Featured

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 24 Januari 2020

Banyak Santri belajar ke Timur Tengah untuk mempelajari manuskrip ulama Indonesia, Ironis...!


CURHAT GUS BAHA’: KEMBALILAH KE TRADISI ULAMA, INDONESIA ITU SEKARANG JADI KIBLAT

Sebuah muhasabah

Ini rekaman curhat Gus Baha’ ketika diminta untuk mengisi mauidhah hasanah walimatul ursy di Magetan. Ini rekaman penting, karena jadwal, tujuan dakwah Gus Baha' dan pesan-pesan beliau terekam jelas.


***

Tidak, saya tidak terbiasa keluar. Semua ngaji saya itu mengaji istiqamah, membaca kitab. Jarang keluar, apalagi acara sejenis itu, tidak pernah. Semua rekaman saya itu dari saya mengaji di sini dan di Yogya. Saya ngaji umum itu bisa dihitung, baru enam atau tujuh kali, bersedia diundang karena yang mengundang ada hubungan posisi lebih tua, seperti di Pasuruan Kyai Hamid. Saya tidak pernah menerima undangan.
Tidak, saya tidak terbiasa keluar di acara seperti itu. Semua ngaji saya itu ngaji rutin, bukan ngaji apalagi walimatul ursy. Tidak, tidak pernah.
Saya jarang keluar, kecuali ada kelas. Itu masih mungkin.

Di Lirboyo saya punya jadwal setahun sekali. Di Pak Quraish Shihab setahun sekali, tapi juga di kelas, bukan acara sejenis itu. Di Sidogiri, saya malah tiap bulan hingga saat ini. (karena) istri saya dari Sidogiri. Tiap bulan, saya membaca kitab di sana. Kalau pengajian umum saya tidak pernah. Lalu, ada beberapa pengajian yang di luar, tapi itu juga jarang. Itu di Ikatan alumni Al-Anwar Sarang, kadang di Jepara, kadang di Demak, tapi faktornya (karena itu) acara Sarang.
Di sini orang alim yang bersedia mengaji umum antara lain Gus Rojih (Ubab Maimoen), Gus Qoyyum, Gus Wafi'. Saya tidak (bersedia), tapi untuk pengajian mengkhatamkan kitab ya lebih banyak saya, (justru) karena tidak pernah keluar itu. Saya pernah mengkhatamkan Al-Hikam, banyaklah. Anak-anak itu mendengar rekaman saya kan rekaman ngaji (kitab), bukan pengajian umum.

KEMBALILAH KE ADAT ULAMA PENDAHULU: INGIN NGAJI DATANGLAH KE KYAI

Gus Zaid sebenarnya maunya mengundang saya, tapi saya agak keberatan (?), ribet. Saya itu termasuk, apa ya, agak dengan tanda petik itu memang agak menentang adat "mencintai orang alim" yang selalu ribet, tidak lebih praktis.
Sebenarnya kan seperti Mbah Moen mengajar, saya juga mengajar, Gus Mus juga. Tapi caranya itu. Yang ribet itu mereka harus mengundang, bertemu. Saya termasuk orang yang nggak ridla. Apa itu, tidak mood. Akhirnya saya juga ngotot, ngotot hanya mengaji di sini. Cuma ya untuk silaturahim, mungkin beberapa saya silaturahim. Tapi ya waktunya terserah saya.🙂

Jadi ...
Juga banyak gus-gus dari Lirboyo, Ploso, karena tahu saya susah diundang, biasanya membawa rombongan ke sini untuk mengaji, kadang minta sanad. Tapi karena mereka kadang-kadang ke sini akhirnya ya saya silaturahim ke sana (ke tempatnya). Biasanya itu pun tidak mengaji umum.🙂
Umum di sini Rabu, tapi ngaji berurutan. Dengan Minggu, tapi tidak ada jam, karena satunya di madrasah. Kamis di Sarang.

Desember (2019) ini juga ada pengurus PBNU (bagian lembaga dakwah) yang mengaji di sini. Terus saya pesan ke mereka: Adat-adat leluhur itu jangan dihilangkan. Kalau ingin mengaji ya ke kyai. Jangan karena dia merasa PBNU, terus mengatur ngaji kyai. 😊 Tapi ya nurut lho mereka.🙂

Akhirnya di Indonesia ini orang kaya bisa mengundang kyai. Orang miskin tidak bisa. Kalau mengundang pasti habis dana banyak. Makanya saya bilang, kalau mau ngaji datang saja. Di sini ngaji Rabu banyak sekali: keluarga Lirboyo, kadang keluarga Syaikhona Kholil, banyak. Ya itu tadi: barokahnya adalah mereka mulai efisien.

Lha ceramah umum itu kan ribet: menata panggung, panitia debatlah, wah ribet. Saya juga tidak anti, tapi itu harus diminimalkan, menurut saya harus dikurangi sebanyak-banyaknya.

Saya kemarin diundang di Tebuireng, diajak masuk ke kamar pribadinya Mbah Hasyim. Di situ ada kitab-kitab yang sudah beliau selesaikan, ada yang belum beliau selesaikan.Ada yang ditulis ketika masih muda, setengah tua, sampai fi nihayati amri sampai ketika beliau klimaks.
(Gus-gus keturunan Mbah Hasyim) itu minta,"Gus ini disortir kapan Mbah Hasyim punya pendapat ini. Ini pendapat yang sudah beliau cabut, atau beliau sudah tamkin fokus yakin dengan itu."

Satu kamar itu cucunya Mbah Hasyim semua, termasuk Gus Sholah. Jadi akhirnya alhamdulillah naskah2 Mbah Hasyim itu terbuka (terungkap, perlu dilestarikan dan dikaji oleh ulama). Saya bilang, ini baru benar.
Kalau seperti saya diundang ngaji umum, Mbah Moen ngaji umum, Gus Mus pengajian umum? Ya nggak apa-apa dituruti, tapi setahun sekali atau dua tahun sekali. Jadi akhirnya naskah2 Mbah Hasyim itu bermanfaat. Itu barokahnya Gus Ishom. Semua acara2 di pondok besar itu kadang nuwunsewu hanya sekedar basa-basi.

PENTINGNYA HITUNGAN KRONOLOGIS DALAM DISIPLIN ULAMA

Naskah Mbah Hasyim itu kalaupun selesai harus ditanggali, kalau tidak ditanggali bahaya buat ilmu karena takutnya dikarang ketika beliau muda. Kan kemarin pernah ada kejadian agak error ya. Jadi kubu sebelah itu anti-malam 7 hari, 40 hari berdasar kitabnya Mbah Hasyim. Itu kan ibarat orang fanatik PPP jadi anti PKB karena berdasarkan era duluan PPP atau sebaliknya.

Dalam disiplin ulama, tanggal itu kan penting. Itu keluarga Tebuireng baru terhenyak karena ada debat kritikan 7 harian - 40 hari berdasar kitab Mbah Hasyim. Itu pasti akibat penanggalan, mungkin dikarang ketika muda, atau maksud beliau tidak seperti itu. Atau kondisi tertentu, misalnya seperti kondisi di era Jawa Timur yang abangan, 7 harian itu ritualnya benar-benar abangan, bukan 7 harian yang gambaran sekarang ini. Kan bisa saja seperti itu. Ada waqiatu ainin, satu kejadian khusus yang membuat Mbah Hasyim trauma dengan kejadian itu (misalnya di kampung Jawa Timur atau Jawa Tengah, atau mana saja)
Tapi karena alat kitab (?) (penanggalan) itu tidak lengkap, dikira Mbah Hasyim itu berpendapat demikian. Dan memang ta’birnya gitu, nanti kejadiannya biasanya seperti itu: waqiatu ainin. Itu saya bilang ke Gus Fahmi, adiknya ....

