Featured

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 25 Agustus 2019

POLITIK UANG DALAM PILKADES, SIAPA YANG SALAH?




Oleh : AH. Hamdah*


Gelaran Pilkades serentak kabupaten Jombang sudah pada tahap pendaftaran calon kepala desa, hiruk pikuknya sudah mewarnai semua desa. Pada 04 Nopember 2019 nanti sebanyak 287 desa akan melaksanakan hajatan 6 tahunan ini.

Pilkades merupakan salah satu bentuk pesta demokrasi di tingkat paling bawah. Pemilu tingkat desa ini merupakan ajang kompetisi politik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Pilkades terasa lebih spesifik dari pemilu-pemilu di tingkat atasnya sebab kedekatan emosional dan keterkaitan secara langsung antara pemilih dan para calon. Sehingga, suhu politik  dan gesekannya sering kali lebih terasa daripada saat pemilu pemilu lainnya.

Pilkades merupakan bagian dari proses kegiatan politik untuk memperkuat partisipasi masyarakat dengan harapkan akan terjadi perubahan yang signifikan di tingkat desa.

Tantangan mewujudkan demokrasi desa jelas bukan main-main. Pasalnya dengan pemberian dana desa sebesar Rp 1 miliar bahkan bisa lebih per desa per tahun dari pemerintah pusat, memerlukan adanya birokrasi desa yang bersih,  berintegritas dan profesional.

Besarnya modal untuk menjadi kepala desa masih dijadikan ukuran seseorang jadi tidaknya kepala desa. Semakin besar modal yang disiapkan maka kans atau peluang seseorang akan semakin besar untuk jadi kepala desa. Masih tingginya harapan masyarakat untuk diberi "amplop" dari calon kepala desa semakin sulit menepis tudingan adanya main uang untuk bisa memenangi pilkades, kalau tidak memberi uang maka ya tidak dipilih, begitulah kira kira fenomena yang berkembang di masyatakat.

Faktor modal yang besar untuk menjadi kepala desa inilah sehingga banyak desa yang terlihat tidak produktif terkesan stagnan padahal desanya banyak kucuran anggaran dari pusat. Dana 1 milyar lebih per tahun tidak mampu digunakan dengan optimal malah diduga banyak kebocoran sehingga berurusan dengan pihak kepolisian, kejaksaan atau KPK.

Secara rasional kepala desa yang saat mencalonkan kepala desa bermodal besar maka saat jadi kepala desa dia hanya akan sibuk menghimpun cara bagaimana bisa mengembalikan modal yang telah dikeluarkan, bisa dengan cara menyunat ADD atau DD lah, minta upeti saat pemilihan perangkat desa, minta jatah saat jual beli tanah, meminta imbalan saat warga mengurus surat surat, menyunat dana dari program pemerintah lainnya dll banyak ragam dan taktik yang bisa digunakan kepala desa untuk mengambil keuntungan karena merasa dulu saat mencalonkan kepala desa bermodalkan besar.

Maka akan menjadi maklum jika kepala desa yang harusnya mempunyai konsep membangun desa dan mensejahterakan masyarakat menjadi abai dan lalai. Lalu apa yang bisa dibanggakan jika jadi kepala desa namun dengan bermodalkan dana yang besar?  Yang ujung ujung dia akan menghabiskan uang rakyat, wajah desa tetap seperti tahun tahun sebelumnya tidak ada perubahan yang signifikan padahal dana desa kucuran dari pemerintah pusat jumlahanya milyaran.

Menghindari politik uang dalam setiap moment kontestasi pemilu begitu sulit, pun demikiatn dengan Pilkades. Saya belum pernah dengar ada seorang kepala desa bisa terpilih tanpa bagi bagi uang atau barang, rata rata mereka memberikan uang dengan bahasa buat transport lah atau buat ganti ongkos libur kerja lah, baik itu uangnya sendiri maupun uangnya dari botoh (donatur). Kami menilai hal ini terjadi dikarenakan sudah menjadi tradisi, serta dianggap sebuah kelaziman.

