

Melalui buku “Benteng Ahlusunnah Wal Jama’ah”, Menolak Faham Salafi, Wahabi, MTA, LDII, dan Hizbut Tahrir yang ditulis oleh Nur Hidayat Muhammad ini, kita bisa mengenali seperti apa kondisi aliran tersebut yang saat ini telah berkembang  di Indonesia, baik dari segi proses kelahirannya maupun sikap mereka terhadap para ulama. Kita tahu gerakan-gerakan mereka hanya berbekal dalil sekenanya saja, mereka mengklaim telah memahami ajaran Rasulullah dengan semurni-murninya, padahal dalilnya adalah palsu dan tidak rasional. 

Mereka  sebenarnyatidak memahami isi al-Qur’an dan hadits, apalagi hingga menafsirkannya. 

Munculnya beberapa aliran seperti, Salafi Wahabi dan Hizbut Tahrir di Indonesia bukanlah mendamaikan umat Islam justru perpecahan yang terjadi dikalangan umat Islam. Islam melarang melakukan perbuatan kekerasan dan perpecahan, Islam adalah agama yang ramah, santun, yang menjunjung perdamaian, persaudaraan antar sesama. Salafi Wahabi adalah kelompok yang mengusung misi modernisasi agama dan perintisnya adalah Muhammad bin Abdil Wahhab di Nejd. Beliau adalah pengikut madzhab Imam Ahmad, akan tetapi dalam berakidah beliau mengikuti Ibnu Taimiyah.

Ajaran Salafi Wahabi adalah, mengkafirkan sufi Ibnu Arabi, Abu Yazid al-Bustani. Mudah mengkafirkan muslim lain. Memvonis sesat kitab “Aqidatul Awam, dan Qashidah Burdah. Mengkafirkan dan menganggap sesat pengikut Mazdhab Asy’ari dan Maturidiyyah. Merubah beberapa bab kitab-kitab ulama klasik, seperti kitab al-Adzkar an-Nawawi. Mereka menolak perayaan Maulid Nabi Muhammad karena menganggap acara tersebut sebagai acara bid’ah, dan perbuatan bid’ah menurut mereka adalah sesat semuanya. mereka menilai acara yasinan tahlilan adalah ritual bi’ah, padahal kedua amalan tersebut tidak bisa dikatakan melanggar syari’at, karena secara umum bacaan dalam susunan tahlil ada dalil-dalilnya baik dari al-Qur’an dan al-Hadits seperti yang sudah disampaikan oleh para ulama-ulama terdahulu. Dan mereka menolak kitab “Ihya’ Ulumuddin” karya Imam al-Ghazali (hal.24-25).

Aliran dan gerakan yang akhir-akhir ini berkembang di Indonesia, adalah Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir sebetulnya adalah nama gerakan atau harakah Islamiyyah di Palestina dan bukan sebuah aliran, atau lembaga strudi ilmiyah, atau lembaga sosial. Mereka hanyalah organisasi politik yang berideologi Islam dan berjuang untuk membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan, membebaskan umat dari ide-ide dan undang-undang kufur, membebaskan mereka dari cengkeraman-cengkeraman dominasi negara-negara kafir dan mendirikan kembali sistem khilafah dan menegakkan hukum Allah dalam realita kehidupan.

Gerakan yang muncul pertama kali di Quds Palestina ini, selain mengusung konsep khilafah kubra, juga menolak sistem pemerintahan demokrasi yang dianut sebagian besar negara di dunia. Tujuan besar mereka adalah memulai kehidupan Islami dengan cara menancapkan tonggak-tonggak Islam di bumi Arab baru kemudian merambah khilafah Islamiyah (hal.33).

Adapun konsep mazdhab Hizbut Tahrir adalah, ingkar akan kebenaran dan adzab kubur. Membolehkan mencium wanita bukan istri baik dengan syahwat atau tidak. Tidak percaya akan munculnya Dajjal diakhir zaman. Hadits ahad tidak boleh dijadikan dalil dalam akidah. Dan membolehkan negara Islam menyerahkan pajak kepada negara kafir.

Dengan membaca buku ini anda akan diajak untuk mengenali beberapa aliran yang ada di Indonesia serta aspek-aspek kesesatannya yang telah menyimpang dari ajaran ahlussunnah wal jama’ah. Buku ini terdiri dari tiga bab pertama, menjelaskan aliran-aliran yang berkembang di Indonesia seperti, Ahmadiyah, LDII, MTA, Ingkar Sunnah, Salafi Wahabi, Syi’ah, HTI, Muhammadiyyah, dan Ahlusunnah Wajjama’ah. Kedua, membantah tuduhan wahabi dan MTA. Ketiga, tanya jawab seputar tarekat sufi, sebagai penegas amaliah tarekat sufi yang tidak bertentangan dengan syari’at. Buku ini diharapkan sebagai benteng warga NU dari serangan aliran-aliran dan faham yang saat ini marak dan berbeda dengan mayoritas umat Islam pada umumnya.

Minggu, 25 Agustus 2019

POLITIK UANG DALAM PILKADES, SIAPA YANG SALAH?




Oleh : AH. Hamdah*


Gelaran Pilkades serentak kabupaten Jombang sudah pada tahap pendaftaran calon kepala desa, hiruk pikuknya sudah mewarnai semua desa. Pada 04 Nopember 2019 nanti sebanyak 287 desa akan melaksanakan hajatan 6 tahunan ini.

Pilkades merupakan salah satu bentuk pesta demokrasi di tingkat paling bawah. Pemilu tingkat desa ini merupakan ajang kompetisi politik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Pilkades terasa lebih spesifik dari pemilu-pemilu di tingkat atasnya sebab kedekatan emosional dan keterkaitan secara langsung antara pemilih dan para calon. Sehingga, suhu politik  dan gesekannya sering kali lebih terasa daripada saat pemilu pemilu lainnya.

Pilkades merupakan bagian dari proses kegiatan politik untuk memperkuat partisipasi masyarakat dengan harapkan akan terjadi perubahan yang signifikan di tingkat desa.

Tantangan mewujudkan demokrasi desa jelas bukan main-main. Pasalnya dengan pemberian dana desa sebesar Rp 1 miliar bahkan bisa lebih per desa per tahun dari pemerintah pusat, memerlukan adanya birokrasi desa yang bersih,  berintegritas dan profesional.

Besarnya modal untuk menjadi kepala desa masih dijadikan ukuran seseorang jadi tidaknya kepala desa. Semakin besar modal yang disiapkan maka kans atau peluang seseorang akan semakin besar untuk jadi kepala desa. Masih tingginya harapan masyarakat untuk diberi "amplop" dari calon kepala desa semakin sulit menepis tudingan adanya main uang untuk bisa memenangi pilkades, kalau tidak memberi uang maka ya tidak dipilih, begitulah kira kira fenomena yang berkembang di masyatakat.

Faktor modal yang besar untuk menjadi kepala desa inilah sehingga banyak desa yang terlihat tidak produktif terkesan stagnan padahal desanya banyak kucuran anggaran dari pusat. Dana 1 milyar lebih per tahun tidak mampu digunakan dengan optimal malah diduga banyak kebocoran sehingga berurusan dengan pihak kepolisian, kejaksaan atau KPK.

Secara rasional kepala desa yang saat mencalonkan kepala desa bermodal besar maka saat jadi kepala desa dia hanya akan sibuk menghimpun cara bagaimana bisa mengembalikan modal yang telah dikeluarkan, bisa dengan cara menyunat ADD atau DD lah, minta upeti saat pemilihan perangkat desa, minta jatah saat jual beli tanah, meminta imbalan saat warga mengurus surat surat, menyunat dana dari program pemerintah lainnya dll banyak ragam dan taktik yang bisa digunakan kepala desa untuk mengambil keuntungan karena merasa dulu saat mencalonkan kepala desa bermodalkan besar.

Maka akan menjadi maklum jika kepala desa yang harusnya mempunyai konsep membangun desa dan mensejahterakan masyarakat menjadi abai dan lalai. Lalu apa yang bisa dibanggakan jika jadi kepala desa namun dengan bermodalkan dana yang besar?  Yang ujung ujung dia akan menghabiskan uang rakyat, wajah desa tetap seperti tahun tahun sebelumnya tidak ada perubahan yang signifikan padahal dana desa kucuran dari pemerintah pusat jumlahanya milyaran.

Menghindari politik uang dalam setiap moment kontestasi pemilu begitu sulit, pun demikiatn dengan Pilkades. Saya belum pernah dengar ada seorang kepala desa bisa terpilih tanpa bagi bagi uang atau barang, rata rata mereka memberikan uang dengan bahasa buat transport lah atau buat ganti ongkos libur kerja lah, baik itu uangnya sendiri maupun uangnya dari botoh (donatur). Kami menilai hal ini terjadi dikarenakan sudah menjadi tradisi, serta dianggap sebuah kelaziman.

