Select Menu

Ads

Random Posts

Politik

Budaya

Wisata

NU

Agama

Tokoh

Pendidikan

*Pilpres 2019: Apakah benar ini pertarungan antara Pro Komunis melawan Pro Khilafah?*

Nadirsyah Hosen
(Fakultas Hukum, Monash University, Australia)

Kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan dilangsungkan pada 17 April 2019 dikabarkan tidak lepas dari pertarungan ideologi antara pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo. Kita memasuki babak baru: pertarungan ideologis antara pendukung Komunisme dan pendukung Khilafah.

Kubu Jokowi dikesankan sebagai mereka yang mendukung kembalinya Partai Komunis Indonesia (PKI), yang sudah dibubarkan pada tahun 1966 oleh Jenderal Soeharto. Sementara itu, kubu Prabowo dianggap sebagai tempat berkumpulnya kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan pada tahun 2017 oleh Presiden Jokowi, dengan alasan HTI hendak mengubah ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Negara Khilafah.

Namun benarkah Pilpres 2019 ini merupakan pertarungan ideologis antara Pro-Komunis dengan Prof-Khalifah? Saya berargumentasi bahwa terlalu sederhana untuk melihat dinamika Pilpres dalam frame semacam ini.

Pertarungan ideologi ini mengerucut sejak Hendropriyono (Mantan Kepala BIN - Badan Intelijen Negara) memberikan keterangan pers pada 28 Maret 2019. Jenderal purnawirawan ini mengatakan Pilpres kali ini adalah pertarungan antara Pancasila vs Khilafah. Tentu yang dimaksud Hendro adalah pasangan Capres 01 (Jokowi-Ma’ruf Amin) jika terpilih akan terus mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara, sedangkan pasangan Capres 02 (Prabowo-Sandiaga Uno) berpotensi mengubah haluan negara menjadi Khilafah.

Pernyataan Hendo ini disambut dengan hestek #PancasilavsKhilafah oleh para buzzer politik kubu 01 dan sempat menjadi trending topic. Buzzer kubu 02 membalas dengan hestek #PKIvsPancasila yang juga kemudian menjadi trending topic. 

Kubu 02 memang sudah sejak lama memainkan isu PKI ini untuk menyerang Jokowi. Bermula dari Pilpres 2014, lima tahun sebelumnya, ketika tabloid Obor Rakyat menuduh mempertanyakan silsilah keluarga Jokowi yang selama ini beredar. Ibu Jokowi juga diragukan sebagai ibu asli. Sosok Jokowi dianggap memanipulasi data pendidikannya. Para buzzer 02 terus menggoreng isu ini di tahun 2019 dan dikesankan bahwa Jokowi selama 5 tahun terakhir telah berusaha menutupi sosok dia dan keluarganya yang sebenarnya. Ditambah lagi dengan tuduhan bahwa sejumlah anak tokoh PKI sekarang bergabung di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menjadi basis utama kekuatan politik Jokowi. 

Dipilihnya KH Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi, salah satunya, untuk menepis tuduhan Jokowi sebagai Pro-PKI. Narasi yang dikembangkan sejak Pilkada DKI tahun 2017 bahwa Jokowi itu anti Islam dicoba untuk dihapuskan dengan digandengnya Kiai Ma’ruf. Untuk itulah para buzzer kubu Jokowi mengangkat hestek #02vsNU. 

Dengan hestek #02vsNU dikesankan bahwa serangan terhadap ideologi negara, Jokowi dan Kiai Ma’ruf sejatinya adalah serangan dari kubu 02 yang didukung FPI, HTI dan Islam garis keras lainnya, terhadap Nahdlatul Ulama (NU) ormas Islam terbesar di Indonesia. Hal ini mengingat Kiai Ma’ruf adalah representasi dari Kiai Senior di tubuh NU, dan selama ini NU diklaim sebagai yang paling terdepan menjaga NKRI dari PKI di tahun 1966, dan dari HTI di tahun 2017. Lewat hestek ini dikesankan bahwa Pilpres 2019 adalah pertarungan antara kubu 02 melawan NU.

Sekali lagi, tentu saja ini terlalu menyederhanakan kompleksitas dan dinamika politik di Indonesia.

Pilpres 2019 jelas bukan pertarungan antara NU dengan 02. Tidak boleh dilupakan bahwa ada sejumlah tokoh NU yang juga terang-terangan mendukung kubu 02. Sejumlah ulama NU yang selama ini memiliki problem tersendiri dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memutuskan mendukung 02. Nama-nama seperti Gus Najih, Cak Anam dan Habib Abu Bakar Assegaf, sekadar menyebut contoh, adalah ulama dan tokoh NU yang berada di kubu 02. Jadi, tidak mungkin Pilpres ini direduksi menjadi pertarungan antara NU dan 02. Ulama NU memang mayoritas mendukung 01, tapi ada juga yang mendukung 02.