Meskipun modalnya bukan dari calon kepala desa sendiri namun dari orang lain misalnya maka suatu saat yang memberikan atau meminjamkan modal itu bisa menjadi penghalang untuk membangun desa yang baik, pemodal akan mengkooptasi kepala desa yang sekiranya program desa tidak menguntungkan pihak pemodal.

Masyarakat sebagai pemilih dan calon kepala desa sebagai yang dipilih sama sama berperan untuk disalahkan. Perlu adanya perubahan mindset secara sporadis, pola pikirnya harus dirubah mustinya keduanya (pemilih dan yang dipilih) harus berani berkomitmen untuk mengatakan tidak pada money politik, sehingga keinginan berdemokrasi yang bersih bisa diwujudkan bukan hanya lips service belaka.

Idealnya untuk menjadi calon kepala desa  harusnya punya modal utama yaitu kejujuran, berakhlak yang baik, mampu berkomunikasi, memahami managemen kepemimpinan, punya karakter building, mau berjuang dan berkorban, tidak hanya mengandalkan modal financial, sehingga harapan menjadikan desa lebih makmur bisa dicapai.

Hal itu bisa di ilustrasikan bahwa saat ini banyak orang berkoar anti money politik, bersihkan koruptor, perangi korupsi, hindari KKN itu hal yang bulshit dan hanya retorika belaka, harus nya ungkapan seperti itu  harus dilandasi yang kuat, nyatakan di depan khalayak masyarakat disertai komitmen yang kongkrit

Kami berharap semua komponen yang terlibat dalam pilkades ikut berpartisipasi mendukung Pilkades bersih dengan cara ;

1. Masyarakat sebagai pemilih harus menolak pemberian dalam bentuk apapun baik uang atau barang dari cakades (calon kepala desa).

2. Cakades sebagai yang dipilih harus berjanji dengan lisannya dihadapan masyarakat tidak akan memberikan uang atau barang kepada pemilih baik dengan uangnya sendiri maupun dari uang orang lain (botoh/pemodal), serta berjanji jika terpilih sebagai kepala desa akan amanah serta akan berjuang dan berkorban demi masyarakat.

3. Panitia sebagai penyelenggara pilkades  harus berrjanji akan amanah dan fair tidak memihak cakades siapapun.

4. Camat dan Bupati sebagai atasan pun juga harus berjanji tidak akan mengkondisikan calon tertentu dengan kekuasaan yang mereka miliki.

Dengan demikian insyaAllah tradisi dan budaya money politik mampu dikikis sehingga birokrasi yang bersih akan bisa terwujud, masyarakat semakin sejahtera karena memiliki kepala desa yang bersih dan amanah, kedepannya mampu memberikan motivasi serta contoh untuk pemilihan pemilihan lainnya seperti Pilbub, Pilgub, Pileg dan Pilpres yang bersih tanpa politik uang sehingga konsep baldatun thoyyibatun warobbun ghofur negara yang gemah ripah lohjinawi bisa nyata adanya, amin.

Kalau tidak dimulai hari ini kapan lagi..!!?


* Pegiat di Arrahmah Center Jombang, tinggal di wilayah Kudu Kombang



#Artikel ini sudah pernah terbit di media Jurnal Jatim, link; https://www.jurnaljatim.com/2019/08/pilkades-bersih-sebuah-harapan-atau-sekedar-lips-service/

Kamis, 22 Agustus 2019

HUKUM HEWAN QURBAN DITEMBAK

Oleh : Ustadz Rojim RA

Saat lailatul jtima'  pengajian rutin Ranting NU Candimulyo edisi 86 di Musola Al Arsy, Sidobayan, Kamis (15/8/2019), ada jamaah yang tanya. Bagaimana hukum hewan kurban yang ngamuk sehingga harus ditembak dulu baru disembelih?

 Wakil Rois Syuriah PCNU Jombang, KH M Soleh, menjawab, syarat hewan kurban tak boleh cacat.