Meskipun modalnya bukan dari calon kepala desa sendiri namun dari orang lain misalnya maka suatu saat yang memberikan atau meminjamkan modal itu bisa menjadi penghalang untuk membangun desa yang baik, pemodal akan mengkooptasi kepala desa yang sekiranya program desa tidak menguntungkan pihak pemodal.

Masyarakat sebagai pemilih dan calon kepala desa sebagai yang dipilih sama sama berperan untuk disalahkan. Perlu adanya perubahan mindset secara sporadis, pola pikirnya harus dirubah mustinya keduanya (pemilih dan yang dipilih) harus berani berkomitmen untuk mengatakan tidak pada money politik, sehingga keinginan berdemokrasi yang bersih bisa diwujudkan bukan hanya lips service belaka.

Idealnya untuk menjadi calon kepala desa  harusnya punya modal utama yaitu kejujuran, berakhlak yang baik, mampu berkomunikasi, memahami managemen kepemimpinan, punya karakter building, mau berjuang dan berkorban, tidak hanya mengandalkan modal financial, sehingga harapan menjadikan desa lebih makmur bisa dicapai.

Hal itu bisa di ilustrasikan bahwa saat ini banyak orang berkoar anti money politik, bersihkan koruptor, perangi korupsi, hindari KKN itu hal yang bulshit dan hanya retorika belaka, harus nya ungkapan seperti itu  harus dilandasi yang kuat, nyatakan di depan khalayak masyarakat disertai komitmen yang kongkrit

Kami berharap semua komponen yang terlibat dalam pilkades ikut berpartisipasi mendukung Pilkades bersih dengan cara ;

1. Masyarakat sebagai pemilih harus menolak pemberian dalam bentuk apapun baik uang atau barang dari cakades (calon kepala desa).

2. Cakades sebagai yang dipilih harus berjanji dengan lisannya dihadapan masyarakat tidak akan memberikan uang atau barang kepada pemilih baik dengan uangnya sendiri maupun dari uang orang lain (botoh/pemodal), serta berjanji jika terpilih sebagai kepala desa akan amanah serta akan berjuang dan berkorban demi masyarakat.

3. Panitia sebagai penyelenggara pilkades  harus berrjanji akan amanah dan fair tidak memihak cakades siapapun.

4. Camat dan Bupati sebagai atasan pun juga harus berjanji tidak akan mengkondisikan calon tertentu dengan kekuasaan yang mereka miliki.

Dengan demikian insyaAllah tradisi dan budaya money politik mampu dikikis sehingga birokrasi yang bersih akan bisa terwujud, masyarakat semakin sejahtera karena memiliki kepala desa yang bersih dan amanah, kedepannya mampu memberikan motivasi serta contoh untuk pemilihan pemilihan lainnya seperti Pilbub, Pilgub, Pileg dan Pilpres yang bersih tanpa politik uang sehingga konsep baldatun thoyyibatun warobbun ghofur negara yang gemah ripah lohjinawi bisa nyata adanya, amin.

Kalau tidak dimulai hari ini kapan lagi..!!?


* Pegiat di Arrahmah Center Jombang, tinggal di wilayah Kudu Kombang



#Artikel ini sudah pernah terbit di media Jurnal Jatim, link; https://www.jurnaljatim.com/2019/08/pilkades-bersih-sebuah-harapan-atau-sekedar-lips-service/

Kamis, 22 Agustus 2019

HUKUM HEWAN QURBAN DITEMBAK

Oleh : Ustadz Rojim RA

Saat lailatul jtima'  pengajian rutin Ranting NU Candimulyo edisi 86 di Musola Al Arsy, Sidobayan, Kamis (15/8/2019), ada jamaah yang tanya. Bagaimana hukum hewan kurban yang ngamuk sehingga harus ditembak dulu baru disembelih?

 Wakil Rois Syuriah PCNU Jombang, KH M Soleh, menjawab, syarat hewan kurban tak boleh cacat.

Ketika hewan kurban yang mau disembelih dijatuhkan. Pas menjatuhkannya sampai menyebabkan cacat, maka tidak sah sebagai kurban. "Harus hati-hati. Kalau menjatuhkan jangan sampai mengakibatkan cacat," ucapnya.

Tembakan tadi juga demikian. "Kalau mengakibatkan cacat, tidak sah sebagai kurban."

Konsekuensinya, kalau itu kurban wajib karena nadzar, maka harus diulang tahun depan.

Kiai Soleh menggarisbawahi, tak boleh cacat ini syarat hewan kurban. Kalau untuk halalnya daging, hewan yang ditembak lalu disembelih tadi tetep halal. "Dagingnya dibuat sedekah juga tetap boleh," tegasnya.

Mugi Allah paring kita saget qurban setiap tahun.

Monggo rawuh lailatul ijtima pengajian rutin Ranting NU Candimulyo edisi 87 di Masjid Ar Rohman Candi Indah, Kamis (22/8/2019).

PRIHAL KEJUMUDAN DAN STUDI ISLAM


Oleh Aguk Irawan MN

Akhir-akhir ini situasi sosial benar-benar kurang kondusif. Seorang ustad dianggap telah ”melukai” jemaat Gereja. Begitu sebaliknya, seorang Pendeta dianggap telah ”melukai” jamaah Masjid. Lalu di Medsos, orang perang pasal hukum penodaan agama dan kata-kata kebencian. Tetapi, lebih dari itu, belum lupa ingatan kita, akan berita kekerasan, bahkan terjadi  sesama saudara ”muslim.”Salah satunya, sebutlah pembakaran sebuah pesantren di Sampang oleh sekelompok massa-Islam, yang kabarnya, pesantren itu dibakar hanya lantaran disinyalir mengikuti ajaran Syiah.

Bahkan, jauh sebelum itu, berita kekerasan sudah terlampau biasa ketika dialamatkan pada sekelompok pengikut ajaran Ahmadiyah. Sungguh —berita kekerasan demi kekerasan seperti itu lenyap begitu saja dari perhatian saya, tetapi setelah merenung, kami menemukan sejumlah kata kunci dari karakter pemikiran filsafat kontemporer yang barangkali bisa sebagai pil pahit atas situasi ini, seperti adanya istilah; 'defecit of truth', 'assertion', 'habit of mind', ' method of tenacity', 'inquiry-investigation'.

Istilah-istilah seperti itu bisa menghadang kejadian ganjil itu. Sayup-sayup saya merasa seperti terkena sabetan sebuah pisau yang tajam, kemudian berdarah dan melukai dada saya. Sambil terkapar saya berpikir; rasanya ada yang tertikam dari cara kebegaramaan kita. Ada yang hendak mencoba merebut 'makna' kebenaran hanya menjadi milik kelompoknya saja. Dengan cara memaksa, apapun itu  resikonya. Ada suatu lobang yang menganga dan belum coba ditambal dengan rapat oleh bangku pendidikan-Islam kita.

Kini, terlanjur menjadi sebuah mimpi yang paling buruk; kejumudan berpikir, kejumudan bertindak, kejumudan beragama, dan kejumudan lainnya, sehingga orang jadi enggan, bahkan mungkin 'tak sudi' menerima 'the others' sebagai realitas dari hidup kita yang beraneka.Anehnya, kebanyakan dari kita, cenderung membiarkan peristiwa demi peristiwa yang memilukan dan nyeri itu terus terjadi. Sebagai hal yang terlalu lumrah ada di depan mata kita.

Bahkan, ada yang menganggap kekerasan seperti itu sebagai jalan menuju kebaikan dan kebenaran atas nama Tuhan. Sungguh, di tengah majemuknya filsafat postmodernisme, yang telah mengangkat dunia Barat (Amerika) telah setapak lebih maju dan beradab. Mayoritas dari kita masih nampak begitu limbung dan linglung, karena diam-diam telah menyimpan teologi kekerasan sebagai daya pikat yang magis untuk Islam kita. Islam, yang sebanarnya adalah rahmatan lil alamin.

Ada yang mengatakan, cara kekerasan seperti tersebut sengaja dipilih, adalah demi suatu amar ma'ruf dan nahi mungkar. Ada yang mengatakan, demi keberlangsungan din al-hanif. Ada yang mengatakan, demi terlindunginya umat dari ajaran sesat. Ada lagi yang mengatakan sebagai 'jihad' melawan kebatilan. Karena itu, mesti harus dilakukan dan wajib peduli. Lihatlah betapa banyak tangan yang dikepalkan, jari telunjuk yang diacung-acungkan ke langit, dan bibir mereka bergerak dengan menyebut-nyebut kalimat Jalalah; Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Sungguh, andaikan mereka membaca dan tahu apa saran Lieven Boeve dalam The Particularity of Relegious Truth Claims, atau menyimak dengan baik teori inevestigasi-kebenaran model Charles Peirce dalam How I Make our Ideas Clear atau membedah pikiran antropologi-agama Talal As'ad dalam Geneologies of Relegion. Mungkin mereka ini akan tertohok dan malu. Karena disitulah mayoritas dari kita seperti sedang bercermin dan melihat rupa buruk kita: 'intoleransi', sebagaimana dahulu kebanyakan orang Barat-Kristiani hidup di abad Medieval.