Ini khaulnya Gus Dur saya diminta, tapi saya bilang, “Saya mau datang, tapi syaratnya disediakan tim ilmiah dulu sebelum acara.” Mereka sanggup.
Karena itu tadi, sayang sekali (kalau naskah tidak lestari). Yang pertama ngotot naskahnya Syaikhona Kholil diterbitkan, itu cucu-cucunya sering ke sini, sampai semalaman. Kemarin diterbit di PWNU Jawa Timur... dan Gus ... itu ulama jadi .... Saya itu ikut mendorong cucu-cucunya untuk melestarikan.
Artinya apa? Karena tadi itu: berpuluh-puluh tahun sibuk (acara ribet), sampai naskah mbahnya sampai terabaikan. Musibah! 🤦‍♂️ Jadi seremonialnya benar-benar ... apa ya (melalaikan). Ya akhirnya kalau NU diginiin terus itu kalah.

Saya bilang ke Gus Mus, matur tentang itu, mungkin beliau setuju juga. Alhamdulillah gus-gus itu mulai mencari naskah mbah-mbahnya. Dan ternyata banyak sekali. Pondok2 yang nggak terkenal, ternyata mbah2nya punya naskah. Misalnya kemarin saya  baru mendapat kiriman file pdf karangan Habib Salim, Mbahnya Habib Jindan. Kemarin ketemu Habib Jindan di Lasem, “Ini Gus njenengan takhrij.” Beliau dari Jakarta. Habib Salim mbah Habib Jindan itu murid Syaikhona Kholil. Beliau pengarang kitab juga.

Jadi di Indonesia, orang-orang alim itu benar-benar susah. Tapi saya ini mau bikin gerakan: gus-gus itu saya minta mengkaji kitab mbahnya, buyutnya. Sekarang pengajian sudah tidak NU .... Bangsane seneng rame-rame. 😆🤦‍♂️
Karena tadi, rasanya sayang sekali. Naskah ulama Indonesia dengan Yaman itu sama karena dulu ketika mengaji Sayyid Zaini Dahlan sudah orang Indonesia, mungkin malah jumlahnya imbang. Syaikhona Kholil menangi* Sayyid Zaini Dahlan bareng Syaikh Habib Ali Al-Habsy yang mengarang Simtuddurar. Bareng yang punya Iannatuththalibin, Sayyid Abu Bakar Syatha, yang cucu beliau ada yang hidup di sini hingga meninggal Sayyid Hamzah Syatha.

Jadi saya baru saja kampanye. Tapi alhamdulillah naskah2 itu ada. Tapi ya itu cuma diperlakukan sebagai pajangan. Matekna wong tenan! 😆🤦‍♂️ Sebenarnya dirawat, tapi kalau dzuriyyahnya tidak mau peduli mau apa coba? Apa artinya terbit kalau tidak ada yang mau mengulas, membedah, tidak ada yang mensosialisasikan, kan nggak ada gunanya juga. Kata kuncinya adalah keseriusan kita.

Saya kemarin sudah bilang ke Gus Sholah, saya mau datang ke Tebuireng, tapi saya bagian membaca kitabnya Mbah Hasyim. Sudah terbit, ada. Tapi kalau cucunya tidak peduli saya tidak mau. Coba Ihya’ itu, meski sudah terbit kalau tidak ada orang yang membacanya buat apa? Kan untuk pajangan saja. Apa artinya Fathul Qarib kalau tidak dibaca. Kalau terbitnya terbit, tapi ...

Nah. Ini baru dinasionalkan, bahkan internasional. Kemarin PBNU bekerja sama dengan Habib Umar. Beliau diminta membaca kitabnya Mbah Hasyim. Kita mati-matian di NU karena kemarin ada benturan habaib dan kyai lalu kita minta. Dan Habib Umar sangat menghormati kita, menyayangi kita. Saya sering punya tamu, muridnya Habib Umar, (untuk) diskusi.

Kalau kita tidak begini, habislah. Karena tadi. Setiap orang menyukai kyai di Indonesia itu (seleranya) ngatur kyai. Wah amit-amit. 😅 Kita ini adatnya masih seperti itu. Jadi orang-orang kaya yang mencintai Tebuireng, mencintai Syaikhona Kholil itu ya ngatur2 kyai. Tapi ketika diminta, mereka tidak mau.
Misalnya tadi, diminta sedikit melonggarkan waktu untuk mengkaji kitab. Misalnya begini, tiap mengadakan pengajian mereka habis 50 juta itu mau, tapi orang kaya diminta 50 juta untuk mencetak kitabnya Mbah Hasyim, mereka nggak mesti mau. Padahal sama2 mereka menghabiskan uang untuk agama. Tapi kalau seleranya sendiri, mereka ingin punya acara, bagi mereka nggak masalah habis 50 juta. Tapi untuk membiayai naskah, urun 2 juta saja enggan.

Artinya apa? Mereka mau membiayai kalau kita menurut pada keinginan mereka. Ketika kita yang minta mereka menuruti keinginan kita, mereka enggan.
Itu jika dikalikan juta kejadian, seperti apa jadinya kita? Menurut saya itu sudah lampu merah. Semua pembiayaan besar itu berdasarkan selera orang2 kaya, bukan berdasar selera kyai. Orang2 kaya Surabaya itu milyarder banyak. Kalau ada acara pengajian akbar semalam, mereka biasa keluar 100 jt. Tapi kalau misalnya kyainya yang minta, misalnya sekali-kali acaranya begini (misal meneliti kitab), itu tidak selalu setuju. Artinya kalau mereka yang punya ide, kita harus setuju. Kalau kita punya ide, mereka belum tentu setuju.
Untuk dengan orang alim itulah yang menurut saya di Indonesia sudah lampu merah. Saya termasuk orang yang tidak mau (diatur). Sering saya didatangi orang-orang kaya dari Surabaya, ke sini bawa Alphard, minta saya pengajian akbar. Saya jawab, nggak. 😆 Kalau mau ngaji ya ke sini, kalau nggak mau ya nggak masalah. Sebenarnya saya bukan menolak (?) pengajian ya. Jumlah itu sudah banyak.
Kalau mau ngaji ke sini, banyak kok yang dari selatan: Tulungagung, Magetan. Jadi inilah,  Ini curhat saya. Saya khawatir keulamaan Indonesia itu dihilangkan. Padahal Indonesia sekarang baru menjadi kiblat. Syiria gagal mengelola negara, Mesir gagal, Irak gagal. Sekarang percontohan dunia itu tinggal Indonesia. Dan itu bisa kalau kita menjaga tradisi ulama: yaitu ulama itu yang mengatur orang kaya, bukan orang kaya yang mengatur ulama .