Ketika hewan kurban yang mau disembelih dijatuhkan. Pas menjatuhkannya sampai menyebabkan cacat, maka tidak sah sebagai kurban. "Harus hati-hati. Kalau menjatuhkan jangan sampai mengakibatkan cacat," ucapnya.

Tembakan tadi juga demikian. "Kalau mengakibatkan cacat, tidak sah sebagai kurban."

Konsekuensinya, kalau itu kurban wajib karena nadzar, maka harus diulang tahun depan.

Kiai Soleh menggarisbawahi, tak boleh cacat ini syarat hewan kurban. Kalau untuk halalnya daging, hewan yang ditembak lalu disembelih tadi tetep halal. "Dagingnya dibuat sedekah juga tetap boleh," tegasnya.

Mugi Allah paring kita saget qurban setiap tahun.

Monggo rawuh lailatul ijtima pengajian rutin Ranting NU Candimulyo edisi 87 di Masjid Ar Rohman Candi Indah, Kamis (22/8/2019).

PRIHAL KEJUMUDAN DAN STUDI ISLAM


Oleh Aguk Irawan MN

Akhir-akhir ini situasi sosial benar-benar kurang kondusif. Seorang ustad dianggap telah ”melukai” jemaat Gereja. Begitu sebaliknya, seorang Pendeta dianggap telah ”melukai” jamaah Masjid. Lalu di Medsos, orang perang pasal hukum penodaan agama dan kata-kata kebencian. Tetapi, lebih dari itu, belum lupa ingatan kita, akan berita kekerasan, bahkan terjadi  sesama saudara ”muslim.”Salah satunya, sebutlah pembakaran sebuah pesantren di Sampang oleh sekelompok massa-Islam, yang kabarnya, pesantren itu dibakar hanya lantaran disinyalir mengikuti ajaran Syiah.

Bahkan, jauh sebelum itu, berita kekerasan sudah terlampau biasa ketika dialamatkan pada sekelompok pengikut ajaran Ahmadiyah. Sungguh —berita kekerasan demi kekerasan seperti itu lenyap begitu saja dari perhatian saya, tetapi setelah merenung, kami menemukan sejumlah kata kunci dari karakter pemikiran filsafat kontemporer yang barangkali bisa sebagai pil pahit atas situasi ini, seperti adanya istilah; 'defecit of truth', 'assertion', 'habit of mind', ' method of tenacity', 'inquiry-investigation'.

Istilah-istilah seperti itu bisa menghadang kejadian ganjil itu. Sayup-sayup saya merasa seperti terkena sabetan sebuah pisau yang tajam, kemudian berdarah dan melukai dada saya. Sambil terkapar saya berpikir; rasanya ada yang tertikam dari cara kebegaramaan kita. Ada yang hendak mencoba merebut 'makna' kebenaran hanya menjadi milik kelompoknya saja. Dengan cara memaksa, apapun itu  resikonya. Ada suatu lobang yang menganga dan belum coba ditambal dengan rapat oleh bangku pendidikan-Islam kita.

Kini, terlanjur menjadi sebuah mimpi yang paling buruk; kejumudan berpikir, kejumudan bertindak, kejumudan beragama, dan kejumudan lainnya, sehingga orang jadi enggan, bahkan mungkin 'tak sudi' menerima 'the others' sebagai realitas dari hidup kita yang beraneka.Anehnya, kebanyakan dari kita, cenderung membiarkan peristiwa demi peristiwa yang memilukan dan nyeri itu terus terjadi. Sebagai hal yang terlalu lumrah ada di depan mata kita.

Bahkan, ada yang menganggap kekerasan seperti itu sebagai jalan menuju kebaikan dan kebenaran atas nama Tuhan. Sungguh, di tengah majemuknya filsafat postmodernisme, yang telah mengangkat dunia Barat (Amerika) telah setapak lebih maju dan beradab. Mayoritas dari kita masih nampak begitu limbung dan linglung, karena diam-diam telah menyimpan teologi kekerasan sebagai daya pikat yang magis untuk Islam kita. Islam, yang sebanarnya adalah rahmatan lil alamin.