Contoh intoleransi itu, dalam bahasa Charles Peirce, punya alasannya sendiri, yaitu karena mereka malas melakukan prosedur ilmiah (rasional) dalam segala tindakan dan keyakinannya. Peirce mengklasifikasikan mereka sebagai orang yang cenderung jumud atau ‘a priori’, padahal sebagai metode, ‘a priori’ dituntut menghadirkan rasionalitas (Milton K. Munitz, Contemporery Analitic Philosopy. New York; Macmilan Publishing Co. Inc. 1981, hal. 40).

 Sementara Talal As’ad, sebagai antropolog-agama, metengarai; bahwa penolakan terhadap kebenaran di luar dirinya itu karena mereka tidak mencoba membuka diri untuk dinamis dan terlibat di luar dunianya, jadi formulasi pemaknaan terhadap kebenaran yang sangat subyektif dan fanatik itu harus diatasi dengan merunut ke agar geniologi-antropoliginya. Karena menurutnya, pemaknaan agama sejatinya bersifat ’spatio-temporal. (Talal As’ad, Geneologies of Relegion (London;The John Hopkins University Press, 1993, hal. 53)

Selain dialektika antropologi model Talal. Lieven Boeve mencoba mencari solusi dari ruang buntu itu. Teori ’deficit of truth’ ia gunakan untuk memeriksa kebenaran-kebenaran partikular yang terdapat pada kelompok pemeluk agama-agama. Menurutnya, setiap agama menyimpan kebenaran yang partikular, dan kebenaran universal terdapat pada kesatu-paduan (contingent) dari masing-masing kebenaran tersebut. Apabila satu agama menganggap dirinya sendiri sebagai pemegang kebenaran secara mutlak, maka saat itulah defisit kebenaran terjadi.

Menurutnya lagi, tidak boleh tidak, sejarah kebenaran teologis harus selalu diperiksa ulang dan dilakukan rekontektualisasi (recontextualization), hingga betul-betul menjadi lebih terpercaya. (Lieven Boeve, “The Particularity of Religious Truth Claims: How to Deal With It In A So-Called Post-Modern Context”, dalam Truth: Interdisciplinary Dialogues In A Pluralist Age, editor. Christine Helmer dan Kristin De Troyer, Peeters: Leuven-Paris-Dudley, 2003, hal.193).

Barangkali analisa ini bisa kita gunakan pada ranah yang lebih mikro, yaitu kelompok pemeluk Islam sendiri. Sebab kenyataannya, terma kafir, murtad, sesat dan justifikasi negatif semacamnya masih sering mendengung di telinga kita. Di era postmo ini!

Benih-Benih Kejumudan

Peristiwanya masih hangat. Belum terlalu lama dari momentum tahun baru. Sehabis shalat Isya, seperti biasanya tiap Malam Kamis, saya terkadang menyimak pengajian dari seorang Kiai. Beliau membaca kitab Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin, karangan Syaikh Salim bin Ied Al Hilali. Setelah bab salam selesai dibacakan, salah satu jama’ah ada yang memberanikan diri bertanya; Kiai, bagaimana hukumnya menjawab salam dari saudara kita yang non-muslim? Kiai itu tanpa sedikitpun ragu menjawab; haram hukumnya! Katakan pada mereka, seperti inilah ajaran Islam kami!.

Dalam hati, benarkah begitu Kiai? Saya kemudian meraba sendiri jawabnya: Sang kiyai menjawab seperti itu, karena ia alpa membaca antropologi dan sejarah. Dari sinilah saya seperti disadarkan pada Charles Pierce, Talal As’ad, Paul Tillich, Habermas dan tentu saja Wittgenstein, bahwa pembacaan teks tak bisa dibiarkan sendirian, sebab disana ada peran lain yang tak kalah pentingnya; pergulatan bahasa, ruang, simbol, sejarah dan antropologi.

Cerita seperti ini, tentu bisa ditarik lebih panjang. Misalnya kita kaitkan pada prosedur pengajaran ulumuddin (agama Islam) di hampir semua pesantren, perguruan Tinggi Islam, baik swasta maupun negeri, seperti IAIN/UIN dan pengajian-pengajian umum. Tentu cerita itu tak akan jauh berbeda dari temuan saya. Betapa mirisnya! Bangku pendidikan Islam kita ternyata lebih gemar melindungi diri dari dinimika luar, dan bercokol hanya di wilayah nalar apriori agama an-sich (ulumuddin), dengan tanpa mempedulikan ilmu-ilmu modern yang telah memberi sumbangan pada kemanusian dan peradaban.

Sisi lain, ranah studi Islam (dirasah Islamiyah) secara kritis dan komperhensif hampir-hampir saja tak tersentuh. Padahal, bila kita gunakan teori investigasi-sejarah Charles Peirce misalnya, kita akan dapati betapa berlimpahnya kontak baik antara muslim dan non muslim di zaman Nabi. Rasulallah bukanlah seorang yang hidup di lingkungan terkengkang dan penuh nafsu fanatisme. Tapi ia seorang toleran sejati. Sejak belia ia sudah pergi ke tanah Syam, kemudian kelak setelah dewasa dan jadi pemimpin, ia mengadakan persahabatan dengan kerajaan Roma dan Negus.

Kalau begitu apa benar salam terhadap non muslim hukumnya adalah haram? Disinilah letak urgen dan tak bisa ditinggalkannya pendekatan sosial-antropologi agama itu. Sekiranya tanpa itu, benih-benih kejumudan akan beranak-pinak menjadi teologi kekerasan? Dan sekarang hasilnya sudah kita petik bersama. Bahkan berlimpah pula.

Mengenal antropologi agama berarti mengenal dan melihat proses dengan jelas tarik-menarik kepentingan dan pemaknaan teks, antara hasrat agama sebagai realitas (teks) atau hasrat pemikiran agama, yang cenderung memihak pada suatu konteks dan logika zamannya. Antropologi akan metengahkan mana sesunggunya realitas atau teks dan mana pengaruh dari luar? Sehingga cerita kejumudan demi kejemudan berangsur pudar dan tercerahkan.

Kerja intelektual seperti itulah yang sudah dilakukan oleh Khalil Abdul Karim, Nashr Hamid Abu Zaid, Mohammed Arkoun, Fattima Mernisi, Abdullahi Ahmed An-Naim, Sayyid Qumni dan Said Al-Asymawi dalam memahami teks dan hukum Islam. Cendekiawan kondang Hasan Hanafi, menyebut mereka sebagai orang-orang yang tercerahkan oleh peradaban Barat (Hassan Hanafi, Dirâsât Islâmiyyah, (Kairo: Maktabah al-Anglo al-Mishriyyah, tt, hal. 275).

Karena, problem besar di abad ini yang masih sering mencuat di dunia Islam adalah persoalan identifikasi, antara orisinalitas dan modernitas (al-Ashâlah wa al-Mu’âshirah). Misalnya pada diskursus “demokrasi”, persoalan yang sering mencuat adalah pertanyaan seputar, apakah ia benih dari tradisi Islam (Arab) atau dari tradisi Barat yang sekuler, (repesentatif dari modernitas)? Masing-masing punya argumentasi sendiri. Bagi Hasan Hanafi, wacana revitalisasi agama (al-Ishlâh al-Dînî) yang berkembang sekarang ini, secara mayoritas masih saja bersifat jumud, dan masih mengarah mencari apa yang orang sebut dengan ‘orisinil’ itu.