Pilpres 2019 ini juga tidak benar merupakan pertarungan ideologi antara Pancasila vs Khilafah, seperti yang disampaikan Hendropriyono. Prabowo dalam debat pilpres keempat beberapa malam lalu tegas mengatakan bahwa tidak mungkin dia akan mengganti Pancasila dengan Khilafah kalau dia menang kelak. Sebagai purnawirawan militer yang sudah disumpah setia pada Pancasila, Prabowo malah menantang balik: “Saya lahir dari rahim ibu Nasrani. Tidak masuk akal saya membela khilafah.”

Yang terjadi adalah Prabowo dan HTI saling menunggangi karena memiliki lawan yang sama. Prabowo menolak khilafah, tapi menerima dukungan dari HTI. Ini karena Prabowo hendak mengesankan bahwa dia membela ulama dan membela Islam. Citra Prabowo sebagai Capres hasil ijtima ulama harus dia pertahankan. 

Di sisi lain, anggota eks HTI juga tidak mungkin memberikan suaranya dalam Pilpres kepada Prabowo. Hal ini dikarenakan menurut mereka pemilu itu merupakan bagian dari sistem demokrasi, sedangkan demokrasi adalah sistem kufur. Jadi mereka akan abstain (golput) dari Pilpres, seperti yang telah mereka lakukan pada Pemilu sebelumnya. Mereka membenci Jokowi yang telah membubarkan HTI. Dengan seolah mendukung Prabowo, mereka berharap Prabowo akan menghidupkan kembali HTI kelak jikalau 02 menang pemilu —setidak-tidaknya dengan membiarkan mereka tetap beroperasi mempromosikan ide khilafah, seperti yang dilakukan pemerintahan SBY sebelumnya.

Pilpres 2019 ini juga tidak benar dianggap sebagai pertarungan antara PKI dan Khilafah. Jokowi sudah membantah tuduhan bahwa dia PKI. Sebagaimana Prabowo juga membantah bahwa dia pendukung Khilafah. Bantahan keduanya ini disampaikan dalam momen debat Pilpres keempat, pada 30 Maret 2019. 

Lantas apa yang harus diwaspadai dalam pelaksanaan Pilpres dan pasca Pilpres kelak.

Yang harus diwaspadai bersama adalah kerusuhan saat Pilpres dan setelahnya. HTI yang seolah-olah mendukung kubu 02 sebenarnya tengah berharap terjadi kegaduhan dan Pilpres gagal terlaksana. Kalau Pilpres dibatalkan akibat kericuhan maka bukan kubu 01 atau 02 yang akan menang, melainkan HTI. Ini karena HTI hendak menunjukkan bahwa demokrasi tidak cocok untuk Indonesia, negeri Muslim terbesar di dunia. Mereka sudah siap menawarkan solusi khilafah kalau perjalanan demokrasi di Indonesia berjalan mundur ke belakang. Ini siasat HTI.

Potensi kerusuhan pasca Pilpres juga harus diwaspadai. Ini dipicu oleh pernyataan Amien Rais yang mengatakan jikalau kubu 02 kalah oleh kecurangan, mereka tidak akan menggugat hasil Pilpres ke Mahkamah Konstitusi (MK), tapi langsung menggunakan people power. Boleh jadi Amien Rais merasa tidak ada gunanya menempuh jalur peradilan karena tahun 2014 mereka sudah lakukan dan ternyata MK menolak gugatannya.

Pernyataan Amien Rais ini sangat berbahaya karena berpotensi memprovokasi pertumpahan darah. Perbedaan bukan diselesaikan dengan mekanisme demokrasi berdasarkan negara hukum, tapi dengan kekuatan massa. Tentu saja massa dari kubu 01 tidak akan tinggal diam jikalau ancaman Amien Rais terbukti. Apalagi Jokowi sudah memerintahkan pendukungnya untuk semua berbaju putih pada hari-H Pilpres, sehingga akan semakin jelas mana kubu 01 dan kubu 02 di TPS nanti.

Pilpres adalah pesta demokrasi. Semua orang harus bisa bergembira menyambutnya dan menunaikan hak demokrasi dengan nyaman dan aman. Semua pihak sebaiknya selepas memilih nanti harus bisa menyanyikan penggalan lagu Indonesia Raya ini: “Marilah kita berseru: Indonesia berSATU.”
Jombang (bherenk.com) - Demi mewujudkan memiliki motor idaman, biasanya beberapa orang rela memodifikasinya. Mereka pun biasanya tak memikirkan soal berapa besarnya biaya yang bakal dirogoh demi terwujudnya motor impian. 

Hal itulah yang dilakukan pria asal Jombang Mohamad John Aris Joenaidi. Aris yang merupakan warga Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Jombang diketahui sudah merogoh kocek hingga Rp 3 juta an motor keluaran tahun 2008 miliknya menjadi motor Batman alias Batpod. 