Ada yang mengatakan, cara kekerasan seperti tersebut sengaja dipilih, adalah demi suatu amar ma'ruf dan nahi mungkar. Ada yang mengatakan, demi keberlangsungan din al-hanif. Ada yang mengatakan, demi terlindunginya umat dari ajaran sesat. Ada lagi yang mengatakan sebagai 'jihad' melawan kebatilan. Karena itu, mesti harus dilakukan dan wajib peduli. Lihatlah betapa banyak tangan yang dikepalkan, jari telunjuk yang diacung-acungkan ke langit, dan bibir mereka bergerak dengan menyebut-nyebut kalimat Jalalah; Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Sungguh, andaikan mereka membaca dan tahu apa saran Lieven Boeve dalam The Particularity of Relegious Truth Claims, atau menyimak dengan baik teori inevestigasi-kebenaran model Charles Peirce dalam How I Make our Ideas Clear atau membedah pikiran antropologi-agama Talal As'ad dalam Geneologies of Relegion. Mungkin mereka ini akan tertohok dan malu. Karena disitulah mayoritas dari kita seperti sedang bercermin dan melihat rupa buruk kita: 'intoleransi', sebagaimana dahulu kebanyakan orang Barat-Kristiani hidup di abad Medieval.

Contoh intoleransi itu, dalam bahasa Charles Peirce, punya alasannya sendiri, yaitu karena mereka malas melakukan prosedur ilmiah (rasional) dalam segala tindakan dan keyakinannya. Peirce mengklasifikasikan mereka sebagai orang yang cenderung jumud atau ‘a priori’, padahal sebagai metode, ‘a priori’ dituntut menghadirkan rasionalitas (Milton K. Munitz, Contemporery Analitic Philosopy. New York; Macmilan Publishing Co. Inc. 1981, hal. 40).

 Sementara Talal As’ad, sebagai antropolog-agama, metengarai; bahwa penolakan terhadap kebenaran di luar dirinya itu karena mereka tidak mencoba membuka diri untuk dinamis dan terlibat di luar dunianya, jadi formulasi pemaknaan terhadap kebenaran yang sangat subyektif dan fanatik itu harus diatasi dengan merunut ke agar geniologi-antropoliginya. Karena menurutnya, pemaknaan agama sejatinya bersifat ’spatio-temporal. (Talal As’ad, Geneologies of Relegion (London;The John Hopkins University Press, 1993, hal. 53)

Selain dialektika antropologi model Talal. Lieven Boeve mencoba mencari solusi dari ruang buntu itu. Teori ’deficit of truth’ ia gunakan untuk memeriksa kebenaran-kebenaran partikular yang terdapat pada kelompok pemeluk agama-agama. Menurutnya, setiap agama menyimpan kebenaran yang partikular, dan kebenaran universal terdapat pada kesatu-paduan (contingent) dari masing-masing kebenaran tersebut. Apabila satu agama menganggap dirinya sendiri sebagai pemegang kebenaran secara mutlak, maka saat itulah defisit kebenaran terjadi.

Menurutnya lagi, tidak boleh tidak, sejarah kebenaran teologis harus selalu diperiksa ulang dan dilakukan rekontektualisasi (recontextualization), hingga betul-betul menjadi lebih terpercaya. (Lieven Boeve, “The Particularity of Religious Truth Claims: How to Deal With It In A So-Called Post-Modern Context”, dalam Truth: Interdisciplinary Dialogues In A Pluralist Age, editor. Christine Helmer dan Kristin De Troyer, Peeters: Leuven-Paris-Dudley, 2003, hal.193).

Barangkali analisa ini bisa kita gunakan pada ranah yang lebih mikro, yaitu kelompok pemeluk Islam sendiri. Sebab kenyataannya, terma kafir, murtad, sesat dan justifikasi negatif semacamnya masih sering mendengung di telinga kita. Di era postmo ini!