Karena itu Hasan Hanafi menyatakan, diskursus ’orisinalitas’ dengan meninggalkan modernitas menurutnya adalah suatu kemustahilan, begitu sebaliknya. Karenanya ia mengkritik kelompok fundamentalisme yang cenderung mencari ”orisinil” dengan mengabaikan sesuatu yang baru, atau datang kemudian (posmodernitas). Menurutnya sikap seperti itu cenderung mengabaikan “realitas”, dan terlampau apriori serta bangga dengan kegemilangan masa lampau (Fakhr bi al-Târikh al-Qadîm). Sebaliknya, bagi pemuja modernitas, ia juga mengkritik, kecenderungan seperti itu berlebihan, sebab bagaimanapun, babak baru (al-Judzuriyah al-Mubkirah) tak akan lahir tanpa masa lalu ”orisinalitas.” (Hassan Hanafi, Fî Fikrinâ al-Mu’âshir, (Beirut: Dar al-Tanwir, 1981, hal. 49-50)

Bagi yang jumud (fundamentalisme), ‘yang orisinil’ akan terus sebagaimana bentuk asal, dan tak boleh berubah, bahkan ‘esensi’nya pun tak bisa fleksibel. Karenanya, respon mereka terhadap modernitas sangat negatif. Namun, di tengah kubu itu ada yang memahami bahwa ‘orisinil’ itu ada, tetapi ia boleh berubah,bahkan harus berubah, agar tak menghalangi –secara interaktif—dengan modernitas (Hassan Hanafi, Fî Fikrinâ al-Mu’âshir, (Beirut: Dar al-Tanwir, 1981 hal. 49-50).

Salah satu tokoh yang berada di kubu ini adalah Khalil Abdul karim. Misalnya, konsep syura yang ada dalam dunia Islam (Arab) dengan demokrasi-ala Barat, adalah suatu contoh kongkrit apa yang disebut orang dengan kontak peradaban simbiosis-mutualisme antara ’orisinilitas’ (Arab/Islam) dan ’modernitas’ (Barat).

Khalil menyebut konsep syura merupakan sistem masyarakat madani (civil society), karena berkaitan erat dengan tatanan perpolitikan suatu bangsa, yang kelak terkait erat dengan demokrasi. Ia juga termasuk persoalan-persoalan dunia sebagaimana interaksi jual-beli (bai’), persewaan, akad muzara’ah, bercocok tanam, dan akad musyaqqah, serta persoalan lain. Dengan kata lain, konsep syura ini merupakan sistem masyarakat madani yang didasarkan pada perundang-undangan Islam (syari’ah Islmiyyah), baik dari teks al-Qur’an maupun hadits.( Khalil Abdul Karim, Al-Islam baina ad-Daulah Diniyah wa al-Madaniyah., hal. 133). Khalil, adalah salah satu ulama Islam yang bisa menjelaskan itu dengan prosedural ilmiah, karena ia tahu bagaimana memerlakukan teks dan konteks itu. Itulah hasil perjumpaannya dengan metedologi Barat (Amerika).

Salah satu karya monumentalnya adalah buku: "Judzur al-Tarikhiyah li al Syari’ah al-Islamiyyah” (Akar Sejarah Syari’ah Islam). Dalam buku ini, Khalil mencerminkan sikapnya terhadap tiga hal sekaligus, yaitu keyakinannya, pandangannya dan rekontruksi pemikiran terhadap fenomena kekinian dan terhadap masa lalu. Berangkat dari keyakinannya ia melihat fenomena kekinian yang berkembang di kalangan masyarakat muslim dalam melihat Islam. Sebab adanya kecenderungan dari sebagian besar masyarakat tersebut untuk mengidolakan masa lampau, terutama masa kenabian dan kekhalifaan pertama, maka ia menguji dan menginvestigasi secara antroplogogis masyarakat pada masa tersebut. Khalil tidak hanya berhenti di era itu, akan tetapi juga berusaha membuktikan bahwa era tersebut pada dasarnya merupakan perpanjangan dari  era sebelumnya.

Sebagaimana juga yang tertuang dalam bukunya:“Al-Usus al-Fikriyah li Islam Yasar” (Dasar Manifesto Kiri Islam), Khalil juga punya beberapa prinsip yang dipegangnya. Pertama: Historisitas teks-teks suci, semua orang yang mengucapkan dua kalimat syahdat adalah sebagai Muslim, meskipun misalnya dalam keadaan terpaksa. Kedua, Kekhalifaan merupakan jabatan yang bersifat sipil-politik, semua orang selain Nabi banyak kekhilafannya. Sehinga dapat dikritik, karena mereka hanya manusia biasa. Islam agama inklusiv, dan agama merupakan revolusi terhadap keyakinan-keyakinan yang keliru, situasi-situasi sosial yang rusak dan eksploitatif.

Perinsip-perinsipnya tidak hanya berseberangan dengan kelompok-kelompok fundamentalis Mesir— yang berkeinginan menjadikan Mesir sebagai Negara Islam (dengan sistim kekhalifahan)— akan tetapi, juga berseberangan dengan kelompok ortodoks yang sangat dominan di negeri itu. Melalui prinsip-prinsip ini ia mencoba menunjukkan kebenaran keyakinanya dan kekeliruan kelompok-kelompok tersebut.  Upaya tersebut ia lakukan dengan jalan mengkaji era awal, yaitu kenabian, dan kekhilafan pertama di satu sisi dan era sebelum kenabian di sisi lain.

Tetapi apa yang telah diupayakan oleh Khalil, ternyata oleh pihak lain, dimentahkan. Bahkan ia justru dituding sebagai anti-Islam dan dihukumi halal darahnya. Lagi, betapa kejumudan masih melingkupi dunia islam, dan masih begitu kokohnya. Nyaris belum begitu tersentuh. Namun orang seperti Khalil sadar, perjuangan memang terasa getir dan payah. Kasus yang serupa, bahkan lebih, telah berjibun di depan mata kita, seperti beberapa fatwa yang sangat “aneh” dari MUI, mengenai beberapa kasus sosial-keagamaan,, juga datang dari Menteri Agama dan Lembaga Islam lainnya.Untuk di negeri ini, apakah mungkin hari masih terlalu pagi? (Wallahu’alam bishawab).

*Penulis tinggal di Jogja
Agustus 2019.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-74 di Karangasem Tambakberas Jombang


**
Allohuakbar....!
Merdeka....!
Merdeka....!
Merdeka....!
Semangat inilah yang kami rasakan ketika upacara untuk memperingati hari kemerdekaan dimulai.
Ketika di banyak tempat di tanah air peminat upacara berkurang karena berbagai alasan, kami akan tetap melakukan _'ritual'_ tahunan ini, karena sesungguhnya inilah yang menghubungkan kami yang hidup sekarang dengan para pendahulu, yang merebut kemerdekaan dengan yang mengemban amanah mengisi kemerdekaan. Mereka yang telah mengorbankan jiwa raga dan hartanya demi kehidupan yang sekarang kita nikmati. 
Sebagai orang kampung, kami merasa bahwa upacara bendera bukan monopoli intansi atau organisai, karna bagi kami meski tanpa kostum resmi dan keharusan berbaris rapi, upacara bendera tetap harus _dilakoni_, karna ini harus menjadi budaya yang terus dilestarikan sebagai bagian kecil dari proses mewariskan jiwa nasionalisme bagi setiap generasi hingga anak cucu kelak.
Nasionalisme tidak hanya dimulai dari ceremonial yang tertata rapi, Nasionalisme bisa dimulai dari membangkitkan jiwa gotongroyong, guyub rukun dalam rangka membangun dusun dan kampung, serta semangat untuk menyiapkan sumberdaya manusia demi masa depan Indonesia lebih baik!
Karena kami semua cinta Indonesia!
Mengusung tema peringatan hari kemerdekaan RI ke-74 tahun ini, *'Menyiapkan SDM Kampung yang Unggul untuk Indonesia Maju'* kami warga Karangasem Tambakberas Gg. IV bersama Pemuda Pemudi TuWaGaPat, Para Santri, Ibu-ibu dan Bapak-bapak, Arek Cilik-cilik, Bakul Keliling dan Juragan Warung Kopi, Pak Guru dan Ustad, Tukang Kayu dan Kuli Batu, Kiyai dan Ibu Nyai bersemangat untuk mewujudkan Indonesia Maju yang dimulai dari dusun kami melalui edukasi, inovasi, karya dan cita-cita!
Kampung kami telah melahirkan  Pahlawan Nasional, KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Wahab Hasbulloh, 2 tokoh sentral yang menjadi arsitektur Indonesia, ajaran-ajaran nasionalisme yang beliau wariskan bagi kampung kami masih terjaga lestari di dalam jiwa segenap warga. Sebagai penerus sekaligus "Anak Ideologis" beliau, kami memikul beban dan tanggungjawab untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi warga kampung kami.
Kami harus juga membuktikan bahwa kami mampu menghasilkan berbagai karya, meningkatkan perekonomian warga, menciptakan lingkungan bersih, hijau, nyaman, aman dan berkelanjutan. Dan yang terpenting adalah, Kampung kami juga harus selalu menghadirkan kebahagiaan bagi warganya, serta senyum dan kehangatan bagi siapapun yang datang.
Inilah perjuangan. Inilah makna kemerdekaan. Inilah yang kami warisi dan wariskan kemudian, hingga terwujud cita-cita bangsa yang berdaulat, bermartabat dan unggul dimata dunia.

Karangasem, 17 Agustus 2019_ 
SUHAIB
Tonggone Mbahyai Wahab Chasbuullahllah.