Masalahnya sebagian ulama juga kedonyan, salahe dhewe: dikasih mobil senang, diumrahkan senang. Terutama di Jawa Timur karena memang penghormatan ulama. Kemarin saja saya baru mengisi di PWNU Jawa Timur, keluar ruangan langsung diberi voucher umrah. Saya bilang nggak, saya kyai Jawa Tengah. Kalau suka dengan kyai, mengaji saja, nggak usah aneh-aneh. 😅
Khawatirnya seperti itu tadi. Ternyata ketika saya sampaikan ini, Gus Sholah mendukung, keluarga Syaikhona Kholil mendukung, Gus Dah Ploso mendukung, karena mereka ternyata capek juga. Tapi mulai dari mana,😅 (itu yang masih dipikir). Mereka semua setuju mengurangi itu (acara pengajian seremonial).

Alhamdulillan nanti insyaallah Khaul Gus Dur, Khaul Mbah Hasyim, nanti tema utamanya mengangkat kembali naskah-naskah leluhur. Saya memang dilibatkan. Jadi saya tahu. Semua gus-gus yang alim-alim ngotot: saya, Gus Reza, Gus Kautsar, dll. Kalau tidak, habis kita.
Itu tadi, gara-gara kemarin ada peristiwa itu. Jadi ada naskahnya Mbah Hasyim, dipakai debat dengan orang NU. Kubu sebelah pakai naskahnya Mbah Hasyim ... (?). 😆 Dan itu mungkin, karena tadi. Beliau mungkin sedang marah terhadap adat tertentu, mungkin datang ke kampung abangan, ada acara 7 hari mungkin sindhenan. Judulnya itu babu hurmati ihtifalil maulid ma’al manhiyat (?) ... trus ma’al ma’asyi (?). Sebenarnya ada kata ma’a-nya. Jadi beliau menangi periode itu, apalagi sekarang.

Mungkin beliau kecewa karena beliau orang alim, lalu kekecewaan itu ditulis dalam bahasa Arab. Memang ulama-ulama dulu meski orang Indonesia, menulisnya bahasa Arab. Saya punya tulisan tangannya Mbah Hasyim. Kan beliau teman mbah saya, di kitab-kitab mbah saya itu ada tulisan tangan Mbah Hasyim.

Nah, karena keluarga sudah masyhur, sudah sibuk mengurus politik, pengajian, dll, warisan naskah mulai hilang. Lucunya, di luar sana sekarang ada yang namanya ahli filologi, orang yang menangani naskah-naskah kuno. Kan lucu. Di Mekah, di Belanda, di mana-mana, mereka punya naskah-naskah ulama Indonesia, tapi para cucu penulisnya tidak punya. Itu akibat kebanyakan pengajian umum.😆

Saya kemarin diundang di Termas. Saya bilang ke Gus ... saya mau datang asal disediakan naskahnya Mbah Mahfud. Kalau nggak, saya nggak datang. Saya tunjukkan, saya yang bukan cucunya saja punya naskah2 beliau. Akhirnya cucu2 beliau ngaji sama saya, ushul fiqh memakai naskah yang tidak ada di Termas. Yang punya itu Mbah Moen, diberikan saya, karena Mbah Moen cucu murid sama Kyai mahfud. Yang cucu gen tidak punya, cucu murid punya. Lucu kan. Kalau siklus itu terus-menerus, bisa habis.

Tradisi (keluarga) sini ini sepuh. Wong Mbah Hasyim juga keturunan orang sini. Mbah Hasyim min jadil am keturunan Mbah Sambu. Keluarga Tebuireng dengan keluarga sini juga hormat karena induknya di sini. Yang keturunan laki-laki (Abu Sarwan ..). Cuma Mbah Hasyim itu terkenalnya lewat Demak. Ya Demak dulu, Purwodadi Ngroto, sampai Jaka Tingkir.

Kan beliau pendatang di Rembang. Makanya sebagian naskah ya di sini. Alhamdulillah gus-gus Jawa Timur itu sekarang responnnya luar biasa karena mereka ternyata capek juga menuruti acara seremonial. Tadi ada direktur Semen Gresik datang ke sini, minta pengajian. Direktur itu, kalau saya nuruti gaya yang memang gaya, tapi aku ngaji ngaji ae, nggak usah ngatur kyai. 😆
“Iya, Gus. Saya mau ngaji.” 😆
Karena saya takut kalau siklus ini terus-menerus tadi. Karena saya yakin njenengan tahu ini, apalagi punya anak putri yang di Yaman. Andaikan njenengan tidak pernah kuliah di Yaman, ke luar negeri, saya nggak pernah ngomong ini. Kan lucu, kita ke Yaman mencari manuskrip naskah-naskah ulama Indonesia, sementara di sini oleh cucunya sendiri diabaikan.

Naskah-naskah Syaikhona Kholil kemarin ketemunya sebagian di Bangkalan, sebagian di Jember, sebagian lgi di  Surabaya. Tapi paling banyak di Jember. Gara2 beliau nulis..... dulu ga ada fotokopi, trus beliau punya santri di Surabaya, akhirnya naskah itu di Surabaya.

Kan njenengan sudah punya generasi putri, keluarga. Itu harus diusahakan dari keluarga. Kalau yang lain itu terapinya kadang malah tidak tepat. Problem mendatangkan mubaligh/kyai adalah sebenarnya kyai ini kan nyuwun sewu orang yang tidak punya konsep dalam konteks spesifik, karena obyeknya kan nggak tahu. Saya ulangi lagi, kyai kalau datang ke mana-mana, obyek spesifiknya kan tidak tahu. Akhirnya sebagian pembicaraannya rutin atau standar saja.
Makanya di sini dibutuhkan kearifan keluarga, karena yang tahu misalnya njenengan punya jaamaah thariqah tahu penyakit jamaah, orang thariqah itu suka wiridan, tapi nggak suka ilmu, nggak suka halal haram, nggak suka istinja’ (bersuci). Kalau penyakit orang fiqih, gampang ngomong halal haram tapi mudah hasud. Kan harus tahu, sehingga terapinya itu tepat.
Makanya saya berani bicara ini sebagai bentuk penghormatan kepada njenengan. Kan njenengan sudah punya keluarga yang sekolah di mana-mana. Harusnya juga ada adat, ketika mengundang kyai bilang saja, ibarat kita konsultasi dokter, bahwa umat saya tipikalnya seperti ini, sehingga kalau orang Jawa bilang tidak melantur.

NU itu problemnya di situ. Kyai terjun bebas, sehingga pengajian berkali-kali tidak jadi terapi. Karena spesifik obyeknya tidak jelas.
Yang baru undur diri tadi kan jamaah thariqah Syadziliyah Kyai Muhaiminan Temanggung, minta saya mengaji di sana. Saya bilang, kirimkan anak atau cucu ke sini, nanti saya ajari. Nggak harus sampai tahunan, sehari cukup. Akhirnya beliau paham, karena beliau ahlul’ilmi seperti njenengan, akhirnya mengerti.
Karena biasanya di Indonesia seperti itu: coba taruh saja njenengan ngundang Gus Mus, atau Gus Ali, siapa saja, atau ngundang saya, kyai itu ngomongnya (akan) standar saja.
Nah, sekarang sejak ada anak2 kayak anak njenegan, yang mengaji, sebenarnya kan bisa mengertilah, apalagi anak-anak dari luar negeri apa problem umat.