Benih-Benih Kejumudan

Peristiwanya masih hangat. Belum terlalu lama dari momentum tahun baru. Sehabis shalat Isya, seperti biasanya tiap Malam Kamis, saya terkadang menyimak pengajian dari seorang Kiai. Beliau membaca kitab Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadhus Shalihin, karangan Syaikh Salim bin Ied Al Hilali. Setelah bab salam selesai dibacakan, salah satu jama’ah ada yang memberanikan diri bertanya; Kiai, bagaimana hukumnya menjawab salam dari saudara kita yang non-muslim? Kiai itu tanpa sedikitpun ragu menjawab; haram hukumnya! Katakan pada mereka, seperti inilah ajaran Islam kami!.

Dalam hati, benarkah begitu Kiai? Saya kemudian meraba sendiri jawabnya: Sang kiyai menjawab seperti itu, karena ia alpa membaca antropologi dan sejarah. Dari sinilah saya seperti disadarkan pada Charles Pierce, Talal As’ad, Paul Tillich, Habermas dan tentu saja Wittgenstein, bahwa pembacaan teks tak bisa dibiarkan sendirian, sebab disana ada peran lain yang tak kalah pentingnya; pergulatan bahasa, ruang, simbol, sejarah dan antropologi.

Cerita seperti ini, tentu bisa ditarik lebih panjang. Misalnya kita kaitkan pada prosedur pengajaran ulumuddin (agama Islam) di hampir semua pesantren, perguruan Tinggi Islam, baik swasta maupun negeri, seperti IAIN/UIN dan pengajian-pengajian umum. Tentu cerita itu tak akan jauh berbeda dari temuan saya. Betapa mirisnya! Bangku pendidikan Islam kita ternyata lebih gemar melindungi diri dari dinimika luar, dan bercokol hanya di wilayah nalar apriori agama an-sich (ulumuddin), dengan tanpa mempedulikan ilmu-ilmu modern yang telah memberi sumbangan pada kemanusian dan peradaban.

Sisi lain, ranah studi Islam (dirasah Islamiyah) secara kritis dan komperhensif hampir-hampir saja tak tersentuh. Padahal, bila kita gunakan teori investigasi-sejarah Charles Peirce misalnya, kita akan dapati betapa berlimpahnya kontak baik antara muslim dan non muslim di zaman Nabi. Rasulallah bukanlah seorang yang hidup di lingkungan terkengkang dan penuh nafsu fanatisme. Tapi ia seorang toleran sejati. Sejak belia ia sudah pergi ke tanah Syam, kemudian kelak setelah dewasa dan jadi pemimpin, ia mengadakan persahabatan dengan kerajaan Roma dan Negus.

Kalau begitu apa benar salam terhadap non muslim hukumnya adalah haram? Disinilah letak urgen dan tak bisa ditinggalkannya pendekatan sosial-antropologi agama itu. Sekiranya tanpa itu, benih-benih kejumudan akan beranak-pinak menjadi teologi kekerasan? Dan sekarang hasilnya sudah kita petik bersama. Bahkan berlimpah pula.

Mengenal antropologi agama berarti mengenal dan melihat proses dengan jelas tarik-menarik kepentingan dan pemaknaan teks, antara hasrat agama sebagai realitas (teks) atau hasrat pemikiran agama, yang cenderung memihak pada suatu konteks dan logika zamannya. Antropologi akan metengahkan mana sesunggunya realitas atau teks dan mana pengaruh dari luar? Sehingga cerita kejumudan demi kejemudan berangsur pudar dan tercerahkan.

Kerja intelektual seperti itulah yang sudah dilakukan oleh Khalil Abdul Karim, Nashr Hamid Abu Zaid, Mohammed Arkoun, Fattima Mernisi, Abdullahi Ahmed An-Naim, Sayyid Qumni dan Said Al-Asymawi dalam memahami teks dan hukum Islam. Cendekiawan kondang Hasan Hanafi, menyebut mereka sebagai orang-orang yang tercerahkan oleh peradaban Barat (Hassan Hanafi, Dirâsât Islâmiyyah, (Kairo: Maktabah al-Anglo al-Mishriyyah, tt, hal. 275).

