Hot Widget

recent/hot-posts

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

KADER NU



Orang NU yang punya kapasitas mengurus NU sebaiknya jadi pengurus NU. Tidak di pusat ya di wilayah atau di cabang atau di ranting. Tidak di NU ya di lembaga dan banom NU. NU punya banyak lembaga dan Banom. Artinya banyak ruang pengabdian. InsyaAllah berkah. Hadlratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari dawuh: 

“Siapa yang mau ngurus NU saya anggap jadi santriku. Siapa yang jadi santriku, saya doakan husnul khatimah sekeluarganya.”

Pengurus NU itu yang benar-benar ngurus NU, bukan sekadar numpang nama. Dulu di masa orang-orang tua, termasuk orang tua saya, ngurus NU itu ya bikin undangan sendiri, diantarkan sendiri (pakai sepeda jengki), nyiapin ‘ubo rampe’ sendiri kalau ada kegiatan. Juga menginisiasi pengajian, ngontel, tanpa harapan bisyarah. Paling banter pulang dibawain berkat. Era sekarang organisasi sudah lebih maju, tetapi polanya hampir sama. 

NU itu organisasi (jam’iyah), bukan sekadar komunitas (jama’ah). Tugas pengurus itu men-jam’iyah-kan jama’ah. Ber-NU itu bukan sekadar beribadah cara NU, tetapi juga berpikir dan bergerak cara NU. Yang beribadah cara NU bukan hanya NU. Banyak organisasi lain yang ubudiyah-nya sama dengan NU, tetapi bukan NU. Men-jamiyah-kan jama’ah NU artinya menyatukan amaliah, fikrah, dan harakah dalam satu tarikan nafas. Dan itu hanya bisa melalui kaderisasi. Ada lima jenis kaderisasi di lingkungan NU: kaderisasi struktural (MKNU), kaderisasi penggerak (PKPNU), kaderisasi calon syuriah (PPWK), kaderisasi fungsional, dan kaderisasi profesional. Sebelum ada jenjang kaderisasi resmi ini, kaderisasi telah dilakukan oleh banom-banom NU dengan banyak nama. Intinya kaderisasi. 

Cara berpikir kader adalah cara berpikir jam’iyah, bukan sekadar jama’ah. Cara berpikir jam’iyah itu terprogram, terstruktur, institusional, sistematis. Ini jadi basis harakah. Semua pengurus NU dan banomnya harus mengikuti kaderisasi. Ini berlaku efektif tiga tahun sejak diputuskan di Muktamar ke-33 di Jombang 2015. Artinya, sejak tahun lalu (2018), hanya kader yang boleh menjadi pengurus NU, lembaga, dan banomnya. Sebelumnya, pengurus NU boleh diisi oleh ‘orang NU’, bukan kader NU. 

Target jangka panjangnya adalah meng-kader-kan semua orang NU.  Setelah itu, tidak ada lagi dikotomi NU kultural dan NU struktural.  Orang NU itu pada akhirnya harus struktural semua: jadi kader dan siap jadi pengurus dan mengabdi di organisasi NU. 

Sekarang PR NU masih banyak. Banyak orang merasa ber-kultur NU, tetapi tidak pernah mengikuti kaderisasi di lingkungan NU. Belum pernah ikut kaderisasi atau ikut kaderisasinya di tempat lain. NU-nya sekadar amaliah. Biasanya yang begini sulit diajak ber-fikrah dan ber-harakah NU. NU-nya fakultatif. Pas butuh mengaku NU. Selebihnya, tidak ikut NU. Jumlahnya lumayan banyak. Mereka sibuk mengaku dan minta rekom NU untuk suatu urusan. Setelah urusan selesai, tidak mau urus NU. Ada juga yang bahkan ikut ‘nimpukin’ pengurus NU ketika NU-nya kesandung masalah. Sedikitnya netral. Inilah penyakitnya orang NU: mengaku NU ketika mau menjabat dan diaku-aku NU ketika sedang menjabat. Umumnya mereka tidak punya loyalitas terhadap organisasi dan pimpinan. Loyalnya terhadap kepentingan.  