Saya pernah didatangi orang2 khusyu'nya bukan main: khusyu' kalem. Ternyata dia investasi di Dhimas Kanjeng. 😅🤦‍♂️. Karena ya tadi, dia nggak pernah belajar halal haram. Dia nggak ngerti kalau bai' gharar itu ada halal haram. Kalau bai' akadnya fiktif itu haram. Padahal dia suka wiridan. Karena biasanya problemnya orang thariqah tadi, kurang pengenalan halal haram, akad fasid dan nggak fasid, dll.

Jadi menurut saya PR kita ini. Saya ngomong problem2 itu, di depan Gus Sholah pun saya berani. Saya bilang, "Gus, di  pondok-pondok modern problemnya begini-begini." Respon beliau-beliau rata-rata baik. Keinginan saya supaya tenaga ulama itu efektif, itu saja! Saya punya niat baik supaya ulama ini efektif (membawa hasil, pengaruh sebagai obat problem umat).
Semua kyai Indonesia itu hebatnya punya generasi, entah itu menantu, semuanya mengaji. Tapi nanti, ilmunya itu tidak ada gunananya. Karena tadi: dia takut adat umum: seremonial tadi. Dia (ulama) tidak pernah bicara detail, teknik, manhaj. Hanya seremonial tadi, misalnya bupati hadir nggak ya, diberi sambutan tidak ya. 😅🤦‍♂️ Akhirnya problem umat tetap saja.

Nah, saya orang yang peduli, yang seperti itu jangan terus-menerus, supaya ada terapi. Dan jika Lirboyo, Ploso, nanti sudah kampanye ini, insyaallah masif.

Saya diangkat di syuriah itu kan memang murni karena itu: ada keresahan dari kyai-kyai sepuh: NU semakin lama kok semakin nggak ada yang mengaji. Saya tidak pernah menjadi pengurus ranting, anak cabang, karena saya memang tidak suka organisasi. Tapi orang NU ternyata merasa kehilangan jati diri. Akhirnya mereka datang ke sini meminta saya jadi pengurus PBNU.
Saya masih tidak mau. Terus mereka lewat Mbah Moen. Saya bilang saya mau syaratnya orang NU mau ngaji. Kalau tidak, ya saya nggak usah jadi pengurus. 😆 Wong NU besarnya karena ngaji kok sekarang hanya seremonial organisasi. Dituruti akhirnya, OK Gus.

Dan alhamdulillah. Akhirnya Kyai Anwar Lirboyo, semua gus Jawa Timur harus ngaji Gus Baha' di acara PWNU Jatim yang kemarin. Saya mau datang syaratnya semua Gus-Gus mau datang dan syaratnya ngaji. Mereka sepakat. Jadi saya didampingi Gus Kautsar, Gus Reza. Akhirnya suasananya benar-benar mengaji. Akhirnya Gus Kautsar menunjukkan kealimannya, Gus Reza pun demikian. Akhirnya tidak menjadi acara seremonial, kan. Gojlokannya urusan ilmu. Dan akhirnya berlanjut. Saya datang ke Lirboyo.

Kamu kira ... bikin gerakan sendiri. Kalau gerakan itu jalan, karena kita memang ingin seperti itu. Karena kalau tidak, habis kita. Kalau kecakapan organisasi, lebih pandai Muhammadiyah. Kecakapan politik NU itu cakapnya mana .... Satu-satunya kelebihan yang mereka menang itu sebenarnya ngaji. Tapi masalahnya di NU sudah nggak suka ngaji. Jadi nanti kalau kita mau berpikir kan begitu. NU nggak latihan praktis berorganisasi kalah dengan Muhammadiyah.

Seperti kemarin di PWNU Jatim itu mukjizat betul. Gara-gara ada Kyai Anwar, ada Gus Ali, keluarga Sidogiri mendukung, NU maju. Jadi saya diminta memang untuk gerakan ngaji, bukan yang lain. Alhamdulillah kemarin diminta oleh Gus Sholah. Saya mau syaratnya tema-nya menyisipkan naskah Mbah Hasyim. Jadi ini sedang disusun.

Lha Yaman (tempat njenengan belajar) apalagi. wali songo kita nasabnya sampai Yaman. Apalagi sekarang ada Habib Umar, ada penyambungnya. Kemarin Habib Jindan rawuh di Lasem minta ke panitia, mau datang ke Lasem kalau bisa memfasilitasi bertemu Gus Baha’. Akhirnya kita bertemu, pertama bertemu juga membahas naskah. Langsung dikirimi banyak naskah pdf. Jadi kayaknya insyaAllah gerakan ini masif.

Kalau kyai-kyai akhirnya apa nuwun sewu, di NU itu banyak melahirkan kyai mubaligh, bukan kyai alim: orang yang bicaranya lucu, menarik, dan satu hari pidato tiga kali. Bisa dibayangkan kalau satu hari tiga kali, itu tidak pernah sempat memikirkan obyeknya butuh terapi apa. 😆
Itu pasti hanya rutin, pasti nggak penyembuh, bukan obat. Secara cangkem eleke kan bicara acak, kalau ahlul ‘ilmi kan masalah. Masak memberitahu orang tidak punya resepnya, kebutuhannya seperti apa. Akhirnya banyak melahirkan mubaligh2 yang di NU itu banyak masalah.

Sekarang ini kan tambah aneh2. Pengajian plus dangdutan, pengajian plus kethoprakan, karena tadi tidak ada kontrol. Mubaligh yang bos krunya, trus krunya pakai alat musik, karen tidak pernah dikontrol. Nah, pengundang butuhnya bisa mengundang orang banyak. Nanti ilmu njenengan ... dari Yaman tidak ada gunannya semua, karena kalah sama seremonial.

Makanya harus ada orang seperti saya. Hanya omong ilmu, saya nggak mau tahu. Pokoknya omong ilmu. Di Lirboyo saya sampaikan, “Gus Kafa, saya disambut  4 orang nggak masalah, asal empat orang yang serius mengaji, daripada disambut ribuan orang tapi tidak jelas niatnya.
Akhirnya setiap saya ke sana, sebelum ngaji umum pasti ada putri, anak, menantu, dikumpulkan. Di Lirboyo anak Kyai Anwar, anaknya Gus Kafabih, dikumpulkan semua. Ngaji dulu sbelum acara umum.

Saya ngomong persis seperti ini: kita tidak boleh kalah dengan ... yang lain. Kita besar itu karena ulama, karena NU, bukan karena yang lain.

NU itu kan ngeri. Banyak orang NU yang nggak tahu Ustad Abdus Shomad itu kategorinya apa, Ustadz Adi Hidayat apa. Banyak kan pondok-pondok NU mengundang mereka, karena detailnya saja tidak tahu. Coba, mengundang orang bahkan detail mereka saja tidak tahu. Butuhnya cuma “yang lagi trend”, itu kan lucu. Lucunya itu yang mengundang ya pondok, lembaga NU.
Sekarang semenjak era saya, itu ada kesadaran. Cobalah njenengan yang pernah di Yaman, pikirkan lagi detail-detailnya. Kalau ngaji fiqih njenengan kan tahu, ada hukum mujmal (umum) ada hukum tafshil (terperinci). Kalau ada ta’arud (pertentangan) antara hukum mujmal dan mufashal, menang yang mufashal. Kalau ada hukum global dengan yang detail itu menang yang detail. Sekarang kita nggak, dari ulama yang tahu ilmu detail, mau diajak ke yang mujmal lagi. Bisa kiamat. Jadi sudah hampir pandai diajak goblok lagi.

