BENARKAH MODEL PENGAJIAN ONLINE KYAI NAHDLIYYIN AMBYAR? MENJAWAB TULISAN KH. IMAM JAZULI, Lc

Dengan segala hormat, izinkan saya menanggapi tulisan KH. Imam Jazuli, Lc ini dengan penuh takdhim.

Memahami tulisan ini sebenarnya saya mengalami kesulitan, ada beberapa alinea yang  menurut saya tidak sambung dengan atasnya secara makna. Namun saya akan mencoba membuat kongklusi dari tulisan ini, bahwa penulis ingin mengatakan metode dakwah Nahdliyyin khususnya model dakwah online perlu ada pembenahan sehingga mampu bersaing dengan kelompok masyarakat lain, biar tidak malu maluin, mungkin kurang lebihnya itu yang ingin dikatakan penulis.

Hal tersebut menurut saya adalah sangat baik sebagai otokritik penulis sebagai warga NU apalagi beliau pernah menjadi pengurus NU.

Namun ada sedikit yang menggelitik hati saya benarkah data penulis bahwa pemirsa ngaji online tokoh dai diluar NU lebih banyak ketimbang kyai NU?


Penulis menyebutkan bahwa Aa Gym dan Abdus Somad itu jumlah pemirsanya jutaan, mengalahkan kyai NU, karena menurut penulis faktanya kyai NU mimim penonton saat ngaji online. 

Maka saya mencoba mengumpulkan data terkait hal tersebut. Berikut ini data sajiannya  :

Data saya buat per tanggal 02 Mei 2020, jam 10.00 hingga 17.00, khusus channel Ngaji Online saya pelototin.

1. Channel Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, dalam 5 jam pengajian online nya dilihat 700 kali dengan Subcriber 22.000 berarti penontonnya sebanyak 3,8%

2. Channel Pon Pes Lirboyo Kediri, pengajian onlinenya dalam 10 jam dilihat sebanyak 3.200 kali dengan subcriber 50.000  berarti jumlah penontonnya sebanyak 6,4%

3. Channel Pondok Pesantren Langitan Tuban, dalam 2 jam pengajian online nya dilihat 660 kali, dengan subcriber 10.600 berarti jumlah penontonnya sebanyak 6,2%

4. Channel Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, dalam 2 jam pengajian online nya dilihat sebanyak 377 kali, dengan subcriber 4.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 9,4%

5. Channel Pondok Pesantren Denanyar Jombang, dalam 3 jam pengajian online nya dilihat 162 kali dengan subcriber sebanyak 1.400, berarti jumlah penontonnya sebanyak 11,5% 

6. Channel Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, dalam 6 hari pengajian online nya dilhat 3.00l kali, dengan subcriber sebanyak 944, berarti jumlah penontonnya 100% lebih 

7. Channel Pondok Pesantren Alaqobah Jombang, dalam 1 jam pengajian online nya dilihat 220 kali, dengan subcriber sebanyak 2.900, berarti jumlah penonton sebanyak 7,4% 

8. Channel Pondok Pesantren Al Anwar Sarang Rembang Jawa Tengaj, dalam 1 hari pengajian online nya dilihat 2.199 kali, dengan subcriber 51.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 4,3%

9. Channel KH. Marzuki Mustamar Malang Jawa Timur, dalam sehari pengajian online nya ditonton 1.292 kali, dengan subcriber sebanyak 7.300, berarti jumlah penontonnya 17,6%

10. Ewen Channel (Gus Miftah channel), dalam 13 jam pengajian online nya dilihat 28.000 kali dengan subcriber sebanyak 12.300, berarti jumlah penontonnya 100% lebih

11. Channel New Eje Multimedia (Gus Miftah channel), dalam 1 bulan pengajiannya dilihat 2,2 juta dengan subcriber 155 ribu, berarti jumlah penontonnya sebanyak 100% lebih


12. Channel Religi One (channel nya Abdus Shomad), dalam sehari ceramahanya dilihat 57.000 kali, dengan subcriber 342.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 16,6%

13. Adi Hidayat Official, dalam 1 hari pengajian online nya dilihat 59.000 kali, dengan subcriber sebanyak 723.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 8,1%

14. A'a Gym official (channel aa Gym) dalam sehari ceramahanya dilihat sebanyak 2.500 kali, dengan subcriber 356.000, berarti jumlah penontonya sebanyak 0,7%

15. Albahjah TV (channel Buya Yahya) sehari dilihat 830 kali, dengan subcriber 2.130.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 0,03%

16. Felix Siauw Channel, sehari channel nya dilihat 17.000 kali, dengan subcriber sebannyak 631.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 2,6%


16. Channel kang Nur Sugik tidak ditemukan yang terkait dengan Romadhan tahun ini.

Jika membaca data di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa channel pengajian online yang paling banyak ditonton dengan menggunakan pendekatan prosentase jumlah viewer dan subcriber adalah channel yang menampilkan  pengajian Gus Miftah dan Gus Baha'  yang kebetulan keduanya sebagai representasi tokoh kyai muda NU, bukan Aa Gym atau kang Abdus Shomad yang penontonnya tidak sampai 20%.

