MUHAMMADIYAH HARUS MEMINTA MAAF ATAS TRAGEDI JOGJA

KH. Rohmatullah Akbar (Gus Bang)               H.Maghfur Mujtahid


www.bherenk.com Jombang. Melihat kondisi  "tragedi" Jogja yaitu warga Muhammadiyah yang menolak warga NU mengadakan kegiatan harlahnya padahal otoritas pemilik tempat yaitu keraton Jogja telah memberikan izin, hal ini sangat mencederai rasa persaudaraan serta toleransi dua organisasi besar yang selama ini telah terbangun dengan baik.

H. Maghfur Mujtahid, salah satu tokoh pemuda NU Jombang merasa penolakan warga muhammadiyah terhadap warga NU  ini sangat memprihatinkan. Pihak Muhammadiyah harusnya meminta maaf atas peristiwa ini jika memang benar penolakan itu hanya ulah oknum, tidak kemudian hanya menyalahkan oknum saja.

Mengkambinghitamkan pemasang banner penolakan kegiatan warga NU di sekitar masjid keraton Jogja sebagai penyusup di Muhammadiyah tanpa disertai permintaan maaf serta mempersilahkan warga NU mengadakan kegiatan di masjid kraton adalah  suatu hal yang tidak bertanggungjawab dan terkesan cuci tangan.

Tragedi penolakan ini menjadi pembenar bahwa  muhammadiyah dijadikan tempat berlabuhnya pengikut salafy dan wahaby pasca rumah mereka dirobohkan oleh negara.

Dugaan organisasi Muhammadiyah yang sudah  tersusupi para perongrong negara pengusung khilafah  sedang melancarkan "skenario besar" secara  terstruktur dan massiv terhadap NU semakin susah dibantah.

Gelombang kegeraman warga NU sudah terkadung menghempas hingga ke pelosok negeri, ini adalah tragedi intoleransi. Gesekan dan konfrontasi horisontal antar warga NU vs MU di akar rumput bisa sewaktu waktu terjadi.  Ketua pemuda muhammadiyah pusat yang sekonyong konyong mengajak bertemu sekretaris PP GP  Ansor tidak bermakna apa apa jika mereka masih pongah tidak mengakui kesalahannya serta tidak mau meminta maaf, sesal abah maghfur pengusaha unggas ini.

Secara terpisah KH. Rohmatullah Akbar (Gus Bang) pengasuh Pondok Pesantren Arrisalah Darul Ulum Peterongan Jombang  menyampaikan sejatinya persoalan Jogja ini simple penyelesaiannya yaitu  minimal pimpinan  Muhammadiyah setempat atau kalau perlu pimpinan pusatnya secara kelembagaan harusnya bisa legowo dan arif meminta maaf secara terbuka dan menyadari kesalahannya serta mempersilahkan warga NU mengadakan kegiatan  di Masjid Kraton Jogja.

Selama ini warga NU senantiasa menjaga toleransi dengan semua agama dan ormas ormas yang mengakui NKRI termasuk dengan muhammadiyah terbukti dengan ikut menjaga kondusifitas serta keamanan mereka ketika mengadakan kegiatan, warga NU senantiasa terlibat pengamanan. Namun kasus Jogja menyadarkan warga NU akan makna toleransi yang sesungguhnya.


Masjid keraton Jogja itu ikon perjuangan leluhur NU dan Muhamamdiyah Jogja, jadi mereka jangan buta sejarah serta jangan main claim karena akan membuat ahistoris, kalau mereka mau meminta maaf insyaAllah warga NU akan memaafkan dan kasus Jogja ini akan selesai tidak melebar kemana mana, kalau mereka bisa memulai sebuah permainan  harusnya mereka  juga  bisa mengakhiri,  pungkas gus bang.

Komentar