Kalau kader mestinya lain. Ada atau tidak ada jabatan loyal kepada organisasi dan pimpinan. Bukan NU kambuhan atau musiman. Mau jadi pengurus yang mengurus, bukan malah jadi urusan. NU tidak butuh orang yang mengaku-aku NU atau diaku-aku NU. NU butuh kader. Dalam kondisi apa pun tetap kader, loyal kepada organisasi dan pimpinan. 

Ber-jam’iyah adalah menjadikan semua orang NU sebagai kader NU. Ini yang sedang intensif dilakukan. Saya berharap, dalam seabad usia NU di tahun 2026, paling tidak separo orang NU sudah jadi kader NU, yang siap mengurus NU dalam kondisi lapang dan sempit, tidak kenal musim, tidak bergantung SK.

Penulis  :  M Kholid Syairazi

SULINGAN BUAH MENGKUDU

Air sulingan buah mengkudu

www.bherenk.com Jombang. Proses penyulingan buah mengkudu diawali dengan buah mengkudu difermentasi selama 1 bulan, kemudian baru disuling setetes demi tetes. Karena kemurnian itulah maka air sulingan mengkudu ini tahan sangat lama.

Manfaat air sulingan buah mengkudu  : 

1. Menormalkan tekanan darah
2. Menekan rasa sakit
3. Menormalkan gula darah
4. Menormalkan kolesterol
5. Membunuh bakteri
6. Mengendalikan alergi
7. Menekan terbentuknya radikal bebas
8. Meningkatkan kekebalan tubuh
9. Pencegahan kanker
10. Meningkatkan gairah seksual
11. Ambeien
12. Kanker payudara
13. Sesak nafas/mengeluarkan dahak dll

Zat-zat di dalam buah mengkudu ternyata benar-benar berguna untuk mengatasi berbagai penyakit sebagaimana dipercaya sejak dulu.

 Air sulingan buah mengkudu merangsang tubuh memproduksi Nitric Oxide (NO), dan Serotonin senyawa yang berguna agar dinding saluran darah menjadi relax dan melebur, menurunkan tekanan darah, membantu berbagai keluhan atau gangguan jantung dan meningkatkan vitalitas pria.

Namun begitu, bagi penderita sakit ginjal, wanita hamil serta gangguan hati jangan minum buah mengkudu dalam bentuk apapun.





Kami jual sulingan buah mengkudu, kapasitas 500ml harga Rp. 60.000


Distributor :
Alamat : Ds. Tapen Kec. Kudu Kab. Jombang

Monggo order No Telp./WA 085646183366

Bisa kirim luar kota via JNE

RAPORT MERAH BUAT KHOFIFAH?

A Yok Zakaria


Oleh :  A Yok Zakaria 

Pemberian Rapor Merah terhadap Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa oleh aktivis Cipayung minus PMII tapi plus IMM yang saat ini sedang viral telah menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat, betulkah Gubernur Jatim gagal menangani Covid-19? Saya tidak punya kompetensi yang cukup untuk ikut-ikutan menganalisa sukses atau gagalnya Gubernur Jatim dalam menangani Covid-19, namun sekilas menurut saya penatalaksaaan pencegahan penyebaran Covid-19 di Jawa Timur on the right track. Jawa Timur adalah provinsi besar, padat dan penuh dinamika, capaian seperti saat ini dalam penanganan Covid-19 merupakan sesuatu yang luar biasa bagi Gubernur Khofifah. 

Namun dalam catatan singkat akhir Ramadhan 1441 H ini saya ingin melihat dari sisi yang berbeda, yaitu disharmoni hubungan Gubernur Khofifah dengan para aktivis mahasiswa minus PMII, sehingga Gubernur Khofifah diberi rapor merah padahal sebenarnya tidak merah.

Adik-adik aktivis itu punya senior, kalau hubungan Gubernur Khofifah dengan para senior aktivis mahasiswa baik insya Allah tidak akan terjadi siaran pers seperti kemarin itu. 