Selasa, 06 Agustus 2019

MUHASABAH ANSOR

Oleh : Miftahus Saidin (Kader Ansor PAC Jogoroto) 

JOMBANG. bherenk.com Semangat itu fluktuatif, naik turun laksana spidometer. Begitu juga dalam melakukan dan melaksanakan sesuatu hal. Perjalan panjang ini harus terus dijalankan lintas generasi agar semangat ini terus terwariskan dan terjaga.

Satu demi satu kader dan Sahabat itu mulai menghilang dan meninggalkan kerja kerja organisasi dengan berbagai alasan yang mendasarinya. Praktis kerja kerja
organisasi yang biasanya berjalan sedikit tersendat kinerjanya.

Kader kader diakar bawah (ranting) sebagai basis gerakan sekaligus  garda terdepan juga mulai meninggalkan sahabat sahabatnya yang lain.
Semoga kondisi ini segera disikapi dan diambilkan langkah taktis dan praktis dari sahabat sahabat yang berwenang.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan salahkan keadaan jika kader kader idaman kita dengan ikhlas akan memauqufkan diri.

Proses kaderisasi dan reorganisasi ditubuh suatu organisasi mutlak harus dilakukan demi menjaga semangat yang diwariskan para pendahulu. www.bherenk.com

###
Midanutta'lim, 6 Dzulhijjah 1440
Muhasabah
# 2 hari sedonipun Syaikhona
# 11 hari pasca Konferwil Jatim
# 18 bulan pasca Konferensi PC GP Ansor Jombang

Minggu, 28 Juli 2019

HARAPAN BARU UNTUK PW GP ANSOR JATIM



Utusan PAC dan PC yang terhalang di pintu masuk arena Konferwil PW GP Ansor Jatim 2019
MALANG. bherenk.com Gelaran Konferwil PW GP Ansor Jatim di Pond Pest Sabilurrosyad Gasek Sukun Malang  28 Juli 2019 diharapkan mampu dijadikan momentum berbenah Ansor diberbagai tingkatan.

Sejumlah PC dan PAC yang dinyatakan tidak lolos menjadi peserta Konferwil harusnya bisa menjadi evaluasi internal organisasi. Pro kontra terkait tafsir aturan PD PRT dan PO bermunculan,  banyak pihak menuding PP GP Ansor yang tidak tegas dari awal untuk menyelesaikan "kemelut" di Jatim.

Lamanya stagnasi dan vakum PW GP Ansor Jatim yang sekitar dua tahun bisa dijadikan indikator ketidakmampuan organisasi setingkat di atasnya dalam mengelola sebuah organisasi.

Sementara ada beberapa pihak juga yang menengarai PW GP Ansor Jatim selepas perpanjangan pengurus Rudy Tri Wachid banyak terjadi dinamika,  diantaranya konflik kepentingan sehingga jalannya organisasi tidak ansich untuk organisasi namun harus ditarik kesana kemari keluar dari koridor organisasi.
Diantaranya terkait penerbitan SK PC atau PAC yang berbelit dan terkesan dipermainkan,  jika PC atau PAC nya ada kedekatan secara emosional maka PW segera merekomendasikan ke PP,  namun jika sebaliknya SK akan sulit turun.

Polemik lain diantaranya yaitu PW GP Ansor  enggan merekomendasikan kader untuk mengikuti diklat atau pelatihan PKL /PKN atau Susbanpim sehingga banyak kader militan yang mumpuni secara kwalitas personal namun terhambat di administrasi,  pun juga PC atau PAC yang ingin mengadakan diklat atau pelatihan izinnya dipersulit, serta informasi-informasi lainnya yang kurang baik untuk jalannya organisasi, sehingga hanya menjadi kasak kusuk sahabat Ansor di daerah.


Banyaknya PAC dan PC yang gagal jadi peserta konferensi Ansor Jatim 2019 menjadi titik kulminasi kegagalan kepengurusan Ansor Jatim periode kemarin ini, dimana hampir 40 persen PAC dan PC tidak bisa dapat hak suara padahal forum konferensi adalah ajang yang sangat mereka tunggu.

Momen Konferwil saat ini diharapkan mampu memilih kader Ansor terbaik untuk memperbaiki managemen organisasi Ansor di Jatim, munculnya sosok yang mampu mengayomi semua elemen diharapkan yang jadi pilihan sahabat-sahabat, yaitu sosok ketua yang amanah dan terbuka,  jadi ketika terjadi polemik baik di PW maupun PAC dan PC  akan mampu menyelesaikan dengan adil dan bijaksana tanpa ada konflik kepentingan apapaun.

Tantangan Ansor Jatim kedepan adalah sangat kompleks,  selain penataan internal yang harus dilakukan dengan serius, meliputi peningkatan kwalitas SDM kader,  maping potensi kader,  internalisasi managemen organisasi. Pun pula tantangan eksternal juga sudah menanti untuk segera ditangani,  mengawal Islam Nusantara agar tetap membumi dan mendapat tempat dihati rakyat adalah tugas yang tidaklah ringan.

Bravo Ansor Jatim..!!

(www.bherenk.com)


Rabu, 24 Juli 2019

13 PAC GP ANSOR KABUPATEN JOMBANG TIDAK LOLOS SEBAGAI PESERTA KONFERWIL ANSOR JATIM 2019


JOMBANG.bherenk.com. Meskipun gak punya hak suara kami tetap akan menghadiri  konferwil GP Ansor Jatim di Malang,  ujar Miftahus Saidin salah satu pengurus Ansor di kecamatan Jogororto Jombang.

Setelah ia mendapat informasi bahwa perwakilan Ansor dari kecamatannya dan perwakilan 12 kecamatan lain se Kab. Jombang tidak dapat tiket kepesertaan Konferwil PW GP Ansor Jatim dari 21 PAC se kab. Jombang.

Konferwil adalah kebanggaan setiap kader, masak hanya karena SK yg tdk akui oleh panitia konferwil kemudian kami patah semangat untuk berkhidmat pada Ansor.  Ini sangat ironis,  Jombang itu barometer Ansor Nasional,  masak gak bisa mengikuti Konferwil secara maximal. 
Meskipun PC GP Ansor Jombang tidak memfasilitasi keberangkatan kami ke arena konferwil di Malang,  tetap kami akan berangkat dengan dana sendiri.

Sampai saat ini kami belum tahu apa penyebab kami tidak bisa mengikuti Konferwil PW GP Ansor Jatim yang akan digelar besok hari Minggu 28 Juli 2019 di Pondok Pesantren Sabilirrosyad  Malang.

Poin mana yang menggugurkan kepesertaan juga belum jelas,  sementara kami meminta kejelasan pada PC GP Ansor Jombang belum mendapat jawaban yang memuaskan.

Kita khawatir ini hanya soal interpretasi terhadap PD/ PRT dan PO saja sehingga kami jadi korban. 
Mustinya pengurus cabang kab. Jombang bisa berargurmentasi pada panitia konferwil  hingga kami tetap bisa menjadi peserta konferwil ucap Toni Saipudin ketua PAC GP Ansor Kesamben.

Sementara ketua PAC GP. Ansor Kudu, Aris berharap semua PAC di kab. Jombang tetap bisa mengikuti konferwil 2019 ini agar semangat sahabat-sahabat semakin terpacu. (www.bherenk.com)

Minggu, 21 Juli 2019

KH. ALI MASYHURI MEMBUKA SECARA RESMI PRA KONFERWIL ANSOR JATIM 2019



SIDOARJO. bherenk.com Secara resmi pembukaan Pra Konferwil Ansor Jatim 2019 telah dibuka oleh Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat Tulangan Sidoarjo KH. Ali Mashuri,  21 Juli 2019. Sejak semalam sudah banyak berdatangan peserta dari luar kota ujar panitia yang ditemui di lokasi masuk arena Pra Konferwil. Jam 10.00 Wib sudah dimulai acara pembukaan,  tampak hadir muspida Sidoarjo, jajaran pengurus PW. Ansor Jatim,  nampak pula Alfa Isnaeni komandan nasional Banser,
Sahabat Azis pengurus PP GP Ansor.
Gus Ali (sapaan akrab KH Ali Masyhuri) dalam sambutannya berpesan,  jangan sampai punya niatan masuk ansor hanya untuk kebutuhan pilkada,  memperkuat konstituen saat pilkada,  ini tidak barokahi pesannya.
Sementara Azis saat menyampaikan sambutan menyampaikan bahwa pra konferwil ini adalah untuk membahas rancangan program dan tatib pemilihan yang dibagi dalam  komisi-komisi, Komisi 1. tatib konferwil, 2. komisi tatib pemilihan ketua, 3.  komisi rekomendasi  program kerja,  sehingga nanti saat konferwil di Malang tinggal ngedok dengan harapan bisa efektif dan efisien. (www.bherenk.com)