Jadi saya anggap ini sudah lampu merah. Saya matur njenengan ini sebagai bentuk penghormatan saya karena Mbak ngaji di Yaman. Saya acara di Temanggung juga akan matur seperti ini supaya itu tadi. Di mana-mana itu thariqah memang hebat. Di sini thariqah itu sampai 36 mu’tabarah Naqsabandi, Tijani. Dan semua punya sanad. Tapi orang di luar sana, sudah nggak lagi. Kalau kita pengajian umum terus, nanti ini hilang.

Karena kalau pengajian umum, pasti orientasinya yang datang banyak, bupatinya datang, pokoknya hal-hal yang (ribet). Menurut saya yang seperti itu dikurangi, meskipun ya jangan dihilangkan, karena tadi.
Saya ini punya niat baik sangat. Nyatanya saya di PWNU Jawa Timur gus-gus mengeluarkan kealimannya. Itu hampir semua gus-gus pondok datang, Pondok Denanyar datang,  keluarga Syaikhona Kholil datang semua. Itu yang mengumpulkan naskah itu dulu mengaji di sini ada empat tahun, yaitu Gus Ismail yang mengumumkan naskah Syaikhona.

Ngaji sama saya sorogan, bukan saya yang baca, tapi dia yang baca. Lama ngaji di sini. Ya  mondoknya di Mbah Moen, kan hanya 9 km. Sorogannya di sini.
Sekarang beliau Gus Ismail juga sedang menulis lagi. Jadi kalau NU mau begini 5 tahun saja, insyaallah luar biasa. Kan antara dua, klo nggak anaknya orang alim, ya yang cucunya orang alim. Masak di Yaman dipelajari. Coba seperti kitab Sirajuth Thalibin dicetak di Mesir, di mana-mana. Tapi njenengan tahu di Jampes nasibnya seperti itu. Itu dulu pasti asal usulnya kepedulian cucu, alumni yang kurang. Itu sudah pasti. Tapi sekali cucu, alumni peduli, pasti naskah itu luar biasa.

Contoh mudah saja seperti Mbah Moen mengarang Al ulama’ al mujaddidu yang membaca secara masif saya.... Ini sekarang saya baru mau membaca kitabnya Mbah Hasyim. Saya mau matur ke Gus Sholah. Lucu kan, NU itu organisasi besar. Pendirinya Mbah Hasyim. Orang tahu tulisan Ulil, Nusron, .... tapi nggak tahu tulisan rais akbarnya.

Karena naskah itu tidak pernah dishare secara terbuka, secara massal.
Mohon maaf sebesar-besarnya, tapi saya senang bisa curhat karena ini ... saya lah, supaya tradisi kealiman itu kembali. Meski kita tidak sesempurna para pendiri NU, mosok pondok2 sekarang sering pengajian umum terus. Pusing saya. Pusing saya kan sayang, misalnya panjenengna punya putri ngaji di Yaman, ngajinya tahqiq, sampai cari kamus, lafadz ini dari kosakata apa, ternyata umatnya Cuma dilatih mujmal-an. Bagaimana bisa itu. Tapi nggak ada yang sadar kalau kita nggak ngomong. Tapi saya bukan anti pengajian umum, ya sudah sesekali lah, hiburan, jangan terus-terusan. Umum itu standar saja. Nggak fokuslah kalau bahasa sekarang.

Tapi ini masih bisa dibenahi, kultur keluarga kyai itu masih lestari, seperti njenengan dari Magetan belajar sampai Yaman. Buyut2 saya juga masih banyak mengarang kitab.  Karena dulu itu bahasa Arab sudah seperti bahasa Jawa, orang alim dengan temannya korespondensi pakai bahasa Arab. Saya punya tulisan Mbah Hasyim banyak, menyurati Mbah saya. Padahal Mbah2 orng Indonesia. Kalau dulu kita itu malakah lah istilahnya. Benar. Akhirnya kita sekarang ya ketularan. Yogya sekaten dari syahadatain. Sekolah madrasah, sampun ba’da. Dll.


Pastetor

Bherenk

Rabu, 08 Januari 2020

BENANG MERAH PEMBELAAN MUSLIM UYGHUR DAN KRISIS NATUNA, JUAL BELI POLEMIK INDONESIA - CINA


Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A

Presiden Cina Xi Jinping sudah mengumumkan pada dunia, “kami tidak ingin memulai masalah tetapi kami tidak takut terlibat dalam masalah.”

Dalam kacamata hubungan internasional, provokasi Cina di pulau Natuna dapat dipahami sebagai “uang kembalian” atas provokasi sebagian Muslim Indonesia tentang kasus Uyghur.

Bermodalkan paradigma sempit dalam memahami konstelasi politik internasional, sekelompok  kecil yang menamakan Aliansi Umat Islam menggeruduk Konjen Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya. Mereka meneriakkan “Aksi Bela Uyghur”.

Tentu saja Pemerintah RRT menempuh jalur penyelesaian yang elegan, dengan mengundang dua ormas terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) untuk berkunjung. Dua ormas ini pun berhasil meredam permainan politik receh oknum-oknum radikal di Indonesia, sehingga isu Uyghur tidak lagi menarik digoreng.

Tetapi, dalam konstelasi politik internasional, NU dan Muhammadiyah kena getahnya. Dua ormas besar ini mendapat “tuduhan miring” dari negara super power musuh bebuyutan Tiongkok, yakni Amerika.

Sebab, jauh hari sebelum kasus Uyghur ini menghangat, topik perang dagang Xi Jinping dan Donald Trump sudah jadi framework politik internasional.

Laporan the Wall Street Journal (WSJ) pun harus menyebutkan bahwa Cina merayu sejumlah organisasi Islam Indonesia agar tak lagi mengkritik Beijing soal kebijakan di Xinjiang.

Mau tidak mau, NU dan Muhammadiyah harus menerima konsekuensi logis ini. Ditambah lagi, WSJ buta soal peta politik keagamaan di Indonesia, di mana tujuan utama NU dan Muhammadiyah untuk meredam isu yang mau dimainkan kelompok radikalis-fundamentalis

Meredamnya kasus Uyghur berkat kolaborasi sikap NU-Muhammadiyah berbuntut panjang. Berdasar sikap politik Xi Jinping, “tidak mau bikin masalah, tapi tidak takut terlibat dalam masalah,” maka sah apabila Cina menantang kekuatan militer Indonesia dalam kasus Natuna ini. Jika Indonesia sempat memulai masalah kecil untuk Cina, kini tiba giliran mereka balas dendam.

Dalam konteks politik international, itu disebut arm race (perlombaan senjata). Sikap politis Menteri Pertahanan (Menhan), Prabowo Subianto, sudah tepat dengan mengatakan Cin sebagai negara sahabat.

Bagaimana pun, provokasi militer Cina tidak bisa dibalas dengan kekuatan militer serupa. Cina secara militer adalah tandingan Amerika.

Dalam konteks adu tanding kekuatan militer ini, pernyataan Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kurang tepat.

Memang benar pencuri ikan harus dibedakan dari urusan investasi dan kepentingan investor. Tetapi, bagaimana jika tujuan Cina bukan terkait investasi dan pencurian ikan melainkan soal ajakan perang militer? Tentu dalam konteks balas dendam atas keterlibatan terlalu jauh muslim Indonesia atas urusan Uyghur.