Oke mari kita sejenak melihat spion, kita lihat era Pakde Karwo. Pakde Karwo adalah seorang birokrat tulen (PNS) yang juga aktivis tulen, beliau adalah aktivis GMNI. Selama era Pakde Karwo para aktivis yang berada di Birokrasi Pemprov Jatim diberi peranan penting dan pos jabatan strategis, sebut saja jabatan Kepala BPKAD, Inspektur, Kepala BKD, Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Biro Administrasi Kessos dll itu semua diberikan kepada para birokrat-aktivis seperi Anom Surahno (GMNI), Noerwiyatno (GMNI), Bawon Adhi Yithoni (HMI), Akmal Boedianto (HMI), Hizbul Wathon (PMII). Pakde Karwo tidak pernah membeda-bedakan antara HMI, PMII dengan GMNI sepanjang mereka tokoh aktivis pasti dirangkul dan diberi peranan penting. 

Di era Khofifah rupanya tradisi berubah, beberapa pos penting jabatan birokrasi diberikan kepada gerbong alumni IPDN. Anak-anak muda baru berkarier 3 tahun misalkan, langsung dipromosikan mendahului para seniornya yang sudah puluhan tahun mengabdi bahkan hampir pensiun. Bahkan ngeri sekali melihat akun twitter anggota DPRD Jatim Mathur Husyairi, di mana ada salah satu alumni IPDN yang jelas-jelas melanggar disiplin ASN, bahkan sudah mendapat teguran dinas, ikut terangkut gerbong promosi sehingga membuat resah ASN lain yang rajin masuk kantor dan berkinerja baik.

IPDN adalah sebuah sekolah ikatan dinas Kementerian Dalam Negeri di Jatinangor Jawa Barat yang berseragam ala akademi militer dan memproduk lulusan birokrat Kemendagri. Kampus semi militer tersebut selain warisan orde baru juga merupakan warisan kolonial belanda yaitu OSVIA dan MOSVIA. Dosen IPDN sendiri, Inu Kencana Syafiie berkali-kali meneriakkan pembubaran IPDN, yang didukung oleh berbagai elemen masyarakat, tapi IPDN tetap berdiri kokoh. Mereka mempunyai jiwa korsa yang positifnya bisa untuk membangun semangat kerja tapi negatifnya bisa untuk membangun jejaring KKN yang kuat dan bisa menjatuhkan siapapun yang tidak mereka sukai. Masyarakat berpendapat, ini era otonomi daerah, bukan era kolonial, orde lama dan orde baru yang totaliter, IPDN sudah tidak relevan.

Pada era Khofifah, birokrat-aktivis kurang beruntung, sebagian mereka cukup berada di Bakorwil, walaupun sebagian yang lain terutama birokrat yang KAHMI masih menempati beberapa posisi strategis.

Saya yakin siaran pers seperti kemarin tidak akan terjadi kalau bisa dicegah oleh senior-seniornya terutama yang berada di dalam birokrasi pemerintahan. Inilah yang saya lihat dibalik semua ini, penglihatan saya belum tentu benar dan silahkan dikoreksi kalau saya salah. 

*) Penulis adalah Wakil Ketua PW IKA PMII Jawa Timur



Artikel ini pernah terbit di www.wartamerdeka.info

BENARKAH MODEL PENGAJIAN ONLINE KYAI NAHDLIYYIN AMBYAR? MENJAWAB TULISAN KH. IMAM JAZULI, Lc

Dengan segala hormat, izinkan saya menanggapi tulisan KH. Imam Jazuli, Lc ini dengan penuh takdhim.

Memahami tulisan ini sebenarnya saya mengalami kesulitan, ada beberapa alinea yang  menurut saya tidak sambung dengan atasnya secara makna. Namun saya akan mencoba membuat kongklusi dari tulisan ini, bahwa penulis ingin mengatakan metode dakwah Nahdliyyin khususnya model dakwah online perlu ada pembenahan sehingga mampu bersaing dengan kelompok masyarakat lain, biar tidak malu maluin, mungkin kurang lebihnya itu yang ingin dikatakan penulis.