Dalam menilai sebuah video online (misal Youtube) itu banyak variabel nya untuk bisa dikatakan laris atau trending itu ada dua yang harus diperhatikan, Yang pertama, jumlah penonton (viewer) dalam kurun waktu tertentu misal sehari atau sebulan, bukan hanya saat live streaming. 

Mungkin saat live streaming viewer nya sedikit namun bukan berarti peminatnya juga sedikit, yang kedua yaitu jumlah subcriber, karena jumlah penonton (viewer) itu rasionya bisa dilihat dari jumlah subcriber, jika subcribernya banyak harusnya viewnya juga banyak, begitupun sebaliknya. 

Namun jika ada sebuah video youtube yang jumlah penontonnya dalam seminggu misalnya, melebihi jauh dari jumlah subcribernya  bisa dipastikan  videonya berkwalitas. Bagaimana jika subcriber nya tinggi namun viewernya rendah, bisa jadi hal ini dipengaruhi oleh tingkat ekonomi yang lagi menurun atau paceklik seperti saat wabah ini. 


Apalagi dalam hal ini penulis membandingkan channel nya para kyai sepuh kharimastik atau gus-gus potensial pondok pesantren dengan channelnya kang Abdus Shomad dan Aa Gym ya sangatlah kurang tepat, sebab channel para kyai dan gus gus itu disamping subcriber nya sedikit karena baru dibuat juga channel yang jauh dari sekedar mengejar viewer, tidak kenal iklan apalagi adsens dan lainnya, jadi murni ikhlas ngaji, beda dengan channel Abdus Shomad dan Aa Gym yang memang sengaja dibranding sedemikian rupa bahkan bisa jadi dipasang robot agar channel bisa mendatangkan viewer yang tentunya juga akan menghasilkan pundi-pundi dollar dalam pembuatannya pun sudah lama yang sudah barang tentu sudah banyak subcribernya.

Mustinya penulis membandingan channel Aa Gym dan kang Shomad itu dengan channel Gus Miftah, Gus Muwafiq atau kyai Anwar Zahid yang sudah lama dan sama-sama punya banyak subcriber.

Viewer youtube itu tidak sama dengan santri dalam makna sebenarnya.

Bukan berarti kyai sepuh yang mempunyai banyak santri namun ketika ngaji online di youtube sepi pemirsa itu kemudian kita anggap luntur kharismanya.

Dunia online itu diiperlukan kamuflase, misal agar banyak pemirsanya sebuah  video diperlukan thumbnail dan judul yang bombastis agar menggugah minat pemirsa untuk menonton. Disitulah kaum pesantren yang belum mampu melakukannya, karena  mungkin bertentangan dengan hati nurani. Berbeda dengan kelompok lain yang dengan mudah membuat judul video sangat bombastis bahkan beda dengan conten nya hanya karena mengejar viewer.

Memang secara konten ngaji online yang dilakukan oleh pondok pesantren terkesan hambar, minim persiapan, background seadanya, komunikasi  dengan pemirsa kurang komunikatif.

Hal ini memang harus dibenahi perlahan karena memang kulturnya seperti itu dan serba terpaksa. Mau tidak mau ngaji online harus dilakukan karena menjadi kewajiban sebab santri sudah berada di rumah semua tidak mungkin kyainya akan mendatangi satu persatu di musim wabah covid-19 seperti ini, namun disisi lain fasilitas technologi yang kurang memadahi, camera dan lighting seadanya,  background pun juga memanfaatkan yang ada. 

Kebiasaan komunikasi searah saat mbalah (mengajar) kitab kuning menjadi problem tersendiri, pun juga dengan bahasa pengantar yang digunakan masih dominasi bahasa lokal (jawa) karena memang pangsanya cuman santri yang mayoritas anak jawa kalaupun ada santri dari luar jawa biasanya juga sudah menguasai bahasa jawa, jadi memang channel nya murni untuk belajar santri bukan channel komersial. 


Mungkin kedepan agar pemirsa nya bisa merambah diluar santri maka harus dibenahi perlahan karena memang ngaji sorogan tidak sama dengan ngaji online dibutuhkan tekhnik tersendiri agar pemirsa betah tongkrongin channel sebab pemirsanya itu nanti tidak hanya santri saja namun masyarakat se Nusantara bahkan se dunia.

Jika disimpulkan bahwa tulisan kyai Imam Jazuli tersebut hanya bermain di ranah perasaan bukan data atau kaum milenial menyebutnya terlalu baper, jadi tenang saja, ambyar itu masih jauh dari panggang.


Afwan.



*Ditulis oleh Abd. Hamid Hamdah, warga NU yang tinggal di desa Tapen-Kudu-Jombang.




Link terkait artikel KH. Imam Jazuli, LC

https://m.tribunnews.com/ramadan/2020/04/30/trend-ngaji-online-dan-ambyarnya-kharisma-kiai-nu-sudah-saatnya-move-on

Komentar

  1. Menarik tulisannya sudah dilengakapi penjelasan pengambilan data. Tp, analisisnya masih sederhana.

    BalasHapus
  2. Juossss kaji khamid Sabrang lor

    BalasHapus

Posting Komentar