Efektifkah Penyemprotan Disinfektan di Tempat Umum? Kata Pakar: Bahaya, Jika Terhirup Bisa Menyebabkan Luka di Paru-Paru

Wabup Gresik, Semprotkan cairan disinfektan ke Gedung Kantor Bupati Gresik (25/3/2020) 

www bherenk.com– Perang lawan Covid – 19 sedang digalakkan di negeri ini. Mulai pemerintah pusat, propinsi, kabupaten hingga pemerintahan Desa tengah menggalakkan penyemprotan cairan disinfektan di tempat – tempat Umum dan beberapa tempat perkantoran dengan maksud untuk mengantisipasi penyebaran pandemi covid-19 atau virus corona.

Sebenarnya seberapa efektif penyemprotan disinfektan dalam membasmi virus corona? Hal tersebut dijelaskan seorang pakar ahli mikrobiologi dalam saluran Youtube Ganjar Pranowo.

Seperti dalam video unggahan saluran Youtube Ganjar Pranowo pada Minggu (22/3) lalu, Gubernur Jawa Tengah sedang membahas virus corona atau covid-19 bersama pakar atau spesialis mikrobiologi klinik  dr. Rebriarina Hapsari.M.Sc. Sp. MK.  Dalam obrolan di video itu,  Ganjar menanyakan kepada Rebriarina seberapa efektif penyemprotan cairan disinfektan.


” Sebenarnya penting enggak sih menyemprot itu? Kan akhirnya semua seperti demam berdarah dia pikir sehingga seperti nyamuk yang disemprot. Nah si virus itu apa perlu disemprot?,” tanya Ganjar.

Rebriarina menjelaskan sebenarnya tak perlu dilakukan penyemprotan di tempat umum. Ia mengatakan akan lebih efektif jika permukaan yang sering disentuh atau tersentuh dibersihkan dengan cara diusap pakai kain yang sudah diberi disinfektan.

” penyemprotan di tempat umum menurut saya tidak diperlukan, karena yang lebih efektif justru permukaan yang mungkin tempat terkena virus contohnya di bus kota, permukaan yang sering dipegang orang itu dielap (diusap), sehingga itu akan memberikan waktu kontak yang cukup dari bahan aktif itu untuk merusak virus,” jelasnya.

Rebriana menambahkan,  tindakan penyemprotan dapat berbahaya jika bahan aktif (disinfektan) terhirup oleh manusia dan masuk ke dalam paru-paru. Ia menjelaskan bahwa paru-paru tak sekuat kulit manusia.


https://www.djarum.com/home

“Perlu diperhatikan kalau misalkan ada penyemprotan di komunitas luar yaitu banyak orangnya. Nah ini akan kita hirup bahan aktif (disinfektan) itu, itu akan berbeda kalau misalkan terkena kulit yang memang kulit diciptakan Tuhan YME lebih tahan. Kalau sampai bahan aktif itu terhirup oleh kita, sel paru-paru kita itu tidak sehebat kulit, itu akan lebih rentan,” lanjutnya.

Dijelaskan oleh Rebriarina,  Cairan kimia disinfektan yang terhirup dan masuk ke dalam paru-paru akan menyebabkan timbulnya luka.

“Menurut saya itu akan menyebabkan luka di paru-paru dan bahkan nanti bisa menimbulkan keganasan,” tambahnya.

Rebriarina juga menegaskan bahwa kasus ini berbeda dengan virus flu burung, yang penyemprotannya  bisa dilakukan langsung kepada unggas seperti ayam ataupun berbagai jenis burung. Jika penyemprotan disinfektan terhirup manusia akan dapat menimbulkan kanker pada paru-paru.

“Mungkin masyarakat melihat kalau semprot itu efektif contohnya pada kasus flu burung, di mana burung yang terinfeksi itu disemproti semua. Kita harus melihat karena burung atau ayam itu tidak bisa mandi, sedangkan kita manusia itu bisa mandi dan membersihkan diri sendiri,” jelas Rebriana.

“Dan burung atau ayam itu tidak sampai 3 tahun dipanen, mereka itu cepat dipanen jadi kerusakan pada paru-parunya tidak dilihat atau tidak diperhatikan. Tapi kalau kita manusia menghirup bahan aktif seperti itu tentu saja akan membuat berefek luka pada paru dan bahkan bisa menyebabkan misalnya kanker paru, mungkin spesialis paru yang bisa menjelaskan,” ungkapnya. (shol).

Artikel ini Pernah dimuat di www.panjinasional.net




Komentar