Penulis rasa, pemerintah Cina tidak bodoh-bodoh amat. Sejak awal sudah bisa ditebak klaim Cina atas Natuna pasti kalah di pengadilan Internasional.

Sejak Menteri Luar Negeri yakin penuh bahwa klaim Cina tidak akan pernah diakui oleh siapapun, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ikut angkat suara dan berada di pihak kepentingan Indonesia.

Prinsip Xi Jinping tidak mau memulai masalah, tapi tidak takut terlibat masalah. Di sini, provokasi di Natuna harus dipahami lebih luas, yakni soal “gengsi”. Gengsi terkait identitasnya sebagai negara super power yang direcoki oleh segelintir orang dari negara berkembang.

Artinya, sekali pun secara militer dan politik internasional, Indonesia memihak Amerika, lalu kantor-kantor kedutaan Cina digeruduk tanpa argumentasi kuat, RRT tidak akan pernah mundur. Ini adalah pelajaran penting, terutama bagi kelompok radikalis-fundamentalis yang bersumbu pendek, agar memperluas cakrawala pengetahuan mereka.

Tanggal 6 Januari 2020, PBNU mengeluarkan pernyataan sikap  tentang Natuna. Isinya terkait desakan agar RRT menghentikan provokasi atas kedaulatan Republik Indonesia (RI). Selain provokasi itu tidak penting, isu Uyghur sudah reda, Republik Indonesia secara politik mengusung ideologi non-blok sejak era Presiden Soekarno.

Dengan kata lain, Indonesia tidak akan berpihak pada Amerika, dan tidak akan membiarkan dana Amerika mengalir kepada kelompok radikal-fundamental di Indonesia.

Prinsip Non-blok ini harus selalu jadi pegangan bagi Amerika maupun Tiongkok, juga bagi rakyat Indonesia sendiri. Tuduhan Wall Street Journal dengan otomatis tidak masuk akal.

Provokasi Cina di Natuna pun otomatis sia-sia. Termasuk isu Indonesia berkiblat pada komunis China sejatinya tidak kuat. Har ini, realitas politik Indonesia sedang menghadapi kejahatan kaum oligarki, yang merajalela di birokrasi pemerintah.

Kaum oligarki ini tidak pernah peduli pada ideologi. Selagi arah mata angin politik dan ekonomi menguntungkan mereka, pasti akan disikat. Tidak peduli itu datang dari komunis atau kapitalis, selama mendatangkan keuntungan pasti akan digarong. Bahkan, mereka tega hati melihat bangsa sendiri hidup sengsara dan menderita. Karenanya, PBNU menabuh genderang perang melawan mereka.


*Penulis adalah Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015*

#HubbulWathonMinalIman


Minggu, 05 Januari 2020

PERANGKAP NYAMUK PALING JITU DAN MUDAH BIKINNYA


Musim penghujan telah tiba, ancaman nyamuk demam berdarah di depan kita, mari kita lakukan pencegahannya...._

Ayo ajak warga bikin & pasang perangkap nyamuk jitu
 ini.. Biar jadi keluarga yg bebas dari demam berdarah..
Cara Menangkap Nyamuk Dalam Botol Secara Alami Tanpa Racun

Nyamuk cukup mengganggu dan sangat berbahaya sebagai penyebar berbagai penyakit mematikan.
Cairan pembunuh serangga di pasaran kurang efisien dan bahkan membawa dampak sampingan yang serius.

Berikut ini cara MUDAH dan MURAH yang bisa dicoba.
Cocok untuk segala kondisi pemukiman, sekolah, rumah sakit, dll.
Sangat KREATIF bila dikenalkan pada para siswa sekolah untuk dicoba di sekolah dan di rumah masing-masing.

*Yang dibutuhkan :*
– 200 ml air
– 50 gram gula merah
– 1 gram ragi (beli di toko makanan kesehatan, warung, atau pasar)
– botol plastik 1,5 liter

*Langkah-langkah pembuatan*

🔹1. Potong botol plastik di tengah. Simpan bagian atas /mulut botol.

🔹2. Campur gula merah dengan air panas. Biarkan hingga dingin dan kemudian tuangkan di separuh bagian potongan bawah botol.

🔹3. Tambahkan ragi. Tidak perlu diaduk.  Ini akan menghasilkan karbon-dioksida.

🔹4. Pasang / masukkan potongan botol bagian atas dengan posisi terbalik seperti corong.

🔹5. Bungkus botol dengan sesuatu yang hitam, kecuali bagian atas, dan diletakkan di beberapa sudut rumah Anda.

Dalam dua minggu, Anda akan melihat jumlah nyamuk yang mati di dalam botol.

Selain membersihkan habitat mereka, tempat berkembang biak nyamuk, kita dapat menggunakan metode sangat berguna ini di sekolah-sekolah, TK, rumah sakit dan rumah tinggal.
Selengkapnya silahkan buka link di bawah ini ...👇
Ayo kita bersihkan Nyamuk di rumah kita masing-masing dengan cara sederhana tapi hasilnya aduhai !
Kurangilah Resiko Demam Berdarah, Zika, Malaria dan lainnya !


Diolah dari berbagai sumber

AH. Hamdah

Kamis, 02 Januari 2020

TERBONGKAR, DALANG DIBALIK PELENGSERAN GUSDUR JADI PRESIDEN

Sejarah nanti akan menunjukkan” merupakan kalimat yang sering dikemukakan Gus Dur. Dan kini sejarah itu ditemukan secara kebetulan.

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan “kebetulan”, dan melaluinya lahir peristiwa-peristiwa besar, dan darinya pula tersingkap peristiwa lama yang selama ini telah tertutup awan gelap.

Demikianlah, “kebetulan” itu bekerja melalui jurnalis Virdika Rizky Utama. Bukan siapa-siapa. Bukan akademisi terkemuka. Bukan peneliti dari mancanegara yang kerap dipuja. Rizky hanya seorang jurnalis muda, dengan hasrat ingin tahu yang terus menyala.

Pada suatu hari dia berkunjung ke Gedung Golkar dan tanpa sengaja menemukan sebuah dokumen yang sangat berharga, yang saat itu sudah hendak dikilokan. Dokumen itu berupa sebuah surat antara dua mantan pejabat Orde Baru yang berisi skenario pelengseran Gus Dur dari kursi kepresidenan.

Bukankah itu suatu kebetulan karena biasanya orang harus menunggu paling lambat 50 tahun sebuah dokumen berkait dengan peristiwa politik akan dibuka?

Dan ketika dibuka, para pelaku yang terlibat di dalamnya biasanya sudah meninggal semua. Atau tak jarang sebuah peristiwa bahkan tak pernah terungkap sama sekali. Abadi menjadi misteri.

Tapi ini, belum berselang 20 tahun, dan persis 10 tahun setelah Gus Dur wafat, lakon pelengseran itu diungkapkan.

Dokumen itu kemudian dibunyikan melalui serangkaian  wawancara dan investigasi, riset ala jurnalis, yang menghasilkan sebuah tulisan panjang dalam bentuk buku berjudul Menjerat Gus Dur terbitan Numedia, Desember 2019.

