Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2019

POLITIK UANG DALAM PILKADES, SIAPA YANG SALAH?

Gambar
Oleh : AH. Hamdah* Gelaran Pilkades serentak kabupaten Jombang sudah pada tahap pendaftaran calon kepala desa, hiruk pikuknya sudah mewarnai semua desa. Pada 04 Nopember 2019 nanti sebanyak 287 desa akan melaksanakan hajatan 6 tahunan ini. Pilkades merupakan salah satu bentuk pesta demokrasi di tingkat paling bawah. Pemilu tingkat desa ini merupakan ajang kompetisi politik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Pilkades terasa lebih spesifik dari pemilu-pemilu di tingkat atasnya sebab kedekatan emosional dan keterkaitan secara langsung antara pemilih dan para calon. Sehingga, suhu politik  dan gesekannya sering kali lebih terasa daripada saat pemilu pemilu lainnya. Pilkades merupakan bagian dari proses kegiatan politik untuk memperkuat partisipasi masyarakat dengan harapkan akan terjadi perubahan yang signifikan di tingkat desa. Tantangan mewujudkan demokrasi desa jelas bukan main-main. Pasalnya dengan pemberian dana desa sebesar Rp 1 miliar bahkan bisa lebih per

HUKUM HEWAN QURBAN DITEMBAK

Gambar
Oleh : Ustadz Rojim RA Saat lailatul jtima'  pengajian rutin Ranting NU Candimulyo edisi 86 di Musola Al Arsy, Sidobayan, Kamis (15/8/2019), ada jamaah yang tanya. Bagaimana hukum hewan kurban yang ngamuk sehingga harus ditembak dulu baru disembelih?  Wakil Rois Syuriah PCNU Jombang, KH M Soleh, menjawab, syarat hewan kurban tak boleh cacat. Ketika hewan kurban yang mau disembelih dijatuhkan. Pas menjatuhkannya sampai menyebabkan cacat, maka tidak sah sebagai kurban. "Harus hati-hati. Kalau menjatuhkan jangan sampai mengakibatkan cacat," ucapnya. Tembakan tadi juga demikian. "Kalau mengakibatkan cacat, tidak sah sebagai kurban." Konsekuensinya, kalau itu kurban wajib karena nadzar, maka harus diulang tahun depan. Kiai Soleh menggarisbawahi, tak boleh cacat ini syarat hewan kurban. Kalau untuk halalnya daging, hewan yang ditembak lalu disembelih tadi tetep halal. "Dagingnya dibuat sedekah juga tetap boleh," tegasnya. Mugi Allah paring ki

PRIHAL KEJUMUDAN DAN STUDI ISLAM

Gambar
Oleh Aguk Irawan MN Akhir-akhir ini situasi sosial benar-benar kurang kondusif. Seorang ustad dianggap telah ”melukai” jemaat Gereja. Begitu sebaliknya, seorang Pendeta dianggap telah ”melukai” jamaah Masjid. Lalu di Medsos, orang perang pasal hukum penodaan agama dan kata-kata kebencian. Tetapi, lebih dari itu, belum lupa ingatan kita, akan berita kekerasan, bahkan terjadi  sesama saudara ”muslim.”Salah satunya, sebutlah pembakaran sebuah pesantren di Sampang oleh sekelompok massa-Islam, yang kabarnya, pesantren itu dibakar hanya lantaran disinyalir mengikuti ajaran Syiah. Bahkan, jauh sebelum itu, berita kekerasan sudah terlampau biasa ketika dialamatkan pada sekelompok pengikut ajaran Ahmadiyah. Sungguh —berita kekerasan demi kekerasan seperti itu lenyap begitu saja dari perhatian saya, tetapi setelah merenung, kami menemukan sejumlah kata kunci dari karakter pemikiran filsafat kontemporer yang barangkali bisa sebagai pil pahit atas situasi ini, seperti adanya istilah; 'd

Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-74 di Karangasem Tambakberas Jombang

Gambar
* * Allohuakbar....! Merdeka....! Merdeka....! Merdeka....! Semangat inilah yang kami rasakan ketika upacara untuk memperingati hari kemerdekaan dimulai. Ketika di banyak tempat di tanah air peminat upacara berkurang karena berbagai alasan, kami akan tetap melakukan _ 'ritual' _ tahunan ini, karena sesungguhnya inilah yang menghubungkan kami yang hidup sekarang dengan para pendahulu, yang merebut kemerdekaan dengan yang mengemban amanah mengisi kemerdekaan. Mereka yang telah mengorbankan jiwa raga dan hartanya demi kehidupan yang sekarang kita nikmati.  Sebagai orang kampung, kami merasa bahwa upacara bendera bukan monopoli intansi atau organisai, karna bagi kami meski tanpa kostum resmi dan keharusan berbaris rapi, upacara bendera tetap harus _ dilakoni _ , karna ini harus menjadi budaya yang terus dilestarikan sebagai bagian kecil dari proses mewariskan jiwa nasionalisme bagi setiap generasi hingga anak cucu kelak. Nasionalisme tidak hanya dimulai dari cerem

MUHASABAH ANSOR

Gambar
Oleh : Miftahus Saidin (Kader Ansor PAC Jogoroto)  JOMBANG. bherenk.com Semangat itu fluktuatif, naik turun laksana spidometer. Begitu juga dalam melakukan dan melaksanakan sesuatu hal. Perjalan panjang ini harus terus dijalankan lintas generasi agar semangat ini terus terwariskan dan terjaga. Satu demi satu kader dan Sahabat itu mulai menghilang dan meninggalkan kerja kerja organisasi dengan berbagai alasan yang mendasarinya. Praktis kerja kerja organisasi yang biasanya berjalan sedikit tersendat kinerjanya. Kader kader diakar bawah (ranting) sebagai basis gerakan sekaligus  garda terdepan juga mulai meninggalkan sahabat sahabatnya yang lain. Semoga kondisi ini segera disikapi dan diambilkan langkah taktis dan praktis dari sahabat sahabat yang berwenang. Jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan salahkan keadaan jika kader kader idaman kita dengan ikhlas akan memauqufkan diri. Proses kaderisasi dan reorganisasi ditubuh suatu organisasi mutlak harus dilakukan demi menjag