"Saya bagian desain casing-nya. Sejauh ini sudah habis Rp 2,5-3 juta," ungkapnya.


Aris tetap mempertahankan beberapa komponen dari Yamaha Mio
 seperti ban, shock depan, hingga mesin. 

Sempat dimarahi sang istri karena mengubah tampilan skutik menjadi motor Batman, tak membuat Aris gentar. Aris tetap melanjutkan pekerjaannya dibantu oleh tiga temannya. Butuh waktu dua bulan bagi Aris mengubah Yamaha Mio menjadi mirip motor Batman. 

Motor Batpod ini masih digunakan Aris untuk keperluan sehari-hari namun dalam jarak dekat. Masih ada beberapa komponen yang belum dilengkapi Aris pada Batpod karyanya itu. Ia khawatir ditilang polisi jika mengendarai Batpod yang belum dipasang spion dan lampu sein itu. 


Rupanya menunggangi motor mirip batpod ini tak sesulit yang ada di film The Dark Knight. Kalau di film, penunggang harus berposisi hampir telungkup di atas motor. Namun, motor milik Aris ini tak perlu terlalu telungkup untuk menungganginya. Karena posisi stir tak begitu jauh dari dudukan. 

Sumber : https://m.detik.com/oto/modifikasi-motor/d-4493970/aris-buat-motor-batman-rp-3-juta-sempat-diomeli-istri

-
JOMBANG, (bherenk.com) – Jabatan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Tembelang Polres Jombang berganti. AKP Ismono Hardi yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolsek Tembelang digantikan oleh Iptu Sarwiaji.  Pergantian jabatan itu, karena AKP Ismono telah memasuki masa pensiun.
Serah terima jabatan itu dilakukan di ruang Sat Samapta Polres Jombang yang dipimpin langsung oleh Kapolres Jombang AKBP Fadli Widiyanto, Senin (1/4/2019) pagi.

Sebelum menjabat sebagai Kapolsek Tembelang, Iptu Sarwiaji juga pernah menjabat sebagai KBO Satreskrim dan Humas Polres Jombang. Terakhir, ia sebagai bertugas sebagai Waka Polsek Bandar Kedungmulyo Jombang.
Dalam amanahnya, Kapolres Jombang menyampaikan, selama 1 tahun 7 bulan menjabat sebagai Kapolsek Tembelang, AKP Ismono mempunyai prestasi yang luar biasa. Diantaranya, menjaga wilayahnya aman dan kondusif.

“Prestasi Pak Ismono luar biasa, menjaga wilayahnya aman dan kondusif di tembelang. Tidak ada tawuran antara warga. Itu prestasi luar biasa. Terimakasih Pak Ismono yang membantu saya sebagai Kapolsek Tembelang,” kata Kapolres.
Sementara itu, Kapolres juga menyampaikan selamat bertugas kepada Iptu Sarwiaji sebagai Kapolsek Tembelang. Menurut Kapolres, tugas berat dan penuh tantangan berada didepan, yakni pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu 17 April 2019 yang tinggal beberapa hari lagi. Ia yakin, Sarwiaji bisa menjalankan dengan baik.
“Wilayah Tembelang sudah aman dan kondusif, dan tinggal meneruskan saja. Saya yakin Pak Sarwiaji bisa membawa anggota menjadi lebih baik,” terang Kapolres.
Usai serahterima jabatan, kemudian dilakukan pisah sambut di ruang Graha Bhakti Bhayangkara (GBB), Polres Jombang. Hadir dalam kegiatan itu, Waka Polres Kompol Budi Setiyono, para PJU dan Polsek jajaran serta para anggota bhayangkari Polres Jombang. (*)

Sumber : https://www.jurnaljatim.com/2019/04/iptu-sarwiaji-jabat-kapolsek-tembelang-jombang/
- - -