Buku itu dengan demikian telah membuka tabir yang tersimpan lama, yang telah membuahkan misteri dan mitos bertahun-tahun bahwa: Gus Dur terlibat Buloggate dan Bruneigate. Gus Dur tidak kapabel untuk memerintah. Gus Dur terlalu cerdas untuk menjadi presiden. Dan lain-lain.

Semuanya ingin menyampaikan pesan yang pada dasarnya sama: Gus Dur tidak layak menjadi presiden dan pantas untuk (di)jatuh(kan).

Pada kenyataannya, seperti terungkap dalam buku itu, Gus Dur dijatuhkan oleh persekutuan kekuatan-kekuatan lama yang kekuasaannya telah dihabisi dan kekuatan-kekuatan baru yang bernafsu untuk berkuasa. Melalui dukungan modal yang besar, dan jaringan politik lama yang masih solid, serta media, Gus Dur pun jatuh.

***

Sebenarnya sejak dulu pun saya—dan saya yakin banyak kalangan juga—percaya bahwa Gus Dur itu dikudeta. Dijatuhkan melalui serangkaian konspirasi yang licik dan jahat.

Saya ingat beberapa minggu sebelum penjatuhan, saya bertemu Alissa Wahid, yang kala itu sedang mengikuti sebuah seminar di Gedung Wanitatama, Jogja.

Kala itu kami berbincang sebentar, dan seingat saya, saya dan Alissa sudah punya keyakinan cukup besar bahwa Gus Dur akan dijatuhkan karena memang aroma konspirasi untuk menjatuhkan tersebut sudah terembus sangat kuat.

Agenda penjatuhan ini pasti sedang dipikirkan dan diusahakan karena selama berkuasa Gus Dur memang benar-benar menjalankan agenda Reformasi.

Seperti menantang dengan serius kekuatan-kekuatan politik lama, baik sipil maupun militer. Penghapusan dwifungsi ABRI, yang selalu diteriakkan para demonstran selama aksi protes, yang dilakukan Gus Dur dengan sangat berani dan elegan, adalah salah satu contoh. Agenda Reformasinya jelas menyentuh kepentingan banyak kalangan, terutama kekuatan politik lama.

Dan benar, Gus Dur kemudian dijatuhkan dari kerja persekongkolan tersebut. Hanya saja bagaimana persekongkolan itu dibangun, siapa-siapa saja para pemainnya, selama ini hanya tudingan tak berdasar. Gelap bagai langit tak berbintang. Nama-nama yang muncul hanya sengkarut dugaan spekulatif.

Buku Menjerat Gus Dur dengan demikian memberi sedikit penerangan pada peristiwa tersebut: bagaimana narasi dibangun, rincian dibuat, dan siapa saja pelakunya. Ia telah memberikan gambaran besar dan detil bagaimana pelengseran itu dilakukan. Siapa yang memainkan dan siapa yang dimainkan. Ia juga telah menggeser beberapa dugaan mapan yang beredar sebelumnya.


Sebagai contoh, nama Amien Rais selama ini sering dituduh sebagai arsitek utama penjatuhan itu. Dengan demikian, kesan sosok Amien Rais sangat sakti dan hebat. Tetapi buku ini membantah sekaligus membenarkan.

Membantah bahwa dia merupakan arsitek utama, tetapi tetap membenarkan keterlibatannya dengan menyebutnya hanya sebagai operator lapangan. Kesannya jadi mencair dari “memainkan” menjadi “dimainkan”.

Sebaliknya, sosok yang dianggap sebagai arsitek utama adalah Akbar Tandjung, yang perannya justru tak banyak disebut di dalam rumor penjatuhan. Dialah sumbu dari ikhtiar penjatuhan tersebut.

Selain menjadi Ketua Umum Golkar, Akbar Tanjung adalah alumni HMI, yang para anggotanya banyak menjadi politisi, pejabat tinggi, dan pengusaha, serta telah membentuk jaringan dan lingkaran kepentingan yang kuat sejak masa Orde Baru.

Ketua Korp Alumni HMI (KAHMI) adalah Fuad Bawazier, mantan menteri keuangan yang ditolak Gus Dur mentah-mentah ketika ditawarkan kembali sebagai menteri keuangan. Fuad Bawazier berperan menjalankan dan sekaligus menggalang dana untuk operasi penjatuhan ini.

Akbar Tandjung jelas bukan nama baru dalam suatu konspirasi politik. Dia memiliki reputasi mengenai hal ini. Saya ingat laporan Tempo pada awal reformasi yang menelusuri bagaimana dan mengapa Soeharto bisa jatuh.

Ada banyak faktor dan kisah di dalamnya. Demonstrasi mahasiswa, rupiah yang jeblok, ekonomi yang kacau, tekanan para intelektual, dan yang penting diingat juga mundurnya secara serentak dan bersamaan sejumlah menteri. Ini merupakan penggerogotan dari dalam atas legitimitas kekuasaan Soeharto.

Para menteri itu adalah menteri-menteri anggota KAHMI. Yang menggalang aksi pengunduran itu adalah Akbar Tanjdung, yang menjadi ketua DPR RI saat itu dan di era Habibie menjabat menteri sekretaris negara. Hanya seorang dari mereka yang menolak ajakan Akbar, yaitu Sa’adillah Mursjid, menteri sekretaris negara persis sebelum Akbar Tandjung.

Akbar Tandjung dan lingkarannya tahu kapan berjalan lurus dan kapan mesti belok. Kapan menunduk dan kapan mendongakkan kepala. Kapan harus setia dan kapan berkhianat.

Konon, Soeharto dan keluarganya tak pernah lagi mau bersua dengan rombongan menteri yang mundur dari pimpinan Akbar Tandjung cs. ini. Mereka rupanya sangat sakit hati merasa dikhianati. Jelas kekalahan karena pengkhianatan kawan jelas jauh lebih menyakitkan daripada takluk dihantam lawan.

Akbar adalah politisi yang lihai dan licin. Pada masa awal Reformasi, dia dijerat perkara korupsi. Tapi selalu bisa lolos dari jeratan. Saya kira dialah representasi humor Gus Dur yang terkenal tentang dua organisasi ekstra mahasiswa Islam yang bagai Tom and Jerry itu: “HMI menghalalkan segala cara, sementara PMII tidak tahu caranya.”

***

Apa yang menarik dari penyingkapan peristiwa ini? Saya setuju dengan Alissa Wahid bahwa pengungkapan ini bukan untuk balas dendam, tapi soal bagaimana kita bisa belajar dari peristiwa sejarah ini.

Pertama, ini bukan perkara penjatuhan Gus Dur semata, tapi sebuah pelajaran bagaimana konspirasi politik yang disokong oleh kekuatan oligarki Orde Baru bekerja. Dan penjatuhan ini telah menjadi rute awal mulai terseoknya agenda Reformasi dan titik masuk kembalinya para politisi Orde Baru, yang jejak dan pengaruhnya kita lihat dan rasakan hingga sekarang ini. Jalan Reformasi menjadi sangat terjal.

Dan perlahan sejak itu, Reformasi tinggal semata sebagai slogan.

Yang kedua, mengenai peran intelektual. Dalam buku itu, disebutkan peran beberapa intelektual. Tetapi jika kita membaca secara saksama, akan tampak di sana peran mereka sekadar “dimainkan”.