Hal tersebut menurut saya adalah sangat baik sebagai otokritik penulis sebagai warga NU apalagi beliau pernah menjadi pengurus NU.

Namun ada sedikit yang menggelitik hati saya benarkah data penulis bahwa pemirsa ngaji online tokoh dai diluar NU lebih banyak ketimbang kyai NU?


Penulis menyebutkan bahwa Aa Gym dan Abdus Somad itu jumlah pemirsanya jutaan, mengalahkan kyai NU, karena menurut penulis faktanya kyai NU mimim penonton saat ngaji online. 

Maka saya mencoba mengumpulkan data terkait hal tersebut. Berikut ini data sajiannya  :

Data saya buat per tanggal 02 Mei 2020, jam 10.00 hingga 17.00, khusus channel Ngaji Online saya pelototin.

1. Channel Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, dalam 5 jam pengajian online nya dilihat 700 kali dengan Subcriber 22.000 berarti penontonnya sebanyak 3,8%

2. Channel Pon Pes Lirboyo Kediri, pengajian onlinenya dalam 10 jam dilihat sebanyak 3.200 kali dengan subcriber 50.000  berarti jumlah penontonnya sebanyak 6,4%

3. Channel Pondok Pesantren Langitan Tuban, dalam 2 jam pengajian online nya dilihat 660 kali, dengan subcriber 10.600 berarti jumlah penontonnya sebanyak 6,2%

4. Channel Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, dalam 2 jam pengajian online nya dilihat sebanyak 377 kali, dengan subcriber 4.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 9,4%

5. Channel Pondok Pesantren Denanyar Jombang, dalam 3 jam pengajian online nya dilihat 162 kali dengan subcriber sebanyak 1.400, berarti jumlah penontonnya sebanyak 11,5% 

6. Channel Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, dalam 6 hari pengajian online nya dilhat 3.00l kali, dengan subcriber sebanyak 944, berarti jumlah penontonnya 100% lebih 

7. Channel Pondok Pesantren Alaqobah Jombang, dalam 1 jam pengajian online nya dilihat 220 kali, dengan subcriber sebanyak 2.900, berarti jumlah penonton sebanyak 7,4% 

8. Channel Pondok Pesantren Al Anwar Sarang Rembang Jawa Tengaj, dalam 1 hari pengajian online nya dilihat 2.199 kali, dengan subcriber 51.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 4,3%

9. Channel KH. Marzuki Mustamar Malang Jawa Timur, dalam sehari pengajian online nya ditonton 1.292 kali, dengan subcriber sebanyak 7.300, berarti jumlah penontonnya 17,6%

10. Ewen Channel (Gus Miftah channel), dalam 13 jam pengajian online nya dilihat 28.000 kali dengan subcriber sebanyak 12.300, berarti jumlah penontonnya 100% lebih

11. Channel New Eje Multimedia (Gus Miftah channel), dalam 1 bulan pengajiannya dilihat 2,2 juta dengan subcriber 155 ribu, berarti jumlah penontonnya sebanyak 100% lebih


12. Channel Religi One (channel nya Abdus Shomad), dalam sehari ceramahanya dilihat 57.000 kali, dengan subcriber 342.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 16,6%

13. Adi Hidayat Official, dalam 1 hari pengajian online nya dilihat 59.000 kali, dengan subcriber sebanyak 723.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 8,1%

14. A'a Gym official (channel aa Gym) dalam sehari ceramahanya dilihat sebanyak 2.500 kali, dengan subcriber 356.000, berarti jumlah penontonya sebanyak 0,7%

15. Albahjah TV (channel Buya Yahya) sehari dilihat 830 kali, dengan subcriber 2.130.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 0,03%

16. Felix Siauw Channel, sehari channel nya dilihat 17.000 kali, dengan subcriber sebannyak 631.000, berarti jumlah penontonnya sebanyak 2,6%


16. Channel kang Nur Sugik tidak ditemukan yang terkait dengan Romadhan tahun ini.

Jika membaca data di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa channel pengajian online yang paling banyak ditonton dengan menggunakan pendekatan prosentase jumlah viewer dan subcriber adalah channel yang menampilkan  pengajian Gus Miftah dan Gus Baha'  yang kebetulan keduanya sebagai representasi tokoh kyai muda NU, bukan Aa Gym atau kang Abdus Shomad yang penontonnya tidak sampai 20%.