*"KESAKTIAN YANG SESUNGGUHNYA"*
“Tuanku, engkau bisa berjalan di atas air....?!” murid-muridnya berkata dgn penuh kekaguman kepada Syeikh Jumadil Qubro.
“Itu bukan apa-apa... Sepotong kayu juga bisa,” Syeikh Jumadil Qubro menjawab.
Murid : “Tapi engkau juga bisa terbang di angkasa.”
Syeikh Jumadil Qubro : “Demikian juga burung-burung itu bisa,”.
Murid : “Engkau juga bisa bepergian ke Ka’bah dalam sedetik.”
Syeikh Jumadil Qubro : “Setiap Jin yang kuat pun akan mampu pergi dari India ke Demavand dalam waktu sedetik,”.
Murid : "Engkau juga kebal senjata dan kebal api..!"
Syeikh Jumadil Qubro : "Batu karang di pantai pun bisa kebal seperti itu,,!"
Murid : “Kalau begitu, apa kehebatan seorang Manusia Sakti yg sebenarnya?” murid-muridnya ingin tahu.
Syeikh Jumadil Qubro tersenyum lalu menjawab : “Manusia sakti ialah mereka yg bisa menjaga hatinya agar tidak berpaling kepada sesuatu pun selain Allah, Hatinya selalu bisa Dzikrullah dalam keadaan apapun, sehingga bisa BERSABAR ketika diuji dan bisa BERSYUKUR ketika diberi, dgn dzikirnya maka rasanya rata datar seperti AIR sehingga Tidak senang ketika DIPUJI dan Tidak sakit hati ketika DIHINA, dgn dzikrullah maka ia bisa TERBANG Hijrah dari kegelapan perbuatan dosa ke jalan ketaqwaan penuh cahaya, dan KEBAL dari segala godaan syetan, sehingga bisa ringan secepat KILAT membawa badannya untuk shalat 5 waktu...!". Maka ISTIQOMAH lebih hebat dari 1000 KAROMAH..."
Di zamannya Sayyid Jumadil Kubro dijuluki *"PANDITO RATU"* karena mempunyai Ilmu rahasia Kaysaf Laduni yg langsung dari Allah seperti Nabi Khidir as, yg mengetahui hal gaib dan ilmu-ilmu rahasia yg tidak diketahui oleh umum.
Syeikh Sayyid Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yg hidup sebelum Walisongo. *Beliau Seorang Qutubul alamin Wali Mursyid Agung* Sultan Aulia terbesar di zamannya, penyebar Islam pertama yg mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Syeikh Sayyid Jumadil Kubro adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Sayidah Fatimah Az Zahra.
Semoga ada hikmahnya, dan menjadikan kita semuanya istiqomah di jalan yg diridhai Allah SWT., .... Aamiin .
شيء لله له الفاتحة

- - - - - -
NGAWI (bherenk.com) – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Ngawi melakukan tahapan sosialisasi Pilkades serentak 2019 di Aula RM Maimon Jalan Ir Soekarno – Hatta Ngawi, Jum’at, (29/03/2019). Acara dihadiri oleh Kepala DPMD Kabupaten Ngawi, Kabul Tunggul Winarno, Kepala Bidang Pemerintahan Desa DPMD, Ahmad Roy Rozano.
Kabul panggilan akrab Kabul Tunggul Winarno, dalam sambutannya mengatakan, pelaksanaan pilkades serentak bakal dilaksanakan tiga bulan kedepan tepatnya pada 29 Juni 2019.
“178 Desa dari 19 Kecamatan akan melaksanakan Pilihan Kepala Desa Serentak. Makanya kegiatan sosialisasi kita adakan selama dua hari Kamis dan Jum’at,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam pemilihan Kepala Desa (Pilkades), mekanisme pemungutan suara dilakukan memakai sistem TPS sesuai jumlah dusun yang ada di Desa. Namun, apabila situasi tidak memungkinkan, maka bilik suara dibuat disatu lokasi tanpa mengurangi jumlah TPS.
“Pihak desa setelah mengikuti sosialisasi ini diharapkan segera membentuk panitia. guna sebagai prasyarat pengajuan bantuan keuangan pelasanaan Pilkades,” kata Roy.
Pelaksanaan oilkades serentak menelan anggaran daerah senilai total Rp 9,3 miliar. Mekanisme penyerapan anggaran akan dihitung sesuai dengan jumlah DPT ditambah 2 persen.
“Teknis penyerapan anggaran sekarang lebih fleksibel, dan dasar menentukan jumlah DPT sementara menggunakan jumlah DPT milik KPU,” pungkasnya. 

Sumber : https://www.jurnaljatim.com/2019/03/dpmd-ngawi-laksanakan-sosialisasi-pilkades-serentak/

- - -
Tulisan ini dimuat di Jawa Pos hari ini, Jum’at, 29 Maret 2019, sebagai tanggapan atas tulisan KH Salahuddin Wahid (Gus Solah)

M. KHOLID SYEIRAZI

Saya yakin semua Nahdliyin, elit dan umatnya, setuju bahwa khittah NU bukanlah perkara yang jelas dan terang benderang. Dalam bahasa fiqh, khittah bukan perkara qath’ī (kategoris: jelas dan pasti), tetapi perkara dhannī (hipotetis: samar-samar). Ketidakpastian ini, sebagaimana Allah membagi agama ke dalam perkara muhkamat dan mutasyâbihât, tentu terkandung hikmah. Di dalam setiap perbedaan pendapat, tafsir, dan preferensi, terdapat rahmat untuk umat. Karena itu, izinkan saya menyumbangkan perspektif lain tentang khittah yang berbeda dengan tafsir guru kami, KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), dalam artikel di Jawa Pos berjudul “Beda Tafsir Khitah NU” (18/3/2019). 