Rabu, 17 Juli 2019

DUA CALON KETUA ANSOR JATIM SOWAN WAKIL KETUA PWNU


Jombang. bherenk.com. Agenda perhelatan Konferwil PW GP Ansor Jawa Timur 2019 semakin dekat, beberapa kandidat calon ketua melakukan silaturrohiem kebeberapa sesepuh dan kyai NU. Hal ini terbukti dengan pertemuan dua kandidat kuat di ndalem wakil ketua tanfidliyah PWNU Jawa Timur, KH.  Abdussalam Sohib atau akrab dipanggil gus Salam Denanyar Jombang,  pada Rabu 17 Juli 2019.
Ketika sowan ke Kyai Salam,  dua kandidat itu yaitu Ahmad Ghofron atau akrab dipanggil lora Pong dan Abdul Latief Malik atau biasa dipanggil gus Latief, yang masing-masing didampingi timnya. Gus Salam bangga banyak kader Ansor Jatim yang ingin maju mencalonkan ketua Ansor,  ini menunjukkan bahwa stok kader muda NU di Jatim itu banyak sekali dan melimpah. Saat ditanya gus Salam berapa rekom dari PC (Pimpinan Cabang)  yang didapat,  sementara ini sudah sembilan rekom jawab lora Ghufron,  sementara gus Latif empat rekom pimpinan cabang sudah dikantongi.
Dalam pertemuan tersebut, gus Lathif Malik dan lora Ghufron memohon arahan kiai Salam terkait keberlangsungan Ansor kedepan, disinggung pula bagaimana kondisi Ansor Jawa Timur yang  telah mengalami stagnasi dan kevakuman dalam kurun waktu yang cukup lama, dan hal ini menjadi preseden buruk serta tidak boleh terulang lagi kedepannya ucap kyai Salam.
Ditanya soal kriteria calon ketua Ansor yang ideal, kyai Salam hanya berharap bahwa ketua Ansor Jatim selain harus mumpuni dalam managerial organisasi serta mumpuni dalam bidang agama dia juga harus bisa melayani para ulama.
Untuk diketahui Ahmad Ghufron atau akrab disapa lora Pong adalah alumni pondok Genggong yang saat ini menjabat wakil ketua PC GP Ansor Sampang yang juga pengurus Baanar PP GP Ansor, semetara Abdul Latief Malik atau lebih dikenal dg panggilan gus Latif adalah alumni pondok Sarang pondoknya mbah yai Maemun Zubair. Gus latif saat ini aktif di PP GP Ansor sebagai pengurus Rijalul Ansor.
Ditanya terkait sistem pemilihan,  kyai Salam mengatakan bahwa dalam konferwil nanti tidak harus dengan aklamasi asalkan semua persyaratan administratif dari calon terpenuhi serta bisa fair,  agar dinamika dan sistem yang sudah terbangun di Ansor bisa berjalan lebih baik. (www.bherenk.com)



Selasa, 16 Juli 2019

GUS LATIEF MALIK LAYAK NAHKODAI ANSOR JATIM



JOMBANG- Lamanya vakum kepengurusan definitive Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur membuat kader kadernya yang selama ini aktif berkiprah di daerah greget ingin tampil mengisi kekosongan nahdkoda Ansor Jatim. Deretan nama kader tangguh yang sudah familiar diantaranya adalah mantan Ketua PW Ansor Jatim,  Abid Umar Faruq akrab disapa Gus abid, Ahmad Ghufron Siradj pengurus lembaga Baanar (Badan Ansor anti Narkoba PW GP Ansor Jatim), Abdul Wahab Yahya lebih akrab dipanggil Gus Wahab (Ketua Rijalul Ansor Jatim),  Gus Safiq Sauqi (Ketua PC GP Ansor Tuban), Husnul Hakim Syadad Ketua PC GP Ansor Malang, Gus Latief Malik (Pengurus Rijalul Ansor PP GP Ansor) dari Jombang.
Banyaknya bermunculan kader Ansor Jatim yang ingin maju berkhidmat ini membuktikan bahwa masih banyak stock kader Ansor di Jatim. Wacana pemilihan secara aklamasi tidak sejalan dengan kondisi riil di lapangan. Sejalan dengan hal itu, Pengurus  Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor mendorong Konferensi Wilayah (Konferwil) di Jatim dapat memberikan lebih dari satu calon Ketua. Apabila hanya ada satu calon, PP Ansor menilai bahwa hal itu menjadi sebuah kemunduran.
"Aneh lah kalau sampai muncul calon tunggal. Seharusnya, tidak ada monopoli kepemimpinan, Mengingat, organisasi pemuda milik Nahdlatul Ulama ini memiliki banyak calon pemimpin yang mumpuni." kata Wakil Sekjen PP GP Ansor, Ahmad Hadinudin di Surabaya.https://surabaya.tribunnews.com/2019/03/21/pengurus-pusat-minta-pilihan-ketua-gp-ansor-jatim-hindari-calon-tunggal-ini-alasannya

Ia lantas menyebut beberapa kriteria calon Ketua yang layak memimpin Ansor di Jatim. Menurutnya, pemimpin kedepan harus mampu menaungi kader Ansor yang berlatar belakang keilmuan secara mumpuni. Mulai dari para santri berlatar belakang pondok pesantren hingga para doktor.

Kedua, kandidat tersebut harus memiliki tingkat kemampuan dan pemahaman keagamaan yang kuat. Mengingat, Ansor juga melahirkan tokoh agama, atau kyai besar.
"Salah satunya bisa baca dan memahami isi kitab kuning, memiliki jaringan networking yang bagus," kata Hadinudin. Syarat ketiga, harus mampu melahirkan jiwa wirausaha untuk membangun kemandirian kader Ansor. Sehingga, bisa bekerja dan bergerak dengan mandiri tanpa menunggu support dan bantuan anggaran dari pihak lain.

"Yang paling penting, Ketua Ansor Jatim harus independen dan netral. Pada intinya, kalau calon itu merasa diatasi angin, merasa kuat, merasa memenuhi syarat, mengapa harus memaksa adanya calon tunggal?" katanya.
Meskipun demikian, pihaknya menilai bahwa keberadaan calon tunggal di Konferwil tidak menyalahi aturan.
"Ya gak apa-apa dan sah-sah saja dalam berpolitik. Namun, seharusnya jangan memaksa dan melakukan tekanan-tekanan pada cabang," imbuhnya.

Dari beberapa kreteria tersebut menurut AH. Hamdah yang pernah aktif di Ansor,  nama Gus Latief Malik dari Tambakberas Jombang sangat layak untuk maju sebagai nahkoda Ansor Jatim. Modal managerial kepemimpinannya dilalui dari dasar, mulai ranting sampai pusat, begitu juga pelatihan kadernya hingga jenjang PKN pernah ia tempuh. Mobilitas gus Latief untuk ngopeni Ansor luar biasa tinggi, maka akan sangat mampu membawa Ansor Jatim lebih baik. Sebagai pengurus PP Rijalul Ansor gus Latief ikhlas keliling Indonesia untuk mendakwahkan dan menghidupkan Rijalul Ansor. Kapasitas keilmuan agama dan penguasaan ilmu alatnya tidak diragukan lagi, maklumlah karena ia alumnus Pondok Al Anwar Sarang dan kuliah di Syria.

Suksesi Ansor Jatim akan dilaksanakan  dalam forum Konferwil (Konferensi Wilayah) GP. Ansor Jatim yang akan digelar pada 28 Juli 2019 di Pond. Pest. Sabilurrosyad Malang. Sementara Pra Konferwil akan digelar di Pond. Pest. Bumi Sholawat Sidoarjo pada 21 Juli 2019 yang akan datang. (www.bherenk.com)


Kamis, 04 April 2019

PILPRES 2019, PILPRES YANG PALING UNIK SEPANJANG SEJARAH

*Pilpres 2019: Apakah benar ini Pertarungan antara Pro Komunis melawan Pro Khilafah?*

Nadirsyah Hosen
(Fakultas Hukum, Monash University, Australia)

Kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan dilangsungkan pada 17 April 2019 dikabarkan tidak lepas dari pertarungan ideologi antara pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo. Kita memasuki babak baru: pertarungan ideologis antara pendukung Komunisme dan pendukung Khilafah.

Kubu Jokowi dikesankan sebagai mereka yang mendukung kembalinya Partai Komunis Indonesia (PKI), yang sudah dibubarkan pada tahun 1966 oleh Jenderal Soeharto. Sementara itu, kubu Prabowo dianggap sebagai tempat berkumpulnya kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan pada tahun 2017 oleh Presiden Jokowi, dengan alasan HTI hendak mengubah ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Negara Khilafah.