Dalam menilai sebuah video online (misal Youtube) itu banyak variabel nya untuk bisa dikatakan laris atau trending itu ada dua yang harus diperhatikan, Yang pertama, jumlah penonton (viewer) dalam kurun waktu tertentu misal sehari atau sebulan, bukan hanya saat live streaming. 

Mungkin saat live streaming viewer nya sedikit namun bukan berarti peminatnya juga sedikit, yang kedua yaitu jumlah subcriber, karena jumlah penonton (viewer) itu rasionya bisa dilihat dari jumlah subcriber, jika subcribernya banyak harusnya viewnya juga banyak, begitupun sebaliknya. 

Namun jika ada sebuah video youtube yang jumlah penontonnya dalam seminggu misalnya, melebihi jauh dari jumlah subcribernya  bisa dipastikan  videonya berkwalitas. Bagaimana jika subcriber nya tinggi namun viewernya rendah, bisa jadi hal ini dipengaruhi oleh tingkat ekonomi yang lagi menurun atau paceklik seperti saat wabah ini. 


Apalagi dalam hal ini penulis membandingkan channel nya para kyai sepuh kharimastik atau gus-gus potensial pondok pesantren dengan channelnya kang Abdus Shomad dan Aa Gym ya sangatlah kurang tepat, sebab channel para kyai dan gus gus itu disamping subcriber nya sedikit karena baru dibuat juga channel yang jauh dari sekedar mengejar viewer, tidak kenal iklan apalagi adsens dan lainnya, jadi murni ikhlas ngaji, beda dengan channel Abdus Shomad dan Aa Gym yang memang sengaja dibranding sedemikian rupa bahkan bisa jadi dipasang robot agar channel bisa mendatangkan viewer yang tentunya juga akan menghasilkan pundi-pundi dollar dalam pembuatannya pun sudah lama yang sudah barang tentu sudah banyak subcribernya.

Mustinya penulis membandingan channel Aa Gym dan kang Shomad itu dengan channel Gus Miftah, Gus Muwafiq atau kyai Anwar Zahid yang sudah lama dan sama-sama punya banyak subcriber.

Viewer youtube itu tidak sama dengan santri dalam makna sebenarnya.

Bukan berarti kyai sepuh yang mempunyai banyak santri namun ketika ngaji online di youtube sepi pemirsa itu kemudian kita anggap luntur kharismanya.

Dunia online itu diiperlukan kamuflase, misal agar banyak pemirsanya sebuah  video diperlukan thumbnail dan judul yang bombastis agar menggugah minat pemirsa untuk menonton. Disitulah kaum pesantren yang belum mampu melakukannya, karena  mungkin bertentangan dengan hati nurani. Berbeda dengan kelompok lain yang dengan mudah membuat judul video sangat bombastis bahkan beda dengan conten nya hanya karena mengejar viewer.

Memang secara konten ngaji online yang dilakukan oleh pondok pesantren terkesan hambar, minim persiapan, background seadanya, komunikasi  dengan pemirsa kurang komunikatif.

Hal ini memang harus dibenahi perlahan karena memang kulturnya seperti itu dan serba terpaksa. Mau tidak mau ngaji online harus dilakukan karena menjadi kewajiban sebab santri sudah berada di rumah semua tidak mungkin kyainya akan mendatangi satu persatu di musim wabah covid-19 seperti ini, namun disisi lain fasilitas technologi yang kurang memadahi, camera dan lighting seadanya,  background pun juga memanfaatkan yang ada. 