NU dan Politik

NU didirikan sebagai ormas sosial keagamaan (jam’iyah dīniyah ijtimâ’iyah). Namun, NU sejak awal tidak pernah lepas dari kegiatan politik. Jadi tidak tepat anggapan Gus Solah bahwa tujuan NU sekadar “mengembangkan Islam berdasar ajaran empat madzhab, sama sekali tidak bernuansa politik.” Sebelum NU resmi berdiri, KH Abdul Wahab Chasbullah mendirikan Nahdlatul Wathan (1916), Tashwirul Afkar (1918), dan Nahdlatut Tujjar (1918). Ketiga organ ini adalah embrio kelahiran NU. 

Nahdlatul Wathan jelas bervisi politik yaitu kemerdekaan bangsa. Dalam Muktmar NU ke-11 di Banjarmasin tahun 1936, NU menelorkan ‘keputusan politik’ tentang Nusantara sebagai Dârus Salâm. Tahun 1938, di Muktamar Menes, Banten, sempat mengemuka usulan perlunya NU menempatkan wakil di Dewan Rakyat (Volksraad), meskipun ditolak. Tahun 1945, NU di bawah kepemimpinan Hadlratus Syeikh KH. Hasyim menggemakan Resolusi Jihad. Periode setelah itu, baik ketika menjadi komponen dalam Masyumi maupun setelah berdiri sebagai partai politik sendiri (1952-1973), NU terjun ke dalam politik praktis. Ketika akhirnya memutuskan kembali ke Khittah pada 1984, NU sedang menjalankan transformasi siasat, yang dalam istilah Kiai Sahal, pindah dari low politics (siyâsah sâfilah) ke high politics (siyâsah ‘âliyah sâmiyah). Poinnya, NU tidak pernah lepas dari politik, hanya beda dalam bentuk dan aktualisasinya. Memisahkan NU dari politik, seperti memisahkan rasa manis dari gula atau asin dari garam. 

Pagar Khittah

Setiap individu itu politis, apalagi jika berhimpun dalam organisasi besar. Sebagai organisasi besar, dengan atau tanpa sengaja, sebagai fâ’il (subjek) maupun maf’ūl (objek), NU akan selalu bersinggungan dengan politik dan kekuasaan. Setelah deklarasi Khittah pada Muktamar Situbondo 1984, NU menjabarkan Pedoman Berpolitik Warga NU di Muktamar ke-28 di Yogyakarta pada 1989. Pedoman itu dituangkan dalam sembilan (9) poin, berisi kerangka etik dan moral tentang partisipasi politik warga dan bagaimana seharusnya politik dijalankan. Poin 2 berbunyi “Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah politik yang berwawasan kebangsaan dan menuju integrasi bangsa dengan langkah-langkah yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan untuk mencapai cita-cita bersama...” Poin 6 berbunyi “Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh konsensus-konsensus nasional dan dilaksanakan sesuai dengan akhlakul karimah...” 
Politik tingkat tinggi NU adalah politik kebangsaan. 

NU, sebagaimana mandat Muktmar Situbondo 1984, menetapkan NKRI final dan berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan konsensus nasional (mu’âhadah wathaniyah) berlangsung sampai kapan pun. Dengan kerangka ini, kita perlu memaknai ulang khittah dengan tafsir yang sesuai dengan semangat keputusan Muktamar NU 1984 dan 1989. 

Menjaga Konsensus

Aspirasi untuk merongrong NKRI berdasarkan Pancasila telah berlangsung sejak Republik ini berdiri. DI/NII (1949-1952) adalah pionir gerakan makar berbalut agama. Aspirasinya diteruskan oleh Komando Jihad (1971-1981), JI (1993-2000), JAT (2008), JAD (2014), dan JAS (2014). HTI masuk Indonesia tahun 1980an dan mengusung konsep Khilâfah Islâmiyah. PKS sekarang menggemakan politik kebangsaan. Namun, semua orang tahu ideologi asal PKS adalah Ikhwanul Muslimin (IM) yang ingin menegakkan nizâm Islam. FPI basis keagamaannya tradisional, tetapi cita-cita politiknya NKRI Bersyariah. 

Sekarang kita petakan konstelasi Pilpres dan relevansinya dengan khittah. Gus Solah mengkritik keterlibatan struktur NU ke dalam upaya pemenangan Paslon 01 Jokowi-Ma’ruf Amin. Alasan bahwa di belakang Paslon 02 Prabowo-Sandi berdiri sejumlah kelompok anti Pancasila ditolak Gus Solah. “Tidak mungkin,” kata Gus Solah, “Prabowo seorang Letjen purnawirawan akan mendirikan khilafah.”

Saya setuju dan percaya bahwa Prabowo-Sandi tidak mungkin mempromosikan khilafah. Dalam kampanye terbuka di Manado beberapa hari lalu, Prabowo secara tegas menyatakan, “siapa yang mau mengganti Pancasila, akan berhadapan dengan saya.” Pernyataan ini, ironisnya, disampaikan di hadapan massa pengibar bendera HTI. Kasus ini tengah diselidiki oleh Bawaslu Manado. 