Karena, problem besar di abad ini yang masih sering mencuat di dunia Islam adalah persoalan identifikasi, antara orisinalitas dan modernitas (al-Ashâlah wa al-Mu’âshirah). Misalnya pada diskursus “demokrasi”, persoalan yang sering mencuat adalah pertanyaan seputar, apakah ia benih dari tradisi Islam (Arab) atau dari tradisi Barat yang sekuler, (repesentatif dari modernitas)? Masing-masing punya argumentasi sendiri. Bagi Hasan Hanafi, wacana revitalisasi agama (al-Ishlâh al-Dînî) yang berkembang sekarang ini, secara mayoritas masih saja bersifat jumud, dan masih mengarah mencari apa yang orang sebut dengan ‘orisinil’ itu.

Karena itu Hasan Hanafi menyatakan, diskursus ’orisinalitas’ dengan meninggalkan modernitas menurutnya adalah suatu kemustahilan, begitu sebaliknya. Karenanya ia mengkritik kelompok fundamentalisme yang cenderung mencari ”orisinil” dengan mengabaikan sesuatu yang baru, atau datang kemudian (posmodernitas). Menurutnya sikap seperti itu cenderung mengabaikan “realitas”, dan terlampau apriori serta bangga dengan kegemilangan masa lampau (Fakhr bi al-Târikh al-Qadîm). Sebaliknya, bagi pemuja modernitas, ia juga mengkritik, kecenderungan seperti itu berlebihan, sebab bagaimanapun, babak baru (al-Judzuriyah al-Mubkirah) tak akan lahir tanpa masa lalu ”orisinalitas.” (Hassan Hanafi, Fî Fikrinâ al-Mu’âshir, (Beirut: Dar al-Tanwir, 1981, hal. 49-50)

Bagi yang jumud (fundamentalisme), ‘yang orisinil’ akan terus sebagaimana bentuk asal, dan tak boleh berubah, bahkan ‘esensi’nya pun tak bisa fleksibel. Karenanya, respon mereka terhadap modernitas sangat negatif. Namun, di tengah kubu itu ada yang memahami bahwa ‘orisinil’ itu ada, tetapi ia boleh berubah,bahkan harus berubah, agar tak menghalangi –secara interaktif—dengan modernitas (Hassan Hanafi, Fî Fikrinâ al-Mu’âshir, (Beirut: Dar al-Tanwir, 1981 hal. 49-50).

Salah satu tokoh yang berada di kubu ini adalah Khalil Abdul karim. Misalnya, konsep syura yang ada dalam dunia Islam (Arab) dengan demokrasi-ala Barat, adalah suatu contoh kongkrit apa yang disebut orang dengan kontak peradaban simbiosis-mutualisme antara ’orisinilitas’ (Arab/Islam) dan ’modernitas’ (Barat).

Khalil menyebut konsep syura merupakan sistem masyarakat madani (civil society), karena berkaitan erat dengan tatanan perpolitikan suatu bangsa, yang kelak terkait erat dengan demokrasi. Ia juga termasuk persoalan-persoalan dunia sebagaimana interaksi jual-beli (bai’), persewaan, akad muzara’ah, bercocok tanam, dan akad musyaqqah, serta persoalan lain. Dengan kata lain, konsep syura ini merupakan sistem masyarakat madani yang didasarkan pada perundang-undangan Islam (syari’ah Islmiyyah), baik dari teks al-Qur’an maupun hadits.( Khalil Abdul Karim, Al-Islam baina ad-Daulah Diniyah wa al-Madaniyah., hal. 133). Khalil, adalah salah satu ulama Islam yang bisa menjelaskan itu dengan prosedural ilmiah, karena ia tahu bagaimana memerlakukan teks dan konteks itu. Itulah hasil perjumpaannya dengan metedologi Barat (Amerika).