Namun benarkah Pilpres 2019 ini merupakan pertarungan ideologis antara Pro-Komunis dengan Prof-Khalifah? Saya berargumentasi bahwa terlalu sederhana untuk melihat dinamika Pilpres dalam frame semacam ini.

Pertarungan ideologi ini mengerucut sejak Hendropriyono (Mantan Kepala BIN - Badan Intelijen Negara) memberikan keterangan pers pada 28 Maret 2019. Jenderal purnawirawan ini mengatakan Pilpres kali ini adalah pertarungan antara Pancasila vs Khilafah. Tentu yang dimaksud Hendro adalah pasangan Capres 01 (Jokowi-Ma’ruf Amin) jika terpilih akan terus mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara, sedangkan pasangan Capres 02 (Prabowo-Sandiaga Uno) berpotensi mengubah haluan negara menjadi Khilafah.

Pernyataan Hendo ini disambut dengan hestek #PancasilavsKhilafah oleh para buzzer politik kubu 01 dan sempat menjadi trending topic. Buzzer kubu 02 membalas dengan hestek #PKIvsPancasila yang juga kemudian menjadi trending topic. 

Kubu 02 memang sudah sejak lama memainkan isu PKI ini untuk menyerang Jokowi. Bermula dari Pilpres 2014, lima tahun sebelumnya, ketika tabloid Obor Rakyat menuduh mempertanyakan silsilah keluarga Jokowi yang selama ini beredar. Ibu Jokowi juga diragukan sebagai ibu asli. Sosok Jokowi dianggap memanipulasi data pendidikannya. Para buzzer 02 terus menggoreng isu ini di tahun 2019 dan dikesankan bahwa Jokowi selama 5 tahun terakhir telah berusaha menutupi sosok dia dan keluarganya yang sebenarnya. Ditambah lagi dengan tuduhan bahwa sejumlah anak tokoh PKI sekarang bergabung di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menjadi basis utama kekuatan politik Jokowi. 

Dipilihnya KH Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi, salah satunya, untuk menepis tuduhan Jokowi sebagai Pro-PKI. Narasi yang dikembangkan sejak Pilkada DKI tahun 2017 bahwa Jokowi itu anti Islam dicoba untuk dihapuskan dengan digandengnya Kiai Ma’ruf. Untuk itulah para buzzer kubu Jokowi mengangkat hestek #02vsNU. 

Dengan hestek #02vsNU dikesankan bahwa serangan terhadap ideologi negara, Jokowi dan Kiai Ma’ruf sejatinya adalah serangan dari kubu 02 yang didukung FPI, HTI dan Islam garis keras lainnya, terhadap Nahdlatul Ulama (NU) ormas Islam terbesar di Indonesia. Hal ini mengingat Kiai Ma’ruf adalah representasi dari Kiai Senior di tubuh NU, dan selama ini NU diklaim sebagai yang paling terdepan menjaga NKRI dari PKI di tahun 1966, dan dari HTI di tahun 2017. Lewat hestek ini dikesankan bahwa Pilpres 2019 adalah pertarungan antara kubu 02 melawan NU.

Sekali lagi, tentu saja ini terlalu menyederhanakan kompleksitas dan dinamika politik di Indonesia.

Pilpres 2019 jelas bukan pertarungan antara NU dengan 02. Tidak boleh dilupakan bahwa ada sejumlah tokoh NU yang juga terang-terangan mendukung kubu 02. Sejumlah ulama NU yang selama ini memiliki problem tersendiri dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memutuskan mendukung 02. Nama-nama seperti Gus Najih, Cak Anam dan Habib Abu Bakar Assegaf, sekadar menyebut contoh, adalah ulama dan tokoh NU yang berada di kubu 02. Jadi, tidak mungkin Pilpres ini direduksi menjadi pertarungan antara NU dan 02. Ulama NU memang mayoritas mendukung 01, tapi ada juga yang mendukung 02.

Pilpres 2019 ini juga tidak benar merupakan pertarungan ideologi antara Pancasila vs Khilafah, seperti yang disampaikan Hendropriyono. Prabowo dalam debat pilpres keempat beberapa malam lalu tegas mengatakan bahwa tidak mungkin dia akan mengganti Pancasila dengan Khilafah kalau dia menang kelak. Sebagai purnawirawan militer yang sudah disumpah setia pada Pancasila, Prabowo malah menantang balik: “Saya lahir dari rahim ibu Nasrani. Tidak masuk akal saya membela khilafah.”

Yang terjadi adalah Prabowo dan HTI saling menunggangi karena memiliki lawan yang sama. Prabowo menolak khilafah, tapi menerima dukungan dari HTI. Ini karena Prabowo hendak mengesankan bahwa dia membela ulama dan membela Islam. Citra Prabowo sebagai Capres hasil ijtima ulama harus dia pertahankan. 

Di sisi lain, anggota eks HTI juga tidak mungkin memberikan suaranya dalam Pilpres kepada Prabowo. Hal ini dikarenakan menurut mereka pemilu itu merupakan bagian dari sistem demokrasi, sedangkan demokrasi adalah sistem kufur. Jadi mereka akan abstain (golput) dari Pilpres, seperti yang telah mereka lakukan pada Pemilu sebelumnya. Mereka membenci Jokowi yang telah membubarkan HTI. Dengan seolah mendukung Prabowo, mereka berharap Prabowo akan menghidupkan kembali HTI kelak jikalau 02 menang pemilu —setidak-tidaknya dengan membiarkan mereka tetap beroperasi mempromosikan ide khilafah, seperti yang dilakukan pemerintahan SBY sebelumnya.

Pilpres 2019 ini juga tidak benar dianggap sebagai pertarungan antara PKI dan Khilafah. Jokowi sudah membantah tuduhan bahwa dia PKI. Sebagaimana Prabowo juga membantah bahwa dia pendukung Khilafah. Bantahan keduanya ini disampaikan dalam momen debat Pilpres keempat, pada 30 Maret 2019. 

Lantas apa yang harus diwaspadai dalam pelaksanaan Pilpres dan pasca Pilpres kelak.

Yang harus diwaspadai bersama adalah kerusuhan saat Pilpres dan setelahnya. HTI yang seolah-olah mendukung kubu 02 sebenarnya tengah berharap terjadi kegaduhan dan Pilpres gagal terlaksana. Kalau Pilpres dibatalkan akibat kericuhan maka bukan kubu 01 atau 02 yang akan menang, melainkan HTI. Ini karena HTI hendak menunjukkan bahwa demokrasi tidak cocok untuk Indonesia, negeri Muslim terbesar di dunia. Mereka sudah siap menawarkan solusi khilafah kalau perjalanan demokrasi di Indonesia berjalan mundur ke belakang. Ini siasat HTI.

Potensi kerusuhan pasca Pilpres juga harus diwaspadai. Ini dipicu oleh pernyataan Amien Rais yang mengatakan jikalau kubu 02 kalah oleh kecurangan, mereka tidak akan menggugat hasil Pilpres ke Mahkamah Konstitusi (MK), tapi langsung menggunakan people power. Boleh jadi Amien Rais merasa tidak ada gunanya menempuh jalur peradilan karena tahun 2014 mereka sudah lakukan dan ternyata MK menolak gugatannya.

Pernyataan Amien Rais ini sangat berbahaya karena berpotensi memprovokasi pertumpahan darah. Perbedaan bukan diselesaikan dengan mekanisme demokrasi berdasarkan negara hukum, tapi dengan kekuatan massa. Tentu saja massa dari kubu 01 tidak akan tinggal diam jikalau ancaman Amien Rais terbukti. Apalagi Jokowi sudah memerintahkan pendukungnya untuk semua berbaju putih pada hari-H Pilpres, sehingga akan semakin jelas mana kubu 01 dan kubu 02 di TPS nanti.

Pilpres adalah pesta demokrasi. Semua orang harus bisa bergembira menyambutnya dan menunaikan hak demokrasi dengan nyaman dan aman. Semua pihak sebaiknya selepas memilih nanti harus bisa menyanyikan penggalan lagu Indonesia Raya ini: “Marilah kita berseru: Indonesia berSATU.”

Selasa, 02 April 2019

DITANGAN PEMUDA DESA, MOTOR MIO BUTUT DISULAP JADI MOTOR BATMAN YANG KEREN

Jombang (bherenk.com) - Demi mewujudkan memiliki motor idaman, biasanya beberapa orang rela memodifikasinya. Mereka pun biasanya tak memikirkan soal berapa besarnya biaya yang bakal dirogoh demi terwujudnya motor impian. 

Hal itulah yang dilakukan pria asal Jombang Mohamad John Aris Joenaidi. Aris yang merupakan warga Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Jombang diketahui sudah merogoh kocek hingga Rp 3 juta an motor keluaran tahun 2008 miliknya menjadi motor Batman alias Batpod. 