Bukan kali ini saja HTI dan ormas Islam sejenis terlibat dalam kampanye Prabowo. Sejak Pilkada DKI 2017, Prabowo telah dengan sadar “menunggangi” dan “ditunggangi” Islam militan yang tergabung dalam gerakan 212. Prabowo bisa saja mengaku sebagai patriot sejati dan pembela NKRI, tetapi faktanya kelompok-kelompok Islam pengusung khilafah dan NKRI Bersyariah mendompleng Prabowo untuk menghantam Jokowi yang telah bertindak tegas terhadap mereka. 

Kita belum bisa membayangkan apa kompensasi yang akan diberikan Prabowo kepada mereka seandainya menang Pilpres. Saya percaya Prabowo tidak mungkin mengganti NKRI dengan khilafah. Tetapi, tidak ada makan siang yang gratis. Pasti ada ‘jual beli’ dan kompensasi. Prabowo bisa saja memulihkan legalitas HTI dan memfasilitasi kiprah kelompok-kelompok Islam pendukungnya. Sekurang-kurangnya Prabowo akan bertindak seperti SBY, yang membiarkan kelompok Islamis berkiprah leluasa sepanjang 10 tahun kekuasaannya. Di era SBY, HTI bikin konferensi khilafah di GBK, disiarkan TVRI. SBY juga mengakomodasi PKS dengan sejumlah kursi menteri. Menteri Kominfo dijabat petinggi PKS yang konon banyak memberikan frekuensi publik kepada kelompok-kelompok Islam yang tidak ramah dengan kebhinekaan. Hasilnya kita petik sekarang. Jagat dunia mayat kita dipenuhi dengan narasi SARA dan ujaran kebencian.  

Alhasil, kontestasi politik sekarang tidak sekadar Pilpres, tetapi pertaruhan ideologi kebangsaan. Setelah Gus Dur, Jokowi adalah presiden yang berani menghadapi arus Islam garis keras. Karena itu, dalam situasi seperti ini, tidak mungkin NU netral. NU harus membersamai Jokowi menghadapi kelompok-kelompok perongrong konsensus kebangsaan. 

Sekretaris Umum PP ISNU, 
Alumnus PP Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang
- - -
Founder Santri Milenial, Ahmad Athoillah (Gus Ayik). FOTO: sarifa-LICOM
JOMBANG, (bherenk.com) - Ketua Hari Santri Nasional (HSN) periode 2017, Ahmad Athoillah, menganggap klaim yang dilontarkan oleh politisi PKS, Hidayat Nur Wahid dinilai ada muatan politik  untuk mendongkrak suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada Pemilu 2019 mendatang.
Ahmad Athoillah, mengatakan bahwa jejak digital tidak akan hilang, terdapat banyak serpihan berita terkait hari santri. Saat itu Tahun 2014 HNW menjabat ketua MPR dan kini tiba tiba mengklaim bahwa dialah pengusul lahirnya HSN.
"Lucunya, bila dilacak ke belakang lagi terdapat ocehan salah satu penggede PKS lainnya, di bulan Juli 2014 yaitu FH yang mengatakan, siapapun yang mengusulkan hasana Hari Santri Nasional (HSN) dia sinting. Aneh bukan," kata Ahmad Athoillah, Pengasuh Asrama Sunan Ampel Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang. Minggu (24/3/2019).
Founder Santri Milenial ini juga sangat menyayangkan pernyataan HNW yang mengaburkan fakta di lapangan karena tujuan politik golongan semata. Dalam bahasa lain, hanya untuk menarik simpati dikalangan warga Nahdliyin saja. Padahal, faktanya tidak demikian, bahkan beberapa pentolan PKS menolak HSN.
"Lha wong saya yang diamanahi sebagai Ketua HSN 2017 saja tahu persis gelombang gegap gempita seluruh santri se Indonesia bersuka cita akan adanya HSN itu. Mereka sadar ini lumbung suara yang potensial untuk partainya, seharusnya tidak usah begitu,” tambah pria yang akrab disapa Gus Ayik ini.
Ia juga meminta para santri terutama santri milenial untuk melatih diri mengusai media sosial dan dilengkapi dengan keahlian jurnalistik supaya saat ada kabar yang tidak benar tentang santri dan kiai bisa diklarifikasi langsung.
“Santri milineal harus multitalenta dan bisa jurnalistik dasar. Karena tidak mungkin para Kiai kita yang mengurusi hal kayak gini, kabar ini kalau dibiarkan bisa berbahaya. Kita perlu klarifikasi dan tampilkan fakta biar mereka tak bisa seenaknya,” tandas Gus Ayik diacara Millenial Outlook.