Kebiasaan komunikasi searah saat mbalah (mengajar) kitab kuning menjadi problem tersendiri, pun juga dengan bahasa pengantar yang digunakan masih dominasi bahasa lokal (jawa) karena memang pangsanya cuman santri yang mayoritas anak jawa kalaupun ada santri dari luar jawa biasanya juga sudah menguasai bahasa jawa, jadi memang channel nya murni untuk belajar santri bukan channel komersial. 


Mungkin kedepan agar pemirsa nya bisa merambah diluar santri maka harus dibenahi perlahan karena memang ngaji sorogan tidak sama dengan ngaji online dibutuhkan tekhnik tersendiri agar pemirsa betah tongkrongin channel sebab pemirsanya itu nanti tidak hanya santri saja namun masyarakat se Nusantara bahkan se dunia.

Jika disimpulkan bahwa tulisan kyai Imam Jazuli tersebut hanya bermain di ranah perasaan bukan data atau kaum milenial menyebutnya terlalu baper, jadi tenang saja, ambyar itu masih jauh dari panggang.


Afwan.



*Ditulis oleh Abd. Hamid Hamdah, warga NU yang tinggal di desa Tapen-Kudu-Jombang.




Link terkait artikel KH. Imam Jazuli, LC

https://m.tribunnews.com/ramadan/2020/04/30/trend-ngaji-online-dan-ambyarnya-kharisma-kiai-nu-sudah-saatnya-move-on

DILEMA NGUSTADZ



Arif Maftuhin*
Salah satu kebahagian saya tahun ini adalah bisa puasa penuh di rumah, tanpa perlu ke sana kemari untuk memenuhi jadwal imam taraweh dan ceramah Ramadan di masjid-masjid sekitar. Saya bahagia karena tidak perlu berhdapan dengan 'dilema Ngustadz' yang selalu menghantui pikiran setiap Ramadan tiba.

Walaupun punya sedikit pengalaman mondok, sekolah juga di madrasah dari nol sampai S3, memberi ceramah kegamaan itu tidak pernah menjadi cita-cita dan hobi. Saya selalu merasa canggung saat harus mengisi pengajian. Saya selalu merasa khawatir gagal memenuhi ekspektasi audien. Saya juga was-was jangan-jangan apa yang saya sampaikan tidak menarik. Tidak jarang, saya ingin menyudahi ceramah ketika waktu yang disediakan oleh panitia baru separoh jalan dan saya merasa gagal menyambungkan hati/mood dengan audiens.

Maka, kalau pun kemudian saya bersedia menjadi khatib Jumat di sebuah masjid, selalu ada alasan 'terpaksa' yang membenarkan. Saya bersedia menjadi khatib di masjid UIN, salah satu dari hanya tiga masjid yang saya khutbahi, karena mimbar itu bisa menjadi corong edukasi pendidikan inklusif di kampus. Maka di mimbar itu saya hanya berbicara tentang materi yang tidak akan disampaikan orang lain: inklusi pendidikan, hak difabel, dan hal-hal yang terkait itu. Tidak lebih.

Demikian juga ketika saya menjadi khatib di masjid kampung saya. Saya terpaksa bersedia karena harus memberi suara yang berbeda dari dominasi khatib nganu yang mengajarkan Islam nganu. Maka, saya lebih sering khutbah dengan tema anti-tesis pesan para khatib nganu. Mungkin, tanpa adanya kaum nganu saya tidak punya alasan untuk bersedia memberi khutbah.

Demikian juga dengan Ramadan. Saya merasa 'wajib' bersedia mengisi karenakhawatir (berdasarkan pengalaman) bahwa orang-orang yang tidak kompeten akan mengisi panggung-panggung keagamaan. Pengalaman itu nyata. Coba cek daftar penceramah di sebuah masjid kota. Siapa saja yang menjadi penceramah. Anda akan temukan beberapa orang yang entah darimana asalnya bisa menjadi 'ustad'.