"Saya bagian desain casing-nya. Sejauh ini sudah habis Rp 2,5-3 juta," ungkapnya.


Aris tetap mempertahankan beberapa komponen dari Yamaha Mio
 seperti ban, shock depan, hingga mesin. 

Sempat dimarahi sang istri karena mengubah tampilan skutik menjadi motor Batman, tak membuat Aris gentar. Aris tetap melanjutkan pekerjaannya dibantu oleh tiga temannya. Butuh waktu dua bulan bagi Aris mengubah Yamaha Mio menjadi mirip motor Batman. 

Motor Batpod ini masih digunakan Aris untuk keperluan sehari-hari namun dalam jarak dekat. Masih ada beberapa komponen yang belum dilengkapi Aris pada Batpod karyanya itu. Ia khawatir ditilang polisi jika mengendarai Batpod yang belum dipasang spion dan lampu sein itu. 


Rupanya menunggangi motor mirip batpod ini tak sesulit yang ada di film The Dark Knight. Kalau di film, penunggang harus berposisi hampir telungkup di atas motor. Namun, motor milik Aris ini tak perlu terlalu telungkup untuk menungganginya. Karena posisi stir tak begitu jauh dari dudukan. 

Sumber : https://m.detik.com/oto/modifikasi-motor/d-4493970/aris-buat-motor-batman-rp-3-juta-sempat-diomeli-istri

Senin, 01 April 2019

Iptu Sarwiaji Dilantik Jadi Kapolsek Tembelang Jombang

JOMBANG, (bherenk.com) – Jabatan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Tembelang Polres Jombang berganti. AKP Ismono Hardi yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Tembelang digantikan oleh Iptu Sarwiaji.  Pergantian jabatan itu, karena AKP Ismono telah memasuki masa pensiun.
Serah terima jabatan itu dilakukan di ruang Sat Samapta Polres Jombang yang dipimpin langsung oleh Kapolres Jombang AKBP Fadli Widiyanto, Senin (1/4/2019) pagi.

Sebelum menjabat sebagai Kapolsek Tembelang, Iptu Sarwiaji juga pernah menjabat sebagai KBO Satreskrim dan Humas Polres Jombang. Terakhir, ia sebagai bertugas sebagai Waka Polsek Bandar Kedungmulyo Jombang.
Dalam amanahnya, Kapolres Jombang menyampaikan, selama 1 tahun 7 bulan menjabat sebagai Kapolsek Tembelang, AKP Ismono mempunyai prestasi yang luar biasa. Diantaranya, menjaga wilayahnya aman dan kondusif.

“Prestasi Pak Ismono luar biasa, menjaga wilayahnya aman dan kondusif di tembelang. Tidak ada tawuran antara warga. Itu prestasi luar biasa. Terimakasih Pak Ismono yang membantu saya sebagai Kapolsek Tembelang,” kata Kapolres.
Sementara itu, Kapolres juga menyampaikan selamat bertugas kepada Iptu Sarwiaji sebagai Kapolsek Tembelang. Menurut Kapolres, tugas berat dan penuh tantangan berada didepan, yakni pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu 17 April 2019 yang tinggal beberapa hari lagi. Ia yakin, Sarwiaji bisa menjalankan dengan baik.
“Wilayah Tembelang sudah aman dan kondusif, dan tinggal meneruskan saja. Saya yakin Pak Sarwiaji bisa membawa anggota menjadi lebih baik,” terang Kapolres.
Usai serahterima jabatan, kemudian dilakukan pisah sambut di ruang Graha Bhakti Bhayangkara (GBB), Polres Jombang. Hadir dalam kegiatan itu, Waka Polres Kompol Budi Setiyono, para PJU dan Polsek jajaran serta para anggota bhayangkari Polres Jombang. (*)

Sumber : https://www.jurnaljatim.com/2019/04/iptu-sarwiaji-jabat-kapolsek-tembelang-jombang/

Jumat, 29 Maret 2019

SYECH JUMADIL QUBRO


*"KESAKTIAN YANG SESUNGGUHNYA"*
“Tuanku, engkau bisa berjalan di atas air....?!” murid-muridnya berkata dgn penuh kekaguman kepada Syeikh Jumadil Qubro.
“Itu bukan apa-apa... Sepotong kayu juga bisa,” Syeikh Jumadil Qubro menjawab.
Murid : “Tapi engkau juga bisa terbang di angkasa.”
Syeikh Jumadil Qubro : “Demikian juga burung-burung itu bisa,”.
Murid : “Engkau juga bisa bepergian ke Ka’bah dalam sedetik.”
Syeikh Jumadil Qubro : “Setiap Jin yang kuat pun akan mampu pergi dari India ke Demavand dalam waktu sedetik,”.
Murid : "Engkau juga kebal senjata dan kebal api..!"
Syeikh Jumadil Qubro : "Batu karang di pantai pun bisa kebal seperti itu,,!"
Murid : “Kalau begitu, apa kehebatan seorang Manusia Sakti yg sebenarnya?” murid-muridnya ingin tahu.
Syeikh Jumadil Qubro tersenyum lalu menjawab : “Manusia sakti ialah mereka yg bisa menjaga hatinya agar tidak berpaling kepada sesuatu pun selain Allah, Hatinya selalu bisa Dzikrullah dalam keadaan apapun, sehingga bisa BERSABAR ketika diuji dan bisa BERSYUKUR ketika diberi, dgn dzikirnya maka rasanya rata datar seperti AIR sehingga Tidak senang ketika DIPUJI dan Tidak sakit hati ketika DIHINA, dgn dzikrullah maka ia bisa TERBANG Hijrah dari kegelapan perbuatan dosa ke jalan ketaqwaan penuh cahaya, dan KEBAL dari segala godaan syetan, sehingga bisa ringan secepat KILAT membawa badannya untuk shalat 5 waktu...!". Maka ISTIQOMAH lebih hebat dari 1000 KAROMAH..."
Di zamannya Sayyid Jumadil Kubro dijuluki *"PANDITO RATU"* karena mempunyai Ilmu rahasia Kaysaf Laduni yg langsung dari Allah seperti Nabi Khidir as, yg mengetahui hal gaib dan ilmu-ilmu rahasia yg tidak diketahui oleh umum.
Syeikh Sayyid Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yg hidup sebelum Walisongo. *Beliau Seorang Qutubul alamin Wali Mursyid Agung* Sultan Aulia terbesar di zamannya, penyebar Islam pertama yg mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Syeikh Sayyid Jumadil Kubro adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Sayidah Fatimah Az Zahra.
Semoga ada hikmahnya, dan menjadikan kita semuanya istiqomah di jalan yg diridhai Allah SWT., .... Aamiin .
شيء لله له الفاتحة

NGANJUK SOSIALISASI PILKADES SERENTAK 2019

NGAWI (bherenk.com) – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Ngawi melakukan tahapan sosialisasi Pilkades serentak 2019 di Aula RM Maimon Jalan Ir Soekarno – Hatta Ngawi, Jum’at, (29/03/2019). Acara dihadiri oleh Kepala DPMD Kabupaten Ngawi, Kabul Tunggul Winarno, Kepala Bidang Pemerintahan Desa DPMD, Ahmad Roy Rozano.
Kabul panggilan akrab Kabul Tunggul Winarno, dalam sambutannya mengatakan, pelaksanaan pilkades serentak bakal dilaksanakan tiga bulan kedepan tepatnya pada 29 Juni 2019.
“178 Desa dari 19 Kecamatan akan melaksanakan Pilihan Kepala Desa Serentak. Makanya kegiatan sosialisasi kita adakan selama dua hari Kamis dan Jum’at,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam pemilihan Kepala Desa (Pilkades), mekanisme pemungutan suara dilakukan memakai sistem TPS sesuai jumlah dusun yang ada di Desa. Namun, apabila situasi tidak memungkinkan, maka bilik suara dibuat disatu lokasi tanpa mengurangi jumlah TPS.
“Pihak desa setelah mengikuti sosialisasi ini diharapkan segera membentuk panitia. guna sebagai prasyarat pengajuan bantuan keuangan pelasanaan Pilkades,” kata Roy.
Pelaksanaan oilkades serentak menelan anggaran daerah senilai total Rp 9,3 miliar. Mekanisme penyerapan anggaran akan dihitung sesuai dengan jumlah DPT ditambah 2 persen.
“Teknis penyerapan anggaran sekarang lebih fleksibel, dan dasar menentukan jumlah DPT sementara menggunakan jumlah DPT milik KPU,” pungkasnya. 

Sumber : https://www.jurnaljatim.com/2019/03/dpmd-ngawi-laksanakan-sosialisasi-pilkades-serentak/