Sumber : http://www.suarajatimpost.com/read/21460/20190325/003156/gus-ayik-jombang-angkat-bicara-klaim-usulan-hsn-oleh-hidayat-nur-wahid/

- - - -
Caption foto : Bupati didampingi Wabup, Kepala Dikbud UPTD dan Kepala Sekolah SMK DB usai sidak– 
bherenk. com : Hari ini telah berlangsung UNBK di tingkat SMK dan hari ini juga telah meninjau di sekolahan negeri maupun swasta, alhamdulilah semua berjalan dengan baik dan lancar, 
Hal ini disampaikan oleh Bupati Jombang Hj.Mundjidah Wahab ketika diwawancarai oleh sejumlah wartawan. Senin (25/3/1019)
Lanjut Bupati, Dalam UNBK hari ini, siswa saat mengikuti UNBK  tidak ada yang izin sakit, akan tetapi semua siswa  bisa mengikuti UNBK.
 “Hari ini ada 3 sesi dalam ujian. Harapan kita semoga bisa lulus semua dan bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat sehingga nanti bisa membawa masa depan Jombang yang lebih baik yang cerdas, berkualitas dan berbudi luhur”.ucapnya
Sementara itu Arief Sugiharto Kepala Sekolah SMK Dwija Bhakti ketika diwawancarai menjelaskan, Persiapan UNBK tahun 2019 dimulai dengan Program Intensif Belajar (PIB) selama setengah bulan. Kemudian dilanjutkan dengan try out dan ditutup do’a bersama pada hari jum’at (23/3) kemarin sebelum UNBK dilaksanakan. jelasnya
Lanjut Arief, Hari ini senin 25 Maret 2019 seluruh sekolah tingkat SMK baik negeri maupun swasta telah berlangsung melaksanakan Ujian Nasional berbasis komputer maupun tulis, Sedangkan SMK DB sendiri kita sudah melaksanakan UNBK berbasis komputer. lanjutnya
“Tahun 2019 total siswa yang mengikuti sebanyak 490 siswa, dan dilaksanakan mulai  hari Seninsampai hari Kamis, untuk sesi ke-1 hari senin ini alhamdulilah tidak ada siswa yang izin atau Nihil”.pungkas Arief kepala sekolah SMK DB. 

Sumber : https://memoexpos.co/2019/03/25/bupati-bersama-wabup-pantau-unbk-smk-di-jombang/
-
QS Almaidah 51

أِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوْقِعَ بَيْنَكُمْ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغَضَاءَ

*PENGAJIAN YANG BIKIN GALAU*


Saat pengajian rutin Kamis malam Ranting NU Candimulyo edisi 57  di Musala Assalam Perum Grand Village (13/12/2018) ada jamaah yang tanya. Beliau ini pekerjaannya bisnis di facebook.

Seringkali disela aktivitasnya mendapati video pengajian yang justru membuat hati panas. Bagaimana menyikapi ini?


Wakil Rois Syuriah  PCNU Jombang, KH M Soleh selaku narasumber menyarankan,  mboten usah dilihat.

"Kalau niat ngaji ya kepada guru yang mampu membimbing kepada Allah," ucapnya. Yang membuat hati tenang. Yang membuat ucapan dan perilaku semakin baik. Yang membuat ibadah semakin baik. Hubungan kepada Allah dan sesama manusia juga semakin baik.

"Jangan berguru kepada mbah google," ujarnya.

Sebab kita diwajibkan memilih guru. Tidak asal ngambil guru.

Kriteria utama guru yakni akhlaknya. Baru ilmunya. Sebab yang dicontoh ada akhlaknya.


Sebab setan itu banyak ilmu dan alim. Pintar menasehati. Setan hanya minus di akhlak.

Ketika menyuruh Nabi Adam dan Ibu Hawa makan khuldi, setan pakai bahasa menasehati.

QS Al Araf 21


21. وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ
Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua",


Nasehat yang membuat jauh dari jalan Allah. Nasehat yang justru bikin marah, benci, sakit hati, ragu-ragu, galau, sombong, putus asa dan menyesal.

Semoga Allah melindungi kita dari iblis saking bangsa jin dan manusia.


Saat ngaji Hikam Senin malam, Pengasuh PP Almuhibbin Bahrul Ulum Tambakberas KH Moh Djamaludin Ahmad juga mengingatkan agar selektif memilih majelis pengajian.

"Semua orang yang duduk dalam majelis pengajian akan dapat rahmat dan diampuni dosanya. Kecuali jika majelis itu di isi membahas dunia, membahas kejelekan orang atau hanya di isi guyonan," jelasnya.

Berada dalam Majelis yang tiga niku, tidak akan dapat rahmat dan ampunan.