Kegemaran para intelektual memberikan komentar berdasarkan apa yang dilihat di permukaan dan kebiasaan media menjadikan para intelektual ini sebagai selebritas; membuat para intelektual sangat mudah dimainkan. Mereka tidak punya mata batin untuk melihat fakta-fakta di balik peristiwa dan berpuas diri dengan fenomena di permukaan.

Dengan sangat naif, mereka mengomentari kejadian berdasar apa yang mereka lihat di depan rumah, dan memang mereka tak punya akses untuk melihat lebih jauh apa yang berlangsung di dalam rumah. Karena untuk ini mereka harus menunggu waktu lebih lama dan membutuhkan mata batin yang lebih dalam. Mereka tak bisa menunda, karena kamera televisi dan mikrofon seminar telah menunggu.

Selain kalangan intelektual, kelompok Islam garis keras dan lembaga-lembaga keislaman “diperalat” juga untuk mendeligitimasi Gus Dur.

Dari sini kita bisa belajar memandang fenomena politik sekarang di mana massa dan lembaga-lembaga keagamaan seperti MUI bukan semata bekerja untuk kepentingan administrasi penduduk yang beragama Islam. Ia sering juga dipolitisasi dan jejaknya mengenai hal ini terentang sejak dulu, seperti terlihat dalam konspirasi penjatuhan Gus Dur ini.

***

Buku Menjerat Gus Dur konon telah habis terjual dan pemesanannya—sampai tulisan ini ditayangkan—masih terus berlangsung. Ulasannya sudah beredar luas di media sosial. Karena itu kita dihadapkan pada kebetulan lain, kebetulan beberapa tokoh yang disebut terlibat masih hidup.

Tetapi yang mengejutkan sebagian dari mereka yang disebut tak ke mana-mana karier politiknya. Lebih banyak menjadi petualang politik, dan sebagian lagi malah masuk penjara karena kasus korupsi.

Kebetulan lagi, sejauh ini belum ada seorang pun dari mereka yang memberikan tanggapan. Maka bisakah dikatakan berbagai kebetulan ini telah membawakan “kebenaran”?

Saya tak punya kapasitas untuk meyakini atau pun membantah argumentasi yang dikembangkan buku tersebut. Karena tidak ada yang mutlak benar, maka saya masih menyediakan—sekitar—dua persen ruang untuk meragukan jika ada tanggapan yang lebih argumentatif dan meyakinkan.

***

Siapa pun yang membaca buku ini, terutama para pendukung Gus Dur, mungkin hatinya akan terbakar dan mendidih. Konspirasi itu memang banal dan menjijikkan. Tetapi tak perlu marah berlebihan. Ia harus disikapi dengan bijak bahwa memang tidak mudah untuk menjalankan amanah Reformasi.

Di sisi lain, juga harus diakui bahwa dibutuhkan kelompok yang lebih besar, solid, dan memang berkomitmen keras pada Reformasi. Jika tidak, Reformasi hanya akan menjadi isapan jempol. Pada kenyataannya Gus Dur tidak memiliki kekuatan dan dukungan yang solid. Reformasi jelas tak cukup dengan niat baik.

“Sejarah nanti akan menunjukkan” adalah klausa dengan berbagai variasi kalimat yang sering dikemukakan Gus Dur. Kini sejarah itu melalui penemuan “kebetulan” sebuah dokumen telah menunjukkan apa yang sesungguhnya terjadi dan berlangsung hingga kini.

Reformasi telah dirampas sejak dini dan yang kita teriakkan tentang Reformasi hanya mimpi.

Penyingkapan ini jelas memunculkan rasa muak terhadap elite politik dengan berbagai agenda aliansinya, yang sebenarnya tak lebih dari konsolidasi oligarki. Tetapi, apakah penyingkapan ini bisa mendorong kesadaran baru akan pentingnya politik yang lebih bermartabat, berkemanusiaan, dan berpihak pada keadilan dan kesejahteraan rakyat?

Barangkali itulah pertanyaan pentingnya.

Jangan sampai, kita menjadi layaknya celetukan Gus Dur yang bisa dimodifikasi di segala situasi itu. Bahwa…

“Oligarki menghalalkan segala cara, sementara kita tidak tahu cara melawannya.”


Sudah pernah dimuat dengan judul kebenaran gusdur yang serba kebetulan di :

https://mojok.co/hrs/esai/kebenaran-gus-dur-yang-serba-kebetulan/

Rabu, 01 Januari 2020

GENERASI CEMERLANG IPNU JOMBANG


M. Subhan
Selamat generasi cemerlang, semoga IPNU kedepan semakin cemerlang. Cukup dua tahun M. Ishomuddin Haidar menjadi ketua cabang IPNU Kab. Jombang 2017-2019.

Laki laki mungil kelahiran Mojowarno ini akrab dipanggil Haidar, meskipun kuliah baru semester VI di UNIPDU Peterongan ini, namun gagasan, ide dan visi misinya dalam membangun serta mengerakkan pelajar NU (IPNU Jombang) sungguh luar biasa melampaui tubuh dan jenjang kuliah yang sedang ia tempuh.

Hanya dua tahun Haidar menjadi ketua IPNU Kab. Jombang namun banyak yang sudah ia lakukan, mulai kaderisasi tingkat dasar hingga lanjutan sudah pernah diadakan sehingga kita tidak kehabisan stock kader, event kegiatan dari tingkat lokal sampai regional biasa kita gelar, seminar seminar, perlombaan keagamaan juga pernah kita laksanakan, intinya kami mampu melaksanakan semua agenda program yg telah kita rencanakan bersama dan kami sangat bangga kepada semua pengurus serta PAC dan ranting IPNU yang sangat kompak dan begitu bersemangat ketika ada kegiatan.

Kami juga  melanjutkan program periode sebelumnya (periode mas Haris) termasuk Jumat Bahagia bersama kyai Nurhadi atau mbah Bolong, alhamdulillah semua rencana program kerja bisa berjalan dengan baik, termasuk Konfrensi Cabang bisa tepat pada waktunya, terdengar suara Haidar berapi api menjelaskan saat dihubungi via telp.

Alhamdulillah agenda konfrensi  cabang berjalan lancar, banyak kader yang mencalonkan diri, ini membuktikan bahwa IPNU Jombang stock  kadernya melimpah. Dinamika saat pemilihan ketua begitu luar biasa dinamis,  kita semua sangat senang melihat ini. Nanti dalam kepengurusan harus duduk kembali bersatu untuk membesarkan IPNU, harus menghilangkan ego masing masing, pungkas Haidar yang pernah nyantri di Tambakberas ini.

Dan hal inilah yang paling mengesankan dalam kepengurusan periode mas Haidar dan harus sebagai contoh di NU dan banom-banomnya adalah IPNU periode mas Haidar ini mau merangkul, mengakomodir semua komponen kader potensial termasuk yang saat jadi kompetitor masuk dalam kepengurusannya, ini adalah hal yg tersulit untuk dilakukan di organisasi manapun.

Semoga kedepan orang orang seperti mas Haidar dkk ini harus mengisi kepengurusan NU di jenjang level atasnya.

Salut dan harus jadi contoh bagi Pengurus NU dari cabang, sampai ranting serta banom banomnya.

Selamat datang mas Subhan, semoga IPNU Jombang semakin cemerlang...!!

_____

Coretan oleh :
AH. Hamdah