Salah satu karya monumentalnya adalah buku: "Judzur al-Tarikhiyah li al Syari’ah al-Islamiyyah” (Akar Sejarah Syari’ah Islam). Dalam buku ini, Khalil mencerminkan sikapnya terhadap tiga hal sekaligus, yaitu keyakinannya, pandangannya dan rekontruksi pemikiran terhadap fenomena kekinian dan terhadap masa lalu. Berangkat dari keyakinannya ia melihat fenomena kekinian yang berkembang di kalangan masyarakat muslim dalam melihat Islam. Sebab adanya kecenderungan dari sebagian besar masyarakat tersebut untuk mengidolakan masa lampau, terutama masa kenabian dan kekhalifaan pertama, maka ia menguji dan menginvestigasi secara antroplogogis masyarakat pada masa tersebut. Khalil tidak hanya berhenti di era itu, akan tetapi juga berusaha membuktikan bahwa era tersebut pada dasarnya merupakan perpanjangan dari  era sebelumnya.

Sebagaimana juga yang tertuang dalam bukunya:“Al-Usus al-Fikriyah li Islam Yasar” (Dasar Manifesto Kiri Islam), Khalil juga punya beberapa prinsip yang dipegangnya. Pertama: Historisitas teks-teks suci, semua orang yang mengucapkan dua kalimat syahdat adalah sebagai Muslim, meskipun misalnya dalam keadaan terpaksa. Kedua, Kekhalifaan merupakan jabatan yang bersifat sipil-politik, semua orang selain Nabi banyak kekhilafannya. Sehinga dapat dikritik, karena mereka hanya manusia biasa. Islam agama inklusiv, dan agama merupakan revolusi terhadap keyakinan-keyakinan yang keliru, situasi-situasi sosial yang rusak dan eksploitatif.

Perinsip-perinsipnya tidak hanya berseberangan dengan kelompok-kelompok fundamentalis Mesir— yang berkeinginan menjadikan Mesir sebagai Negara Islam (dengan sistim kekhalifahan)— akan tetapi, juga berseberangan dengan kelompok ortodoks yang sangat dominan di negeri itu. Melalui prinsip-prinsip ini ia mencoba menunjukkan kebenaran keyakinanya dan kekeliruan kelompok-kelompok tersebut.  Upaya tersebut ia lakukan dengan jalan mengkaji era awal, yaitu kenabian, dan kekhilafan pertama di satu sisi dan era sebelum kenabian di sisi lain.

Tetapi apa yang telah diupayakan oleh Khalil, ternyata oleh pihak lain, dimentahkan. Bahkan ia justru dituding sebagai anti-Islam dan dihukumi halal darahnya. Lagi, betapa kejumudan masih melingkupi dunia islam, dan masih begitu kokohnya. Nyaris belum begitu tersentuh. Namun orang seperti Khalil sadar, perjuangan memang terasa getir dan payah. Kasus yang serupa, bahkan lebih, telah berjibun di depan mata kita, seperti beberapa fatwa yang sangat “aneh” dari MUI, mengenai beberapa kasus sosial-keagamaan,, juga datang dari Menteri Agama dan Lembaga Islam lainnya.Untuk di negeri ini, apakah mungkin hari masih terlalu pagi? (Wallahu’alam bishawab).

*Penulis tinggal di Jogja
Agustus 2019.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-74 di Karangasem Tambakberas Jombang