Kalau selama pandemi ini orang komplain karena banyak orang bicara Corona padahal bukan orang kesehatan, maka dalam hal agama, hal ini sudah lama terjadi. Orang-orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang cukup diberi panggung sebagai juru bicara agama. Gus, Nganu itu sudah jelas tidak memiliki pendidikan agama yang cukup, tetapi koq bisa diundang ngaji di masjid-masjid seluruh negeri? Si Polan yang mualaf, tetapi kemana-kemana diberi suara untuk bicara agama.

Nah, daripada itu terjadi, maka saya 'terpanggil' untuk bersedia dengan penuh dilema. Jika ada pilihan lain, jika daftar sudah penuh dengan para kiai dan ustadz yang memang kompeten, saya akan berpikir lima kali untuk bersedia, untuk menemukan alasan khusus mengapa saya perlu ada. Jika tidak, mending saya tidak perlu saja. Corona tahun ini membantu saya untuk menghindari dilema itu. Barakallahu lana wa Corona.




*Pengajar di UIN Sunan Kalijaga. 

BRONTOSENO, KEDAI KOPI YANG RAMAH DAN NYAMAN

Hema Peristiwanto, pemilik kedai Brontoseno
 www.bherenk.com  Masyarakat Indonesia memang penikmat kopi, mulai generasi tua hingga generasi milenial kini gandrung akan kopi.

Banyak permintaan kopi memunculkan  banyaknya ide untuk membuka gerai kopi, warung kopi, coffeshop atau apalah namanya yang pada fokus pelayanannya adalah menyajikan kopi sebagai menu andalan.

Agar banyak pengunjung yang mau datang di kedai kopi maka banyak dari pemiliknya memberikan layanan plus misalkan ada internet gratis (wifi), TV cable, fill music dll.

Adalah Hema Peristiwanto pemuda desa yang mencoba keberuntungan dengan membuka kedai kopi di kampung halamannya. Pria ini  membuka kedai kopi yang berlokasi di desa Tapen Kec Kudu Kab Jombang, atau tepatnya di pojok pertigaan pasar Tapen.

Lelaki yang sudah berkeluarga ini menuturkan, awal ide membuka kedai kopi adalah karena melihat peluangnya cukup lumayan, sekitar dua tahun yang lalu di daerah sini belum ada kedai kopi yang lumayan representatif waktu itu mas.

Jadi apa salahnya saya mencoba membuka usaha kedai kopi atau warkop yang lokasinya berada di pinggir jalan raya. Tempatnya memang nggak luas namun kami tata senyaman mungkin, tutur lelaki yang pernah bekerja di Bali ini kepada www.bherenk.com

Kedai Kopi Brontoseno
Selain kopi juga tersedia minuman lainnya, susu hangat, es jeruk, teh tarik dll kami juga ada menu makanan andalan Ayam Geprek, Lodeh Telor dadar, Mie Telor dadar dll. Rata rata pengunjung per hari ada 30 hingga 100 dihari biasa, hari libur bisa lebih.Kami juga ada fasilitas wifi anti lemot, tv music dll yang penting pengunjung harus nyaman.

Alhamdulillah omsetnya lumayan mas bisa melebihi kerja saya ketika di Bali, lebih lebih saya bisa berkumpul dengan keluarga ini sangat mebahagiakan,
Namun saat wabah covid-19 seperti sekarang ini kami hanya buka sesuai anjuran pemerintah demi memutus mata rantai penyebaran virus, kami juga sediakan tempat cuci tangan dan pembeli harus jaga jarak duduknya, tutur Hemma panggilan akrab pemilik kedai kopi Brontoseno mengakhiri.

Menu Kedai Brontoseno
Kopi Cangkir = 3.000
Teh Hangat   = 3.000
Susu              = 4.000

Nasi Ayam Geprek = 10.000

Nasi Lodeh Telor Dadar = 8.000

Nasi Pecel Telor Dadar = 8.000

Mie Telor  Dadar = 8.000

Dll

Rokok

Melayani DO juga dengan menghubungi No Telp. 085608529434