Semoga Allah menyelamatkan kita dari ketiganya.
Amin
- - - -

Download Aplikasi Dupak Penghulu

Setiap Pegawai Negeri Sipil(PNS) yang kini disebut Aparatur Sipil Negara (ASN) tentu menginginkan dapat naik pangkat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Hal ini dikarenakan kenaikan pangkat tersebut tentu akan berpengaruh terhadap perolehan gaji pokok dan tunjangan jabatannya. Untuk jabatan fungsional tertentu dapat naik pangkat empat tahun sekali bila masih memungkinkan, sementara untuk jabatan fungsional tertentu sangat bergantung pada perolehan Angka Kredit(AK) sebagai prasyarat kenaikan pangkatnya. 


Salah satu jabatan fungsional tertentu yang tidak sedikit jumlahnya adalah jabatan fungsional Penghulu. Setidaknya dalam setiap KUA (Kantor urusan Agama) terdapat satu orang penghulu. Jika di seluruh Indonesia terdapat 5 ribuan KUA, tentu ada sejumlah 5 ribuan penghulu. 


Jabatan fungsional penghulu masih terbilang baru. Dasar-dasar penyusunan angka kreditnya masih berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Agama dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 20 tahun  2005, 14A Tahun 2005 tanggal 14 september 2005. Dikarenakan masih dianggap baru, banyak penghulu yang merasa kesulitan untuk menyusun dupak penghulunya. Al-hasil banyak yang tidak bisa naik pangkat sesuai dengan periode kenaikan pangkat yang sewajarnya (4 tahun sekali). Tidak bisa menyusun dupak penghulu sebenarnya lebih kepada kesulitan untuk menentukan bukti fisik apa dari setiap butir kegiatan yang dikerjakan. Kebingungan dalam membuat bukti fisik tersebut berakibat pada malasnya mengumpulkan bukti fisiknya. Akibatnya, dipastikan tidak bisa menyusun dupak dan tidak bisa mengumpulkan poin angka kredit untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. 


Namun, ada banyak cara bisa dilakukan agar bisa menyusun dupak penghulu. salah satunya dengan Aplikasi Dupak Penghulu, Cara Mudah Mengajukan Dupak Penghulu. 

Aplikasi ini memuat beberapa bukti fisik sekaligus datanya tinggal cetak. Data berasal dari aplikasi SIMKAH yang terlebih dahulu dieksport ke Excel. 

Download Aplikasi Dupak Penghulu

ekstrak ke drive c: agar bisa dijalankan. 

Sekilas panduannya bisa dibaca pada link berikut : 

1. Panduan eksport data simkah

2. Panduan Input data user 

3. Proses data Ada sedikit perbedaan antara aplikasi dengan panduan diatas. panduan di atas untuk aplikasi lama. sementara untuk yang di download di atas sudah ada beberapa perubahan menu. Tetapi pada prinsipnya tidak jauh berbeda. 


Dihimpun dari berbagai sumber : http://duniakecilkecil.blogspot.com/2016/06/download-aplikasi-dupak-penghulu.html?m=1


-

JAKARTA – Setelah Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qaumas angkat bicara terkait pelaporan Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj ke polisi oleh ketua Koordinator Laporan Bela Islam (Korlabi) Damai Lubis, kini Komandan Densus 99 Banser, M Nuruzzaman juga mengaku bisa membuktikan terkait adanya kelompok radikal yang mendukung pasangan capres-cawapres 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.
“Pernyataan kiai @saidaqil tentang kelompok radikal bisa kita buktikan, kelompok yg akan merubah NKRI dan Pancasila secara terbuka sudah mendukung salah satu capres,” ujar Nuruzzaman melalui akun twitternya @noeruzzaman, Sabtu (23/03/2019).
Nuruzzaman (mantan sekretaris DPP Gerindra)  juga siap membongkar secara terbuka, tapi ia masih menunggu intruksi. “Kelompok yg mendompleng pilpres/demokrasi utk kepentingan mereka. Sy nunggu intruksi utk membongkar secara terbuka,” lanjutnya.
Sebelumnya, Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qaumas (Gus Yaqut), mengatakan, apa yang dikatakan Kiai Said itu benar. “Bukan menebar kebencian, malah sebaliknya, memberikan peringatan kepada rakyat Indonesia agar berhati-hati dalam memilih pemimpin,” tandasnya.
Ia juga mengatakan, jangan sampai negara hancur gara-gara salah memilih pemimpin bangsa Indonesia, dan alangkah baiknya diteliti terlebih dahulu. “Bukan cuma calon presidennya. Tetapi juga siapa pendukungnya,” ujar Gus Yaqut.
Gus Yaqut tidak mempermasalahkan Kiai Said dilaporkan ke pihak kepolisian. Tapi, ia pun akan menantang dan membuka para eks organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berkumpul.
“Laporkan saja. Nanti kita buka sekalian faktanya,” tandas Gus Yaqut. [ARN]

Sumber : https://arrahmahnews.com/2019/03/24/mantan-wasekjen-gerindra-siap-bongkar-kelompok-radikal-pendukung-prabowo/
- -