**
Allohuakbar....!
Merdeka....!
Merdeka....!
Merdeka....!
Semangat inilah yang kami rasakan ketika upacara untuk memperingati hari kemerdekaan dimulai.
Ketika di banyak tempat di tanah air peminat upacara berkurang karena berbagai alasan, kami akan tetap melakukan _'ritual'_ tahunan ini, karena sesungguhnya inilah yang menghubungkan kami yang hidup sekarang dengan para pendahulu, yang merebut kemerdekaan dengan yang mengemban amanah mengisi kemerdekaan. Mereka yang telah mengorbankan jiwa raga dan hartanya demi kehidupan yang sekarang kita nikmati. 
Sebagai orang kampung, kami merasa bahwa upacara bendera bukan monopoli intansi atau organisai, karna bagi kami meski tanpa kostum resmi dan keharusan berbaris rapi, upacara bendera tetap harus _dilakoni_, karna ini harus menjadi budaya yang terus dilestarikan sebagai bagian kecil dari proses mewariskan jiwa nasionalisme bagi setiap generasi hingga anak cucu kelak.
Nasionalisme tidak hanya dimulai dari ceremonial yang tertata rapi, Nasionalisme bisa dimulai dari membangkitkan jiwa gotongroyong, guyub rukun dalam rangka membangun dusun dan kampung, serta semangat untuk menyiapkan sumberdaya manusia demi masa depan Indonesia lebih baik!
Karena kami semua cinta Indonesia!
Mengusung tema peringatan hari kemerdekaan RI ke-74 tahun ini, *'Menyiapkan SDM Kampung yang Unggul untuk Indonesia Maju'* kami warga Karangasem Tambakberas Gg. IV bersama Pemuda Pemudi TuWaGaPat, Para Santri, Ibu-ibu dan Bapak-bapak, Arek Cilik-cilik, Bakul Keliling dan Juragan Warung Kopi, Pak Guru dan Ustad, Tukang Kayu dan Kuli Batu, Kiyai dan Ibu Nyai bersemangat untuk mewujudkan Indonesia Maju yang dimulai dari dusun kami melalui edukasi, inovasi, karya dan cita-cita!
Kampung kami telah melahirkan  Pahlawan Nasional, KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Wahab Hasbulloh, 2 tokoh sentral yang menjadi arsitektur Indonesia, ajaran-ajaran nasionalisme yang beliau wariskan bagi kampung kami masih terjaga lestari di dalam jiwa segenap warga. Sebagai penerus sekaligus "Anak Ideologis" beliau, kami memikul beban dan tanggungjawab untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi warga kampung kami.
Kami harus juga membuktikan bahwa kami mampu menghasilkan berbagai karya, meningkatkan perekonomian warga, menciptakan lingkungan bersih, hijau, nyaman, aman dan berkelanjutan. Dan yang terpenting adalah, Kampung kami juga harus selalu menghadirkan kebahagiaan bagi warganya, serta senyum dan kehangatan bagi siapapun yang datang.
Inilah perjuangan. Inilah makna kemerdekaan. Inilah yang kami warisi dan wariskan kemudian, hingga terwujud cita-cita bangsa yang berdaulat, bermartabat dan unggul dimata dunia.

Karangasem, 17 Agustus 2019_ 
SUHAIB
Tonggone Mbahyai Wahab Chasbuullahllah.

Selasa, 06 Agustus 2019

MUHASABAH ANSOR

Oleh : Miftahus Saidin (Kader Ansor PAC Jogoroto) 

JOMBANG. bherenk.com Semangat itu fluktuatif, naik turun laksana spidometer. Begitu juga dalam melakukan dan melaksanakan sesuatu hal. Perjalan panjang ini harus terus dijalankan lintas generasi agar semangat ini terus terwariskan dan terjaga.

Satu demi satu kader dan Sahabat itu mulai menghilang dan meninggalkan kerja kerja organisasi dengan berbagai alasan yang mendasarinya. Praktis kerja kerja
organisasi yang biasanya berjalan sedikit tersendat kinerjanya.

Kader kader diakar bawah (ranting) sebagai basis gerakan sekaligus  garda terdepan juga mulai meninggalkan sahabat sahabatnya yang lain.
Semoga kondisi ini segera disikapi dan diambilkan langkah taktis dan praktis dari sahabat sahabat yang berwenang.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan salahkan keadaan jika kader kader idaman kita dengan ikhlas akan memauqufkan diri.

Proses kaderisasi dan reorganisasi ditubuh suatu organisasi mutlak harus dilakukan demi menjaga semangat yang diwariskan para pendahulu. www.bherenk.com

###
Midanutta'lim, 6 Dzulhijjah 1440
Muhasabah
# 2 hari sedonipun Syaikhona
# 11 hari pasca Konferwil Jatim
# 18 bulan pasca Konferensi PC GP Ansor Jombang